Di Era yang Serba Instan, Apakah Makna Iduladha Masih Bisa Dirasakan?

Dari kurban online hingga distribusi instan, kemudahan modern mengubah cara kita beribadah. Tapi apakah maknanya ikut berubah?

Ada satu hal yang berubah pelan-pelan dalam beberapa tahun terakhir. Yaitu soal cara kita menjalani Iduladha.

Dulu, banyak orang datang langsung ke tempat penyembelihan, melihat prosesnya, hingga ikut membagikan daging ke lingkungan sekitar. Tapi sekarang, semuanya bisa dilakukan dalam beberapa klik.

Pilih paket kurban, transfer, selesai. Sangat praktis, cepat dan terasa jauh lebih mudah.

Di era digital, hampir semua hal bergerak ke arah yang sama. Yakni efisiensi. Termasuk dalam ibadah. Platform kurban online kini semakin banyak dan semuanya menawarkan hal yang sama. Transparansi distribusi, pilihan lokasi penerima, dokumentasi lengkap, bahkan sertifikat digital.

Semua ini tentu membawa sisi positif. Lebih banyak orang bisa berpartisipasi, distribusi bisa lebih merata dan proses menjadi lebih terorganisir. Tapi di saat yang sama, ada satu hal yang perlahan berubah. Yaitu jarak.

Jarak di sini bukan soal lokasi. Melainkan jarak akan proses dan maknanya. 

Dulu, banyak orang mengalami Iduladha secara langsung.

Ada suara, ada suasana, ada momen yang mungkin tidak selalu nyaman, tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata.

Sekarang, pengalaman itu semakin jarang. Kurban menjadi sesuatu yang terjadi “di tempat lain”. Kita tetap berpartisipasi, tapi tidak benar-benar hadir dalam prosesnya. Dan di titik itu, muncul pertanyaan sederhana.

Apakah makna sebuah ritual tetap sama ketika kita tidak lagi mengalaminya secara langsung?

(BACA JUGA: Belajar Hidup Cukup Lewat Momen Iduladha)

ANTARA NIAT DAN PENGALAMAN

Tentu saja, esensi kurban tidak hilang begitu saja. Niat tetap ada, tujuan berbagi juga tetap berjalan. Tapi pengalaman yang juga bagian dari proses membentuk pemahaman, kini menjadi berbeda.

Karena dalam banyak hal, apa yang kita rasakan secara langsung sering kali lebih membekas daripada apa yang hanya kita lakukan secara praktis.

Meskipun praktis tidak selalu salah. Karena penting juga untuk diakui bahwa perubahan ini tidak sepenuhnya negatif.

Alasannya karena tidak semua orang punya akses, waktu, atau kondisi untuk terlibat langsung seperti dulu. Dan teknologi justru membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk tetap berpartisipasi.

Masalahnya mungkin bukan pada kemudahannya, tapi pada apa yang perlahan kita lepaskan tanpa sadar.

MENGINGAT KEMBALI HAL YANG SEDERHANA

Di tengah semua kemudahan, mungkin yang perlu dijaga bukan cara lamanya, tapi kesadarannya. Bahwa di balik proses yang kini terasa lebih cepat, ada makna yang tetap butuh dirasakan, bukan hanya dijalankan.

Karena pada akhirnya, Iduladha bukan hanya tentang apa yang dilakukan, tapi juga tentang seberapa dalam kita memaknainya.

(Annisa Larasati, foto: magnific.com/wirestock)

Share