Ada DNA Cacao di Tembikar Georgia, Ungkap Jejak Cokelat 900 Tahun Lalu

Jejak cacao pada pecahan tembikar di Etowah menunjukkan bahwa tanaman tropis ini telah mencapai wilayah Georgia sekitar abad ke-11 hingga ke-12.

Jejak cacao berusia hampir 900 tahun ditemukan pada pecahan tembikar dari situs arkeologi Etowah di Georgia, Amerika Serikat.

Penemuan ini menjadi bukti paling awal yang diketahui mengenai konsumsi cacao di wilayah sebelah timur Sungai Mississippi dan memberikan petunjuk baru tentang hubungan antarmasyarakat Indigenous di benua Amerika sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Melansir dari People, penelitian yang dipublikasikan di PLOS One ini menganalisis tiga pecahan tembikar yang berasal dari konteks arkeologis berusia sekitar 800 hingga 900 tahun. Para peneliti menemukan DNA kuno Theobroma cacao pada dua di antaranya.

Tanaman inilah yang menghasilkan biji cacao yang kemudian difermentasi dan dipanggang untuk membuat produk yang kita kenal sebagai cokelat.

Pecahan tersebut ditemukan di area yang berkaitan dengan aktivitas perjamuan saat masyarakat Etowah membangun platform mound pertama mereka.

Etowah sendiri merupakan kota Indigenous dalam kebudayaan Mississippian yang pada puncak perkembangannya sekitar abad ke-14 menjadi salah satu pusat penting di kawasan tersebut.

Menariknya, para peneliti sebenarnya sudah pernah menemukan senyawa yang berkaitan dengan cacao pada residu tembikar dari Etowah. Namun, bukti kimia tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa minuman berbahan cacao memang dikonsumsi di sana.

Pasalnya, tanaman asli Amerika Utara seperti yaupon holly juga mengandung beberapa senyawa yang sama, termasuk kafein dan theobromine.

Analisis DNA kemudian memberikan petunjuk yang lebih spesifik. Dari sampel tersebut, para peneliti memperoleh lebih dari 502 juta sekuens DNA yang dapat digunakan untuk analisis dan kemudian menyaring materi genetik yang berasal dari Theobroma cacao.

(BACA JUGA: Bukan Sekadar Hiasan, Ketumbar Adalah Kunci Masakan Thailand. Kenapa?)

(Foto: smithsonianmag.com)

Dua pecahan tembikar menunjukkan keberadaan DNA cacao kuno yang telah sangat terfragmentasi.

Penemuan ini menjadi penting karena cacao sendiri tidak tumbuh secara alami di Georgia. Tanaman tersebut berasal dari wilayah tropis Amerika dan memiliki sejarah panjang di Mesoamerika serta Amerika Selatan.

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa konsumsi cacao telah berlangsung ribuan tahun sebelum periode yang diteliti di Etowah.

Karena itu, keberadaan cacao di Etowah sekitar abad ke-11 hingga ke-12 menunjukkan adanya jaringan pertukaran yang menghubungkan wilayah tersebut dengan kawasan yang lebih jauh di Amerika.

Para peneliti menilai temuan ini dapat membantu memperluas pemahaman tentang bagaimana barang, tanaman dan kemungkinan pengetahuan berpindah antarkomunitas sebelum kolonisasi Eropa.

Temuan ini sekaligus memberi gambaran yang lebih kompleks mengenai dunia Indigenous di Amerika pada masa itu.

Para peneliti menekankan bahwa bukti mengenai hubungan dengan wilayah lain seharusnya tidak digunakan untuk mengurangi pencapaian masyarakat Mississippian sendiri.

Sebaliknya, temuan baru tersebut membuka peluang untuk memahami mereka sebagai bagian dari jaringan masyarakat yang saling terhubung.

(Kirana Putri, foto: magnific.com/magnific)

Share