‘The Devil Wears Prada 2’ Terancam Diboikot di Cina, Apa Penyebabnya?

Film The Devil Wears Prada 2 menghadapi ancaman boikot dari netizen Cina, hanya beberapa hari sebelum tanggal rilisnya.

Hampir dua dekade setelah film pertamanya menjadi fenomena budaya global, The Devil Wears Prada akhirnya mendapatkan sekuelnya. The Devil Wears Prada 2 dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat pada 1 Mei 2026 bertepatan dengan libur Labour Day yang biasanya menjadi momen box office yang kuat.

Film ini kembali menggandeng nama-nama besar yang sudah ada sejak film pertamanya. Mulai dari Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt dan Stanley Tucci

Selain itu bergabung pula wajah-wajah baru seperti Kenneth Branagh, Simone Ashley, Lucy Liu, Pauline Chalamet dan Lady Gaga yang juga menyumbangkan lagu original berjudul “Runway” bersama Doechii.

Plotnya berpusat pada Miranda Priestly yang kini harus menghadapi ancaman penurunan industri media cetak, sambil bersaing dengan Emily Charlton, mantan asistennya yang kini menjadi eksekutif di sebuah brand mewah untuk memperebutkan pendapatan iklan.

Trailer pertamanya yang dirilis November 2025 mencetak rekor sebagai comedy trailer paling banyak ditonton dalam 15 tahun terakhir, dengan 181,5 juta penayangan dalam 24 jam.

Antusiasme global terasa nyata. Tapi di Cina, situasinya berubah arah setelah sebuah klip dari film ini beredar di media sosial.

AWAL MULA KONTROVERSI

Masalah bermula dari seorang karakter pendukung bernama Jin Chao yang digambarkan sebagai asisten dari Andrea Sachs, yang diperankan aktris Chinese-American Helen J. Shen. Setelah klip karakter ini beredar di media sosial Cina, reaksi keras langsung bermunculan.

Banyak netizen merasa nama Jin Chao terdengar mirip dengan “ching chong”. Sebuah slur rasial yang sudah lama digunakan di Barat untuk mengejek orang-orang keturunan Cina. Nama itu kemudian juga beredar secara keliru sebagai “Chin Chou” di berbagai platform, sebuah variasi yang terdengar bahkan lebih dekat dengan slur tersebut.

Kritik tidak berhenti di sana. Karakter Jin Chao juga dianggap memperkuat stereotype negatif tentang orang Asia. Tampil sebagai sosok nerd berkacamata dan sempat membanggakan IPK tinggi serta latar belakang pendidikan dari Yale. Bagi banyak penonton Cina, penggambaran ini terasa seperti klise lama yang sudah terlalu sering mereka lihat di film-film Hollywood.

Seruan boikot pun menyebar cepat di forum dan media sosial Cina. Sejumlah pengguna mempertanyakan kenapa dari begitu banyak nama yang bisa dipilih, justru nama itulah yang digunakan untuk karakter tersebut. Hingga saat ini, pihak 20th Century Studios belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kontroversi ini.

(BACA JUGA: Trailer Pertama Sudah Dirilis, Ini Sinopsis Film ‘The Devil Wears Prada 2’)

MEMAHAMI APA ITU “CHING CHONG”

Bagi yang belum familiar, “ching chong” adalah salah satu slur rasial paling tua dan paling melukai yang pernah ditujukan kepada orang-orang keturunan Asia Timur khususnya Cina di dunia Barat.

Frasa ini bukan sekadar kata-kata tidak sopan. Ia adalah tiruan kasar dari bunyi bahasa Mandarin dan Kanton, yang digunakan untuk mengejek dan merendahkan orang-orang keturunan Cina sejak abad ke-19. Akar sejarahnya panjang dan kelam.

Pada akhir 1800-an, gelombang besar imigran Cina datang ke Amerika Serikat untuk bekerja di tambang emas dan membangun jalur kereta api. Mereka dieksploitasi, dibayar murah dan menjadi sasaran diskriminasi yang meluas.

Sentimen anti-Cina yang kuat pada era itu menciptakan iklim yang subur bagi lahirnya berbagai slur rasial termasuk “ching chong”, yang digunakan untuk mengolok-olok aksen dan bahasa para imigran tersebut.

Kondisi ini bahkan berujung pada lahirnya Chinese Exclusion Act pada 1882, sebuah undang-undang yang secara eksplisit melarang imigran Cina masuk ke Amerika.

Selama lebih dari satu abad, frasa ini terus digunakan dalam berbagai bentuk. Mulai dari nyanyian anak-anak di taman bermain, hingga komentar para tokoh publik. Pada 2002, bintang NBA Shaquille O’Neal menggunakan frasa ini saat berbicara tentang Yao Ming dan mendapat kecaman luas.

Pada 2011, seorang mahasiswi di UCLA merekam video dirinya mengucapkan “ching chong” dan videonya viral di seluruh dunia hingga memicu gelombang protes dari komunitas Asia-Amerika.

Itulah mengapa ketika nama karakter dalam film sekaliber The Devil Wears Prada 2 dianggap menyerupai frasa ini, reaksi yang muncul begitu cepat dan kuat. Bagi banyak orang Cina dan keturunan Asia, ini bukan sekadar soal nama. Ini soal sejarah panjang yang masih terasa sangat dekat.

DAMPAK YANG MUNGKIN TERJADI

Ancaman boikot ini datang di waktu yang tidak ideal. Film ini dijadwalkan tayang bertepatan dengan libur Labour Day Cina pada 1 hingga 5 Mei. Salah satu periode box office terpenting di negara dengan jumlah penonton bioskop terbesar di dunia.

Sebagai perbandingan, film pertama The Devil Wears Prada pada 2006 hanya meraup sekitar 2,4 juta dolar di Cina. Angka yang kecil untuk ukuran pasar tersebut. Dengan potensi boikot yang kini semakin menguat, sequel-nya berpotensi menghadapi tantangan serupa, atau bahkan lebih berat.

Media Hong Kong seperti Sing Tao Daily menyebut bahwa kontroversi ini bisa berdampak negatif pada reputasi dan performa komersial film di Cina. Sementara pihak studio masih belum memberikan respons apapun secara publik.

Satu hal yang jelas. Di era di mana setiap detail representasi dalam film bisa viral dalam hitungan jam, sensitivitas budaya bukan lagi sekadar pertimbangan etis. Tetapi sudah menjadi bagian dari strategi bisnis yang tidak bisa diabaikan.

(Kirana Putri, foto: gq-magazine.co.uk)

Share