Kalau long weekend ini ingin berjalan lebih pelan, mungkin waktunya pergi ke toko buku, membeli satu novel, lalu duduk tenang sambil membaca.
Long weekend tidak selalu harus diisi dengan itinerary penuh atau perjalanan jauh yang melelahkan.
Kadang, cara paling sederhana untuk mengistirahatkan kepala justru adalah berjalan santai ke toko buku, membeli satu buku yang menarik perhatian, lalu duduk pelan-pelan di coffee shop atau perpustakaan umum sambil membaca beberapa halaman pertama.
Di tengah hidup yang terlalu ramai dan timeline yang tidak pernah benar-benar diam, membaca bisa menjadi bentuk istirahat yang terasa lebih tenang dan personal.
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh University of Sussex, membaca selama beberapa menit saja dapat membantu menurunkan tingkat stres secara signifikan.
Tidak heran jika banyak orang mulai kembali mencari kenyamanan lewat buku. Bukan untuk menjadi lebih produktif, tetapi sekadar supaya hidup terasa sedikit lebih ringan.
Kalau sedang mencari bacaan untuk long weekend ini, beberapa buku berikut mungkin bisa jadi teman yang pas.
(BACA JUGA: 5 Alasan Kenapa Pembaca Tidak Suka Kalau Novel Favoritnya Diadaptasi Jadi Film/ Serial)
‘WELCOME HOME: A GUIDE TO BUILDING A HOME FOR YOUR SOUL’

(Foto: amazon.com)
Buku ini membahas tentang bagaimana seseorang membangun rasa aman di dalam dirinya sendiri. Lewat tulisan yang reflektif dan personal, Najwa Zebian berbicara tentang luka, kehilangan, self-worth, hingga proses belajar menerima diri sendiri. Cocok untuk dibaca saat hidup terasa terlalu bising dan melelahkan secara emosional.
‘CONVENIENCE STORE WOMAN’

(Foto: amazon.com)
Novel Jepang ini ditulis oleh Sayaka Murata, mengikuti kehidupan seorang perempuan bernama Keiko yang merasa dirinya berbeda dari orang lain dan menemukan kenyamanan saat bekerja di convenience store.
Di balik ceritanya yang sederhana dan quirky, buku ini sebenarnya membahas tekanan sosial, loneliness dan absurditas standar hidup modern dengan cara yang tenang tapi menusuk.
‘THE COMFORT BOOK’

(Foto: amazon.com)
Buku karya Matt Haig ini bukan novel. Melainkan kumpulan catatan kecil tentang cara bertahan hidup di tengah kecemasan, overthinking, dan rasa lelah menjadi manusia dewasa. Buku ini terasa seperti teman yang mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu sempurna untuk tetap layak dijalani.
‘BEFORE THE COFFEE GETS COLD’

(Foto: amazon.com)
Buku karya Toshikazu Kawaguchi ini bercerita tentang sebuah coffee shop kecil di Tokyo yang memungkinkan pengunjung kembali ke masa lalu, novel ini membahas penyesalan, hubungan manusia dan hal-hal yang tidak sempat diucapkan. Meski premisnya tentang time travel, nuansa buku ini justru hangat, tenang dan melankolis.
‘ATOMIC HABITS’

(Foto: amazon.com)
Kalau ingin long weekend dimanfaatkan untuk pelan-pelan memperbaiki hidup, buku karya James Clear ini bisa jadi pilihan. ‘Atomic Habits’ membahas bagaimana perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten ternyata punya dampak besar dalam jangka panjang tanpa terasa terlalu menggurui atau penuh toxic productivity.
‘DAYS AT THE MORISAKI BOOKSHOP’

(Foto: amazon.com)
Buku karya Satoshi Yagisawa ini mungkin salah satu buku dengan vibe paling cocok untuk long weekend. Karena buku ini bercerita tentang seorang perempuan yang memulihkan dirinya pelan-pelan setelah patah hati di toko buku kecil di kawasan Tokyo.
Cozy, tenang dan terasa seperti pelukan kecil untuk orang-orang yang sedang lelah menjalani hidup.
Pada akhirnya, tidak semua bentuk istirahat harus terlihat besar atau mewah. Kadang, duduk diam dengan buku yang tepat, secangkir kopi dan waktu yang berjalan lebih lambat saja sudah cukup untuk membuat kepala terasa lebih ringan sebelum kembali ke rutinitas lagi.
(Annisa Larasati, foto: magnific.com/freepik)
