Iyuh! Gen Z Bikin Tren Tidak Mandi Sebelum Kencan

Tren viral ini mengklaim bahwa aroma tubuh alami bisa membuat seseorang lebih menarik, tapi sains membantahnya keras.

Setelah sebelumnya heboh dengan tren ‘looksmaxxing’ yang bikin sejumlah pria muda rela melakukan hal ekstrem demi wajah lebih tajam, kini giliran tren baru bernama ‘pheromone-maxxing’ yang jadi sorotan di media sosial.

Tren ini melibatkan sejumlah remaja pria dan pria muda yang sengaja tidak mandi maupun memakai deodoran sebelum kencan, dengan harapan aroma tubuh alami mereka justru bisa membuat mereka lebih menarik di mata calon pasangan.

Dilaporkan Vice dan dikutip Fox News, sebagian pengikut tren ini bahkan melakukan hal yang lebih ekstrem. Mulai dari memakai kaus yang belum dicuci hingga meminum urin mereka sendiri dengan alasan ingin “mengeluarkan racun lewat keringat”.

Teori di balik tren ini menyebut bahwa semakin kuat aroma alami tubuh seorang pria, semakin besar pula daya tarik seksualnya di mata lawan jenis.

Namun, klaim ini ternyata tidak didukung bukti ilmiah yang kuat. Feromon sendiri adalah senyawa kimia yang berfungsi menghantarkan sinyal antaranggota spesies yang sama dan sudah terdokumentasi dengan baik pada serangga maupun hewan lain.

Sayangnya, menurut Scientific American, belum ada bukti konsisten soal respons perilaku yang kuat terhadap sinyal kimia buatan manusia.

Hingga kini, para ilmuwan baru mengumpulkan bukti soal kemungkinan efek feromon pada manusia, tapi belum berhasil mengidentifikasi satu pun feromon manusia yang definitif.

Salah satu eksperimen paling terkenal soal aroma tubuh dan daya tarik adalah ‘sweaty T-shirt study’ pada 1995, di mana partisipan pria diminta memakai kaus yang sama selama dua malam berturut-turut, sebelum kemudian aromanya dinilai oleh partisipan perempuan.

(BACA JUGA: Quiet Quitting dan Burnout, Bagaimana Gen Z Mendefinisikan Ulang Makna Bekerja?)

Meski penelitian semacam ini kerap dijadikan rujukan pendukung teori pheromone-maxxing, hasilnya tidak serta-merta membuktikan klaim bahwa aroma tubuh tanpa mandi bisa meningkatkan daya tarik secara signifikan.

Ironisnya, riset lain justru menunjukkan hasil sebaliknya. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ‘Evolution and Human Behavior’ oleh peneliti University of Stirling menemukan bahwa pemakaian deodoran justru bisa membuat pria terlihat lebih maskulin di mata perempuan, terutama bagi mereka yang skor maskulinitas wajahnya tergolong rendah.

Penulis studi, Caroline Allen, PhD, menjelaskan bahwa deodoran bisa membantu meratakan level daya tarik bagi pria yang secara alami kurang terlihat maskulin.

Tidak heran, tren ini menuai reaksi negatif dari banyak pihak, terutama dari kalangan perempuan yang jadi sasaran eksperimen tersebut.

Berbagai komentar bernada geli hingga jijik bermunculan di media sosial, dengan banyak yang menegaskan bahwa kebersihan diri tetap jadi hal mendasar yang tidak bisa digantikan oleh teori aroma tubuh yang belum terbukti secara ilmiah.

Pheromone-maxxing menjadi pengingat bahwa tidak semua tren viral di media sosial punya dasar ilmiah yang kuat.

Alih-alih meningkatkan daya tarik, tren ini justru berisiko menciptakan kesan sebaliknya, terutama karena kebersihan diri tetap menjadi salah satu faktor dasar yang dinilai penting dalam interaksi sosial maupun romantis di dunia nyata.

(Kirana Putri, foto: magnific.com/wayhomestudio)

Share