Lima album yang terdiri dari musisi global dan lokal ini, membuktikan bahwa musik bagus tidak punya tanggal kedaluwarsa.
Ada album yang kamu dengarkan pertama kali sepuluh tahun lalu dan terasa sama magisnya saat kamu putar lagi hari ini. Bahkan mungkin lebih dalam. Lagu-lagunya terasa seperti berbicara langsung ke situasi yang sedang kamu alami sekarang, padahal diciptakan jauh sebelum kamu tahu situasi itu akan datang.
Sementara di sisi lain, ada album yang terasa seperti barang antik. Bukan antik yang keren, tapi antik yang awkward. Produksinya terlalu terikat pada tren zamannya, liriknya terlalu spesifik pada satu momen dan kamu tidak pernah benar-benar ingin memutarnya lagi setelah masa itu lewat.
Apa yang membuat sebuah album bisa aging well? Tidak ada formula tunggal. Tapi dari album-album terbaik yang pernah ada, baik global maupun lokal, ada pola yang terus muncul.
Lirik yang berbicara tentang sesuatu yang universal, produksi yang tidak budak tren sesaat dan koneksi emosional yang terpatri kuat di kepala pendengarnya.
Berikut lima album yang membuktikan itu dan berikut alasannya kenapa album-album ini masih terasa relevan sampai hari ini.
‘THRILLER’ – MICHAEL JACKSON (1982)

(Foto: deezer.com)
Kalau ada satu album yang hampir tidak mungkin terdengar jadul, itu adalah ‘Thriller’. Dirilis pada 1982, album keenam Michael Jackson ini bukan hanya produk zamannya. Ia adalah album yang mendefinisikan ulang apa artinya menjadi seorang musisi pop.
Produksinya luar biasa. Di tangan Quincy Jones, ‘Thriller’ memadukan pop, R&B, rock dan funk dengan cara yang terasa tidak dipaksakan. Setiap lagu punya identitas sendiri, tapi tetap kohesif sebagai satu album.
“Billie Jean” punya bassline yang hipnotic, “Beat It” menggaet gitaris rock Eddie Van Halen untuk solo yang ikonik, sementara lagu “Thriller” sendiri hadir sebagai pengalaman sinematik yang lengkap. Ada narasi, koreografi zombi dan suara Vincent Price yang menggelegar.
Yang membuat ‘Thriller’ tidak kemakan zaman bukan hanya soal produksi tapi soal emosi. Lagu-lagunya bicara tentang paranoia, cinta yang rumit dan ketakutan. Tema yang tidak pernah basi.
Hari ini, ‘Thriller’ masih diputar di pesta, dijadikan referensi oleh artis-artis baru dan music video “Thriller” telah menembus satu miliar penonton di YouTube. Jackson bahkan tercatat sebagai artis pertama yang masuk top 10 Billboard Hot 100 di enam dekade berbeda.
Kenapa album ini aging well? Karena ‘Thriller’ tidak pernah benar-benar tentang tahun 1982. Ia tentang manusia dan manusia tidak berubah secepat tren musik.
(BACA JUGA: 5 Festival Musim Musim Panas yang Wajib Didatangi Minimal Sekali Seumur Hidup)
‘KID A’ – RADIOHEAD (2000)

(Foto: deezer.com)
Saat pertama kali dirilis pada Oktober 2000, ‘Kid A’ membingungkan hampir semua orang. Radiohead, band yang sebelumnya membuat ‘OK Computer’, salah satu album rock terbesar akhir 90-an, tiba-tiba membuang gitar dan melodi yang familiar, menggantinya dengan synth elektronik dingin, drum machine dan lirik yang sengaja dibuat abstrak dengan cara memotong-motong frasa secara acak.
Banyak yang menganggapnya pretentious. Beberapa kritikus mempertanyakan relevansinya. Tapi waktu membuktikan mereka salah.
Dua puluh lima tahun kemudian, ‘Kid A’ justru terasa semakin relevan. Album ini bicara tentang kecemasan, alienasi dan kengerian diam-diam dari hidup di dunia yang bergerak terlalu cepat.
Tema yang terasa jauh lebih akut di era media sosial dan information overload hari ini dibandingkan dengan ketika album ini dirilis. Thom Yorke sendiri pernah berkata bahwa “Optimistic” ditulis pada 1998, tapi terasa jauh lebih relevan sekarang.
Rolling Stone dan Pitchfork sama-sama menempatkan ‘Kid A’ sebagai album terbaik dekade 2000-an. Dan tidak seperti banyak album dari era yang sama yang terdengar “tahun 2000-an banget”, Kid A terdengar seperti tidak punya tanggal rilis.
Kenapa album ini aging well? Karena ia tidak mencoba untuk terdengar saat ini. Radiohead memilih untuk terdengar dari masa depan dan masa depan akhirnya menyusul mereka.
‘RANDOM ACCESS MEMORIES’ – DAFT PUNK (2013)

(Foto: deezer.com)
Tahun 2013, ketika dunia musik sedang ramai dengan EDM dan produksi digital yang serba komputer, Daft Punk melakukan hal yang paling tidak terduga. Mereka memilih untuk merekam semuanya secara live, bersama musisi-musisi nyata, di studio-studio legendaris di Los Angeles, New York dan Paris.
Hasilnya adalah ‘Random Access Memories’, sebuah album yang seolah-olah dikirim dari dimensi lain. Groove Nile Rodgers di “Get Lucky” terasa langsung dan manusiawi. Piano Chilly Gonzales di “Within” berbicara sendiri. Monolog Giorgio Moroder di “Giorgio by Moroder” tidak terasa seperti filler. Ia terasa seperti sebuah manifesto tentang kebebasan berkreasi.
Daft Punk sendiri menggambarkan apa yang mereka lakukan dengan kalimat yang tepat: “We went back to go forward,” dan itulah yang membuat ‘RAM’ begitu timeless.
Ia tidak mengikuti tren, ia menggali sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih dalam dari tren mana pun. Disco, funk, soul, semua dihadirkan kembali bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai bahasa yang segar.
Pada ajang Grammy Awards 2014, ‘RAM’ meraih penghargaan Album of the Year serta penjualan album yang luar biasa besar. Bahkan saat Daft Punk bubar pada 2021, album ini tidak terasa seperti warisan karena ia terasa seperti karya yang masih hidup.
Kenapa ia aging well? Karena album ini tidak dibuat untuk zamannya. Tetapi dibuat untuk semua zaman.
‘BINTANG LIMA’ – DEWA 19 (2000)

(Foto: deezer.com)
Beralih ke Indonesia, MOSTEAM memilih album ‘Bintang Lima’ dari Dewa 19. Tidak banyak album Indonesia yang bisa diklaim sebagai masterpiece yang meyakinkan. Namun, ‘Bintang Lima’ adalah pengecualian.
Konteksnya penting untuk dipahami. Pada 1999, Dewa 19 berada di tepi jurang. Ari Lasso harus keluar karena masalah ketergantungan obat terlarang, sedangkan Erwin Prasetya masuk rehabilitasi.
Band yang sudah dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia itu nyaris bubar. Ahmad Dhani kemudian merekrut Once Mekel dan Tyo Nugros, lalu memutuskan bahwa album berikutnya adalah pertaruhan terakhir. Menurut Dhani, Bintang Lima dibuat “dengan penuh rasa takut.”
Dan ketakutan itu, ternyata, menjadi bahan bakar.
‘Bintang Lima’ dirilis pada April 2000 dan langsung meledak. Terjual lebih dari 1,7 juta kopi, menjadi album tersukses dalam sejarah Dewa 19. Hampir semua lagu jadi hits. Sebut saja “Roman Picisan”, “Separuh Nafas”, “Risalah Hati”, “Sayap-Sayap Patah”, “Dua Sejoli” dan masih banyak lagi.
Yang membuat album ini tetap hidup sampai hari ini bukan hanya karena nostalgia. Tetapi lirik-lirik yang ditulis oleh Dhani bicara tentang cinta, kehilangan dan kerinduan, tapi dengan cara yang puitis dan tidak murahan.
Beberapa lagu disebut terinspirasi dari karya sastra besar. Misalnya “Roman Picisan” dari novel Eddy D. Iskandar, “Sayap-Sayap Patah” dari puisi Kahlil Gibran. Suara Once yang tadinya diragukan karena harus menggantikan Ari Lasso, justru terbukti punya karakter yang unik dan tidak bisa digantikan.
Hingga hari ini, lagu-lagu dari album ‘Bintang Lima’ masih menjadi OST sinetron, di-cover oleh artis-artis baru dan dinyanyikan bersama dalam konser-konser reuni. Rolling Stone Indonesia bahkan menempatkan album ini dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik.
Kenapa album ini aging well? Karena ia lahir dari tekanan dan ketakutan yang nyata, serta emosi yang nyata sehingga tidak pernah terdengar usang.
(BACA JUGA: Bukan Cuma Bangkok, Post Malone Bakal Tur di Lebih Banyak Negara Asia Tenggara)
‘EFEK RUMAH KACA’ – EFEK RUMAH KACA (2007)

(Foto: deezer.com)
Pada tahun 2007, ketika lanskap musik Indonesia masih didominasi oleh lagu-lagu pop cinta yang melankolis dan mendayu-dayu, sebuah band indie dari Bandung hadir dengan sesuatu yang berbeda secara radikal.
Efek Rumah Kaca. Saat debut, grup ini merilis album self-titled mereka melalui label indie Paviliun Records. Dan album itu bukan tentang cinta. Atau setidaknya, bukan hanya tentang cinta.
“Jalang” adalah kritik tajam terhadap DPR yang saat itu sedang menggodok UU Pornografi. “Di Udara” adalah persembahan untuk Munir, aktivis HAM yang dibunuh di pesawat.
“Efek Rumah Kaca” berbicara tentang pemanasan global, “Belanja Terus Sampai Mati” mengkritik materialisme, “Cinta Melulu” lagu yang judulnya terdengar seperti lagu pop biasa, justru merupakan sindiran langsung terhadap kebiasaan industri musik lokal yang terlalu terpaku pada tema cinta.
Yang luar biasa adalah cara ERK (begitu nama grup biasa disingkat), menyampaikan semua ini bukan dengan ceramah, tapi dengan melodi yang menghantui dan lirik bahasa Indonesia yang kaya dan puitis.
Cholil Mahmud sebagai vokalis dan penulis lirik utama adalah salah satu lirikus terbaik yang pernah dimiliki musik Indonesia.
Karena terbukti, album ini terjual 5.000 kopi dalam tahun pertama. Angka yang luar biasa untuk band indie di era ketika pembajakan sudah merajalela. Dan bukan hanya itu.
Lagu “Mosi Tidak Percaya” dari album berikutnya menjadi anthem demonstrasi sipil di Indonesia. Lagu mereka menjadi tema program televisi Mata Najwa. ERK bukan hanya band musik. Mereka menjadi suara bagi banyak orang.
Kenapa album ini aging well? Karena isu-isu yang mereka angkat tidak pernah selesai. Lingkungan hidup, korupsi, kebebasan berekspresi, semua masih relevan, bahkan lebih dari sebelumnya.
KESIMPULAN
Secara benang merah, ada beberapa poin yang membuat kelima album ini aging well:
Produksi yang Tidak Tersandera Tren
‘Thriller’ tidak terdengar seperti album 1982 karena Quincy Jones membangunnya di atas fondasi yang lebih dalam dari tren sesaat. ‘RAM’ terdengar segar karena memilih live instrumentation di tengah era EDM. Album yang berusaha terlalu keras untuk terdengar “masa kini” justru biasanya yang paling cepat terdengar usang.
Lirik Bicara Tentang Sesuatu yang Universal
‘Kid A’ bicara tentang kecemasan dan alienasi. ‘Bintang Lima’ bicara tentang cinta dan kehilangan. ‘ERK’ bicara tentang ketidakadilan. Semua tema itu tidak punya tanggal kedaluwarsa.
Koneksi Emosional yang Terpatri
Ada sesuatu yang terjadi antara musik dan memori. Kamu dengar “Separuh Nafas” dan tiba-tiba kamu kembali ke suatu momen. Kamu dengar “Everything in Its Right Place” dan kamu merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan tapi sangat nyata.
Album yang aging well adalah album yang berhasil menciptakan momen-momen itu. Itulah kenapa beberapa album tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh.
Setiap kali kamu mendengarkannya dengan pengalaman hidup yang berbeda, kamu menemukan lapisan baru yang tidak kamu sadari sebelumnya. Bukan karena musik itu berubah. Tapi karena kamu yang berubah.
(Rendy Aditya, foto: secretlosangeles.com)
