Decision Fatigue: Definisi Belum Ngapa-ngapain Tapi Capek

Mulai dari memilih outfit, menentukan menu makan siang, sampai membalas chat, membuat otak sudah bekerja keras sejak bangun tidur.

Pernah merasa baru jam 10 pagi, tapi energi mentalmu sudah terasa habis? Padahal rasanya belum ngapa-ngapain, terutama bekerja.

Percayalah. Yang membuat kita lelah ternyata tidak selalu pekerjaan besar. Justru sering kali penyebabnya adalah puluhan keputusan kecil yang terus kita ambil sejak membuka mata.

Bangun tidur, memilih untuk bangun sekarang atau lima menit lagi. Lalu dilanjutkan dengan memilih baju, memilih kopi atau teh, memilih rute ke kantor, memilih mau membalas chat dulu atau email dulu, memilih makan siang apa dan segala keputusan kecil lainnya.

Mungkin ini terdengarnya sepele. Tetapi ketika jumlahnya mencapai ratusan dalam sehari, otak tetap harus bekerja. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue.

APA ITU DECISION FATIGUE?

Decision fatigue adalah kondisi ketika kualitas kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan menurun setelah membuat terlalu banyak keputusan dalam periode waktu tertentu.

Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh psikolog sosial Dr. Roy F. Baumeister, yang menjelaskan bahwa kemampuan mengambil keputusan menggunakan sumber daya mental yang terbatas.

Semakin sering kita membuat keputusan, semakin besar kemungkinan otak mengalami kelelahan sehingga keputusan berikutnya menjadi kurang optimal. Dengan kata lain, otak juga bisa “capek memilih.”

Sebagian besar keputusan yang kita buat bahkan tidak terasa seperti keputusan. Misalnya:

  • Mau pakai sepatu putih atau hitam?
  • Balas WhatsApp sekarang atau nanti?
  • Buka TikTok sebentar atau lanjut kerja?
  • Makan di kantor atau pesan online?
  • Gym hari ini atau besok?

Masing-masing hanya membutuhkan beberapa detik. Namun, menurut American Medical Association (AMA), akumulasi keputusan-keputusan kecil tersebut tetap menguras energi kognitif karena setiap pilihan membutuhkan perhatian, evaluasi dan kontrol diri.

KEHIDUPAN MODERN MEMBUAT DECISION FATIGUE SEMAKIN PARAH

Dulu, banyak keputusan dalam hidup bersifat otomatis. Hari ini, hampir semuanya menjadi pilihan. Mau streaming di Netflix, Disney+, Prime Video, atau Max?

Makan siang dari puluhan restoran di aplikasi? Membeli satu dari ratusan varian skincare? Memilih lagu dari jutaan katalog musik?

Menurut psikolog Barry Schwartz dalam bukunya ‘The Paradox of Choice’, semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin besar beban mental yang harus ditanggung seseorang. Ironisnya, memiliki lebih banyak pilihan tidak selalu membuat kita lebih bahagia.

(BACA JUGA: Bukdong, Fenomena Malas Kerja di Korea Selatan yang Maknanya Lebih dalam dari Itu)

Decision fatigue juga dapat memengaruhi kualitas keputusan. Penelitian terkenal yang diterbitkan dalam ‘Proceedings of the National Academy of Sciences’ (PNAS) menemukan bahwa hakim cenderung memberikan keputusan yang lebih menguntungkan pada awal hari dibandingkan dengan menjelang siang atau sore.

Atau lebih tepatnya, ketika awal hari energi mereka masih utuh. Sementara itu, ketika menjelang sore, energi mental mereka mulai menurun. Setelah beristirahat, kualitas pengambilan keputusan kembali meningkat.

Temuan ini menunjukkan bahwa kelelahan mental dapat memengaruhi siapa saja, bahkan dalam keputusan yang sangat penting.

Dalam kehidupan sehari-hari, decision fatigue juga bisa membuat seseorang lebih impulsif, lebih mudah menunda pekerjaan, atau justru menghindari pengambilan keputusan sama sekali.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Steve Jobs.

Pendiri Apple itu hampir selalu mengenakan kombinasi turtleneck hitam, celana jeans biru dan sneakers abu-abu.

Hal serupa juga dilakukan oleh Barack Obama ketika masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Ia pernah mengatakan bahwa dirinya sengaja membatasi pilihan pakaian agar energi mentalnya bisa digunakan untuk mengambil keputusan yang jauh lebih penting.

Mengurangi keputusan kecil ternyata menjadi strategi untuk menjaga kapasitas otak sepanjang hari.

TIPS MENGURANGI DECISION FATIGUE

Kabar baiknya, ancaman decision fatigue bukan berarti membuat kita harus berhenti mengambil keputusan. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi jumlah keputusan yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Beberapa cara yang banyak disarankan psikolog antara lain:

  • Menyiapkan pakaian untuk keesokan hari sebelum tidur
  • Membuat menu makan mingguan agar tidak perlu memilih setiap hari
  • Menetapkan rutinitas pagi yang konsisten
  • Mengerjakan tugas yang membutuhkan keputusan besar pada pagi hari ketika energi mental masih optimal
  • Mengurangi pilihan yang sebenarnya tidak diperlukan

Tujuannya bukan membuat hidup menjadi kaku, melainkan memberi lebih banyak ruang bagi otak untuk fokus pada keputusan yang benar-benar penting.

Mungkin kita tidak terlalu sibuk. Kita hanya terlalu banyak memilih. 

Selama ini kita sering menganggap rasa lelah hanya datang dari pekerjaan. Padahal, kehidupan modern membuat kita terus-menerus mengambil keputusan bahkan ketika sedang beristirahat.

Memilih tontonan, memilih lagu, memilih makanan, memilih apakah akan membalas notifikasi sekarang atau nanti.

Satu keputusan mungkin tidak terasa berat. Namun, ketika semuanya dikumpulkan dalam satu hari, otak tetap harus membayar harganya.

Mungkin itulah sebabnya kita merasa lelah bahkan sebelum pekerjaan benar-benar dimulai. Bukan karena kita kurang produktif, melainkan karena tanpa sadar, kita sudah menghabiskan begitu banyak energi hanya untuk memilih.

(Kirana Putri, foto: xxx)

Share