Kini, banyak orang justru merasa semakin banyak blush yang dipakai, semakin cantik hasilnya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Beberapa tahun lalu, blush hanya menjadi pelengkap makeup.
Cukup satu atau dua sapuan tipis di pipi agar wajah terlihat lebih segar. Bahkan, ada masanya blush nyaris terlupakan karena perhatian lebih banyak tertuju pada contour dan highlighter.
Namun, coba buka TikTok atau Instagram sekarang. Tidak sedikit beauty creator yang mengaplikasikan blush dalam jumlah jauh lebih banyak.
Warnanya lebih terang, area aplikasinya semakin luas, bahkan hingga ke hidung, bawah mata, pelipis dan dagu.
Yang menarik, banyak orang kini mulai mengaku mengalami sesuatu yang disebut “blush blindness.”
APA ITU BLUSH BLINDNESS?
Meski terdengar seperti istilah medis, blush blindness bukanlah diagnosis kesehatan.
Istilah ini pertama kali populer di TikTok untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terbiasa melihat wajahnya dengan blush yang sangat intens, sehingga lama-kelamaan ia merasa jumlah tersebut terlihat normal.
Akibatnya, setiap kali makeup selesai, muncul dorongan untuk menambahkan sedikit lagi… dan sedikit lagi… sampai akhirnya hasil akhirnya jauh lebih merah dibanding yang sebenarnya dibutuhkan.
Fenomena ini kemudian menjadi viral setelah banyak beauty creator membandingkan tampilan wajah mereka sebelum dan sesudah mengurangi blush. Tidak sedikit yang mengaku baru sadar bahwa mereka selama ini memakai blush jauh lebih banyak daripada yang mereka kira.
(BACA JUGA: Sembunyikan Pipi Tembam Kamu dengan Teknik Makeup Ini)
@fatyabiyaaa bisa, TAPI GAMAU🤫 #blushblindness ♬ original sound – Kaylene
KENAPA HAL INI BISA TERJADI?
Jawabannya berkaitan dengan cara otak kita beradaptasi terhadap sesuatu yang dilihat berulang kali.
Dalam psikologi, terdapat konsep perceptual adaptation, yaitu ketika otak mulai menganggap sesuatu yang awalnya terasa ekstrem sebagai sesuatu yang normal setelah terus-menerus terpapar.
Fenomena serupa juga sering terjadi pada parfum. Ketika kita merasa wanginya sudah hilang, kita pasti akan menyemprotkan lagi parfum ke tubuh. Padahal orang lain masih bisa menciumnya dengan jelas.
Menurut penelitian dalam Current Biology, sistem visual manusia memang terus menyesuaikan diri dengan rangsangan yang dilihat secara berulang.
Adaptasi ini membantu otak bekerja lebih efisien, tetapi juga dapat mengubah persepsi kita terhadap warna, kontras, atau intensitas visual.
Dengan kata lain, semakin sering kita melihat wajah dengan blush yang sangat kuat, semakin besar kemungkinan otak menganggap tampilan tersebut sebagai standar baru.
TIKTOK IKUT MEMBENTUK STANDAR BARU DALAM MAKEUP
Fenomena blush blindness tidak bisa dilepaskan dari media sosial.
Menurut laporan Pinterest Predicts 2025, pencarian terkait bold blush, sunset blush dan berbagai teknik aplikasi blush meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Blush kini bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi fokus utama dalam banyak tren makeup baru.
Di TikTok sendiri, teknik seperti sunburn blush, boyfriend blush, underpainting blush, hingga cold girl makeup membuat area aplikasi blush semakin luas dibandingkan dengan tren makeup beberapa tahun sebelumnya.
Lama-kelamaan, wajah tanpa blush yang intens justru terasa “kurang hidup” bagi sebagian orang.
(BACA JUGA: Victoria Beckham Rilis Blush Stick dengan Presisi Tinggi)
@katyjosselyn 😭 #fyp #humor #blushblindness #makeup ♬ suara asli – wonniech
BEAUTY FILTER MEMBUAT PERSEPSI SEMAKIN BERGESER
Ada faktor lain yang jarang disadari.
Sebagian besar makeup yang kita lihat di media sosial direkam menggunakan ring light, kamera beresolusi tinggi, hingga proses color grading.
Dalam kondisi pencahayaan tersebut, warna blush memang cenderung terlihat lebih lembut dibandingkan dengan saat dilihat langsung di depan cermin.
Akibatnya, banyak creator memilih mengaplikasikan blush lebih banyak agar tetap terlihat di kamera.
Masalahnya, penonton kemudian mencoba meniru teknik tersebut untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Padahal hasilnya bisa terlihat jauh lebih intens.
Makeup pada dasarnya adalah bentuk ekspresi diri.
Kalau kamu memang menyukai tampilan pipi yang sangat merona, tentu tidak ada aturan yang melarangnya.
Yang menjadi menarik adalah ketika seseorang memakai blush lebih banyak bukan karena menyukainya, tetapi karena persepsinya terhadap “jumlah yang normal” perlahan berubah tanpa disadari.
Di sinilah istilah blush blindness menjadi relevan.
Kalau penasaran apakah kamu juga mengalami blush blindness, ada beberapa cara sederhana yang sering disarankan para makeup artist:
- Berfoto di bawah cahaya alami, bukan hanya di depan ring light.
- Lihat hasil makeup setelah sekitar 15–20 menit. Blush biasanya akan sedikit menyatu dengan kulit.
- Sesekali bandingkan hasil makeup dengan foto beberapa tahun lalu. Perubahan tren sering kali membuat kita tidak sadar bahwa teknik aplikasi sudah berubah.
- Yang paling penting, tanyakan pada diri sendiri: “Aku memang suka hasil ini, atau aku hanya terbiasa melihatnya di media sosial?”
Fenomena blush blindness menunjukkan satu hal yang lebih besar.
Standar kecantikan tidak selalu berubah karena industri makeup menciptakan produk baru. Kadang, standar itu berubah karena kita terus-menerus melihat wajah yang sama di layar ponsel.
Hari ini mungkin blush. Besok bisa saja alis, bibir, atau contour.
(Kirana Putri, foto: preview.ph)
