Kenapa tamu pernikahan Korea terlihat seperti mau rapat kantor? Ini bukan soal menghormati, justru menghormati dengan cara yang berbeda.
Oktober 2024, sebuah foto viral di platform X. Jennie BLACKPINK hadir di pernikahan seorang teman mengenakan knit top hitam lengan pendek dipadukan celana hitam. Simpel, rapi, understated.
Di Korea, tidak ada yang mempermasalahkan. Tapi di luar Korea? Reaksi netizen internasional langsung meledak.
“Korean wedding culture is so insane, everybody looks like they’re going to the office,” tulis salah satu pengguna.
Yang lain berkomentar bahwa foto grup tamu pernikahan itu terlihat lebih seperti acara pemakaman.
Unggahan tersebut kemudian viral dengan jutaan tayangan, memantik perdebatan global tentang satu pertanyaan yang tampaknya sederhana: kenapa tamu pernikahan Korea berpakaian seperti itu?
Jawabannya ternyata jauh lebih dalam dari sekadar selera fashion.
MENGENAL HAGAEK LOOK
Di Korea, ada satu konsep yang mengatur seluruh pendekatan berpakaian ke pernikahan: hagaek look (하객룩). Secara harfiah artinya “tampilan tamu” dan dress code ini mensyaratkan pakaian semi-formal hingga formal dengan satu prinsip utama: tampil rapi dan terhormat tanpa mengalahkan pengantin.
Tapi ada satu nilai yang lebih mendasar lagi yang menopang hagaek look. Yakni danjeongham (단정함), yang berarti kerapian dan kepatutan. Dalam budaya Korea, hadir di pernikahan orang lain bukan soal menampilkan dirimu.
Ia adalah soal menghormati pasangan yang menikah dengan cara paling konkret yang bisa kamu lakukan. Memastikan kamu tidak menarik perhatian lebih dari yang seharusnya. Atau bahasa kasarnya adalah tamu undangan tidak boleh lebih bersinar dari yang menikah.
Dari sinilah lahir aturan warna yang paling dikenal dari hagaek look. Hindari putih karena itu warna pengantin, hindari warna cerah dan mencolok, serta pilih warna netral atau gelap.
Seiring waktu, muncul praktik budaya baru yang mendorong tamu untuk mengenakan pakaian hitam yang understated sebagai bentuk penghormatan kepada pengantin. Tren ini menyebar luas secara online dan banyak orang kini menganggap pakaian cerah atau putih di pernikahan sebagai sesuatu yang tidak sopan.
Tapi hagaek look tidak lahir dari ruang kosong. Ada konteks budaya dan sosial yang membentuknya.
(BACA JUGA: Met Gala Theme and the One Who Always Gets It Right)
@0221_24 Jennie was spotted attending friends wedding💋🤍 #jennie#jenniekim #oddatelier #Blackpink#fyp #Mantra ♬ original sound – FHRAIN LANZ 👨😎👌🏼💚 – FHRAIN LANZ 😊🙋🏼♂️👈👌🏼❤️
KISAH DI BALIK HAGAEK LOOK
Pertama, sifat pernikahan Korea itu sendiri sangat berbeda dari Barat. Pernikahan Korea beroperasi dengan jadwal yang ketat, dengan upacara yang berlangsung setiap 30 hingga 40 menit di ruangan berbeda dalam satu wedding hall.
Efisiensi seperti lini produksi ini adalah bagian dari budaya ppalli-ppalli (빨리빨리, “cepat-cepat”) Korea. Upacara biasanya hanya berlangsung 20 hingga 30 menit, tidak ada dansa, tidak ada pesta panjang.
Ini bukan perayaan yang dirancang untuk tampil; ini adalah perayaan yang dirancang untuk hadir.
Kedua, dress code tamu bisa digambarkan paling tepat sebagai business atau business-casual, sebagian karena banyak tamu pernikahan Korea terdiri dari rekan kerja.
Pernikahan di Korea adalah acara komunitas yang luas, bukan hanya lingkaran teman dekat. Kolega, kenalan bisnis, hingga teman orang tua hadir bersama dalam satu ruangan.
Maka pakaian yang “aman” adalah pakaian yang cocok untuk semua konteks itu sekaligus.
Ketiga, ada pergeseran budaya yang lebih baru. Secara historis, orang Korea mengenakan pakaian formal ke pernikahan. Namun, ini mulai berubah seiring berkembangnya industri IT Korea, yang membuat pakaian kantor kasual menjadi lebih diterima secara luas.
Generasi muda Korea, yang tumbuh dengan estetika minimal dan monochrome yang dominan di Seoul, secara alami membawa selera tersebut ke berbagai acara, termasuk pernikahan.
@nofilter_sun Wedding guest outfits! Korea VS America #culturaldifference #culture #korea #koreanculture #wedding ♬ original sound – nofilter_sun
Menariknya, hagaek look bukan tanpa kontroversi di dalam Korea sendiri.
Beberapa kritik muncul dari dalam, dengan sebagian orang menyatakan bahwa mengenakan warna-warna suram ke pernikahan terasa tidak tepat, hampir seperti menghadiri pemakaman.
Para kritikus mengingatkan bahwa dua puluh tahun lalu, perempuan biasa memakai setelan berwarna-warni ke pernikahan dan pria hadir dengan pakaian bisnis biasa. Hanbok tradisional yang penuh warna juga umum dikenakan.
Bahkan di forum Korea seperti Theqoo, perdebatan ini terus berlangsung. Salah satu netizen Korea menulis:
“Generasi MZ yang memakai serba hitam agar tidak mencolok, hingga terlihat seperti pemakaman sungguhan.”
Ada kesadaran di dalam masyarakat Korea sendiri bahwa tren ini telah bergeser sangat jauh dari asal-usulnya.
Tapi bagi kebanyakan orang Korea, hagaek look tetap merupakan ekspresi hormat yang paling tulus. Seperti yang diungkapkan seorang netizen Korea.
“Bukankah sopan untuk berpakaian hitam-putih agar tidak lebih menonjol dari pengantin?”
JADI, APAKAH HAGAEK LOOK SEBENARNYA KASUAL?
Tidak tepat juga. Meskipun di pernikahan Amerika Utara dan Eropa lazim untuk berbelanja dan menghabiskan uang yang cukup besar khusus untuk acara pernikahan, tapi itu berlaku di Korea.
Dari gaun dan kardigan hingga kemeja berkancing dan celana panjang, kamu bisa membangun banyak outfit tamu pernikahan dengan pakaian yang sudah ada di lemarimu.
Dan mungkin di situlah letak kecantikan hagaek look yang sesungguhnya. Ia bukan tentang apa yang kamu pakai, tapi tentang mengapa kamu memilih untuk tidak menonjol.
Dalam budaya di mana pernikahan adalah tentang pasangan yang menikah dan bukan tentang para tamunya, berpakaian understated adalah pernyataan fashion yang paling kuat yang bisa kamu buat.
Bukan soal tidak punya selera. Justru sebaliknya.
(Kirana Putri, foto: koreaboo.com)
