Jumat Agung diperingati sebagai hari ketika pengorbanan menjadi pusat cerita. Sebuah momen dalam tradisi Kristen yang tidak dirayakan dengan kemeriahan, melainkan dengan keheningan. Tidak ada euforia, tidak ada perayaan besar, yang ada justru ruang untuk berhenti, mengingat dan memahami makna dari sebuah kehilangan yang diyakini membawa harapan.
Dalam keheningannya, Jumat Agung menghadirkan suasana yang berbeda dari hari-hari lain. Lebih lambat, lebih dalam dan lebih reflektif. Ia bukan hanya tentang peristiwa yang diperingati, tetapi juga tentang bagaimana manusia diajak untuk memberi ruang pada perasaan yang sering dihindari: menerima, merelakan, dan memahami bahwa tidak semua hal datang dengan jawaban yang instan.
HENING SEBAGAI RUANG UNTUK MEMPROSES ENERGI
Melansir dari health.harvard.edu, dalam psikologi, keheningan bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Justru sebaliknya. Hening memberi ruang bagi pikiran dan emosi untuk diproses tanpa distraksi.
Di tengah keseharian yang penuh suara dan tuntutan, banyak emosi yang akhirnya menumpuk: lelah, sedih, bingung dan berbagai emosi lainnya. Keheningan seperti yang hadir pada Jumat Agung membuka ruang untuk menghadapi semua itu secara perlahan, tanpa harus langsung mencari solusi.
(BACA JUGA: Bukan Menikah, Standar Kebahagiaan Millennials Ternyata Hanya Soal Hidup Cukup)
BERHENTI SEBAGAI BAGIAN DARI REGULASI EMOSI
Secara psikologis, kemampuan untuk berhenti sejenak atau pause adalah bagian penting dari regulasi emosi. Saat seseorang memberi jarak dari stimulus (pekerjaan, konflik, overthinking), tubuh dan pikiran punya kesempatan untuk kembali stabil.
Jumat Agung, dengan ritmenya yang lebih lambat dan sunyi, secara tidak langsung menciptakan kondisi itu: jeda dari kebisingan, dari keharusan untuk terus produktif, dari dorongan untuk selalu “baik-baik saja”.
MENERIMA HAL YANG TIDAK BISA DIKONTROL
Salah satu konsep penting dalam kesehatan mental adalah acceptance. Yakni, menerima hal-hal yang tidak bisa diubah tanpa terus-menerus melawan atau menyangkalnya.
Jumat Agung identik dengan momen kehilangan dan pengorbanan yang dalam refleksinya, mengajak seseorang untuk duduk dengan perasaan tersebut, bukan menghindarinya. Dalam konteks psikologis, ini sejalan dengan proses menerima emosi sulit sebagai bagian dari pengalaman manusia.
KEHENINGAN MEMBANTU RECONNECT DENGAN DIRI SENDIRI
Tanpa distraksi eksternal, seseorang lebih mudah kembali terhubung dengan dirinya sendiri. Seperti apa yang sebenarnya dirasakan, dipikirkan, atau bahkan dihindari.
Keheningan seperti yang identik dengan Jumat Agung menciptakan ruang itu? Bukan untuk mencari jawaban besar, tapi untuk mendengar hal-hal kecil yang sering tertutup oleh kebisingan sehari-hari.
(Kirana Putri, foto: freepik.com/jcomp)
