Tidur Sambil Buka Jendela Bikin Nyenyak. Apa Iya?

Tidur nyenyak bukan hanya soal udara segar. Tetapi suhu tubuh yang stabil justru memegang peran lebih penting.

Membuka jendela saat tidur menjadi kebiasaan banyak orang, terutama ketika cuaca sedang panas. Udara malam yang terasa lebih sejuk dipercaya bisa membuat tidur lebih nyaman dan membantu tubuh lebih cepat terlelap.

Namun, benarkah tidur dengan jendela terbuka selalu menjadi pilihan terbaik?

Menurut pakar tidur yang diwawancarai Vogue Korea, jawabannya tidak sesederhana itu. Membuka atau menutup jendela sebenarnya bukan faktor utama yang menentukan kualitas tidur.

Yang lebih penting adalah apakah lingkungan tidur mampu membantu tubuh menjaga suhu inti (core body temperature) tetap ideal sepanjang malam.

Christine Blume, peneliti sekaligus pakar tidur, menjelaskan bahwa menjelang waktu tidur, suhu inti tubuh akan turun secara alami sebagai bagian dari ritme sirkadian. Proses inilah yang memberi sinyal kepada otak bahwa sudah waktunya beristirahat.

Karena itu, ruangan yang sedikit lebih sejuk memang dapat mendukung tubuh untuk lebih cepat tertidur. Saat kamar terlalu panas, tubuh harus bekerja lebih keras untuk melepaskan panas, sehingga proses tidur bisa menjadi lebih sulit.

Meski begitu, kondisi kamar yang sejuk bukan berarti harus terasa dingin. Banyak orang mengira semakin dingin kamar tidur, semakin nyenyak pula kualitas istirahatnya. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Menurut Blume, tangan dan kaki berperan penting dalam melepaskan panas tubuh. Namun, ketika kaki menjadi terlalu dingin, pembuluh darah akan menyempit sehingga proses pelepasan panas justru menjadi kurang efektif.

Akibatnya, suhu inti tubuh lebih sulit turun ke kondisi ideal dan tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar tertidur.

Penelitian juga menunjukkan bahwa suhu ruangan yang terlalu panas memang dapat mengganggu kualitas tidur. Akan tetapi, ruangan yang terlalu dingin juga bukan solusi yang lebih baik.

(BACA JUGA: Hati-hati! Kurang Tidur Bikin Otak Cepat Tua!)

Jika tubuh harus terus bekerja mempertahankan kehangatan karena lingkungan terlalu dingin atau terkena aliran udara secara langsung, kualitas tidur juga dapat menurun.

Karena itu, para ahli lebih menyarankan menciptakan suhu yang nyaman dan stabil daripada sekadar membuat kamar terasa sedingin mungkin.

Menurut para pakar, suhu kamar tidur yang nyaman umumnya berada di kisaran 18–22 derajat Celsius.

Bagi yang menggunakan pendingin ruangan, suhu sekitar 24–26 derajat Celsius biasanya sudah cukup membantu tubuh beristirahat dengan nyaman. Sementara orang yang lebih sensitif terhadap udara dingin bisa memilih suhu sekitar 26–27 derajat Celsius.

Selain suhu ruangan, kondisi di dalam tempat tidur juga tidak kalah penting. Selimut membantu menciptakan bed microclimate, yaitu lingkungan kecil yang menjaga keseimbangan suhu tubuh sepanjang malam.

Karena itu, memilih selimut yang sesuai dengan musim juga dapat memengaruhi kualitas tidur.

Pada akhirnya, membuka atau menutup jendela bukanlah tujuan utama. Jika udara malam terasa sejuk dan tidak terlalu lembap, membuka jendela dapat membantu menjaga suhu kamar tetap nyaman.

Namun, ketika udara di luar justru panas atau lembap, menutup jendela dan menggunakan pendingin ruangan mungkin menjadi pilihan yang lebih efektif.

Menurut para ahli, tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang. Kunci tidur yang berkualitas bukan terletak pada posisi jendela, melainkan pada kemampuan tubuh mempertahankan suhu inti yang ideal sepanjang malam.

Ketika tubuh merasa nyaman alias tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, proses tidur pun dapat berlangsung dengan lebih optimal.

(Kirana Putri, foto: magnific.com/pvproductions)

Share