Mulai dari hubungan yang kompleks, seperti pertemuan yang terlambat, pilihan hidup, hingga kenyataan bahwa cinta saja terkadang tidak cukup.
Saat remaja, film romansa biasanya terasa sederhana. Dua orang bertemu, saling jatuh cinta, lalu hidup bahagia selamanya. Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai menyadari bahwa hubungan tidak sesederhana itu.
Ada karier yang harus dipilih, kota yang harus ditinggalkan, mimpi yang tidak lagi sejalan, hingga orang yang tepat datang di waktu yang salah.
Itulah mengapa beberapa film romance justru terasa lebih mengena ketika ditonton di usia 20-an akhir atau 30-an. Bukan karena kisah cintanya lebih dramatis, tetapi karena konflik yang diangkat terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Kalau kamu sedang mencari tontonan romance yang lebih dewasa secara emosional, delapan judul berikut layak masuk watchlist.
IN THE MOOD FOR LOVE — 2000

Dua tetangga menyadari bahwa pasangan mereka masing-masing berselingkuh. Kedekatan yang kemudian terjalin di antara mereka berkembang menjadi hubungan yang penuh kerinduan, tetapi juga dipenuhi batasan.
Lewat dialog yang minim dan visual yang indah, film karya Wong Kar-wai ini dianggap sebagai salah satu film romance terbaik sepanjang masa.
HER — 2013

Setelah bercerai, Theodore justru jatuh cinta pada sebuah sistem operasi berbasis kecerdasan buatan. Meski premisnya terdengar futuristis, Her sebenarnya membahas kesepian, kebutuhan untuk didengarkan dan bagaimana manusia membangun hubungan di era teknologi.
(BACA JUGA: Menurut Vogue Hong Kong, Ini C-Drama Terbaik 2026 yang Wajib Ditonton!)
LA LA LAND — 2016

Mia dan Sebastian saling mencintai, tetapi sama-sama mengejar impian yang berbeda. La La Land menjadi salah satu film romance modern yang paling banyak dibicarakan karena memperlihatkan bahwa mencintai seseorang belum tentu berarti kalian bisa berjalan bersama selamanya.
US AND THEM — 2018

Dua anak muda bertemu dalam perjalanan pulang saat Tahun Baru Imlek dan perlahan saling jatuh cinta. Bertahun-tahun kemudian, mereka kembali bertemu setelah hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Film Cina ini mengangkat tema tentang ambisi, jarak dan penyesalan yang sering datang ketika semuanya sudah terlambat.
THE WORST PERSON IN THE WORLD — 2021

Julie berusia hampir 30 tahun dan merasa hidupnya belum benar-benar berjalan ke arah yang jelas. Ia berganti karier, berganti pasangan dan terus mempertanyakan apa yang sebenarnya ia inginkan.
Film asal Norwegia ini lebih banyak berbicara tentang proses menemukan diri sendiri dibandingkan dengan sekadar kisah cinta.
PAST LIVES — 2023

Nora dan Hae Sung adalah sahabat masa kecil di Korea Selatan yang terpisah setelah keluarga Nora pindah ke Kanada. Dua puluh tahun kemudian, mereka kembali bertemu ketika Nora telah menikah dengan pria lain.
Past Lives bukan tentang perselingkuhan, melainkan tentang pertanyaan yang mungkin pernah muncul di kepala banyak orang. Bagaimana kalau orang yang tepat hadir di waktu yang salah?
(BACA JUGA: 7 Film dan Serial Romance yang Mengangkat Isu Pernikahan)
WE LIVE IN TIME — 2024

Pertemuan Almut dan Tobias terjadi secara tidak terduga dan berkembang menjadi hubungan yang penuh kebahagiaan.
Namun, ketika hidup menghadirkan tantangan besar, keduanya harus belajar menghargai waktu yang mereka miliki bersama.
Film ini lebih banyak berbicara tentang mencintai seseorang di tengah kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
ONE DAY — 2024

Emma dan Dexter bertemu pada malam kelulusan mereka. Sejak saat itu, penonton mengikuti kehidupan keduanya pada tanggal yang sama setiap tahun.
Hubungan mereka berubah dari teman menjadi orang asing, lalu kembali saling menemukan. Adaptasi serial Netflix ini menawarkan pendalaman karakter yang lebih lengkap dibandingkan dengan versi filmnya.
Tidak semua kisah cinta berakhir dengan pernikahan, dan tidak semua hubungan yang berakhir berarti gagal. Delapan film di atas menunjukkan bahwa cinta sering kali hadir bersama kompromi, kehilangan, pilihan dan proses bertumbuh.
Mungkin karena itulah, semakin dewasa seseorang, semakin mudah pula memahami bahwa hubungan yang paling membekas tidak selalu yang bertahan paling lama, melainkan yang berhasil mengubah cara kita memandang hidup.
(Annisa Larasati, foto: imdb.com)
