Dari minuman hijau yang dulu identik dengan budaya Jepang, matcha kini menjadi bagian dari rutinitas pagi modern. Bukan hanya karena kandungan kafeinnya, tetapi juga karena ritualnya yang terasa lebih pelan dan mindful.
Ada masa ketika kopi menjadi satu-satunya jawaban untuk memulai hari. Secangkir latte sebelum berangkat kerja, segelas americano di tengah perjalanan, atau kopi takeaway yang diminum terburu-buru sebelum membuka laptop.
Namun, belakangan ini, ada satu minuman hijau yang mulai mengambil tempat di dalam rutinitas pagi banyak orang. Yaitu matcha.
Popularitas matcha semakin terlihat di kafe, dapur rumah, hingga media sosial.
Minuman ini tidak lagi hanya dipandang sebagai minuman tradisional Jepang, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup modern yang lebih memperhatikan keseimbangan, kualitas bahan dan cara seseorang memulai harinya.
Menurut Style Magazines, tren matcha morning ritual berkembang seiring meningkatnya ketertarikan terhadap longevity, mindfulness, nervous system regulation dan kebiasaan hidup yang terasa lebih berkelanjutan.
Matcha pun mulai diposisikan bukan hanya sebagai alternatif kopi, melainkan sebagai ritual harian yang lebih intentional.
Salah satu alasan matcha semakin diminati adalah pengalaman yang ditawarkan terasa berbeda dari kopi.
Kopi sering kali diasosiasikan dengan dorongan energi yang cepat. Bagi sebagian orang, efek tersebut dapat diikuti oleh rasa gelisah, jantung berdebar, atau penurunan energi beberapa jam kemudian.
Matcha, di sisi lain, dianggap memberikan energi yang lebih bertahap dan stabil. Hal ini berkaitan dengan kandungan kafein serta L-theanine dalam matcha.
Kombinasi tersebut membuat matcha kerap dipilih oleh orang-orang yang ingin tetap merasa lebih fokus tanpa sensasi “terlalu berenergi” yang terkadang muncul setelah minum kopi.
(BACA JUGA: Rahasia Matcha Latte Starbucks Enak, Pakai Apa?)
Meski demikian, respons tubuh terhadap kafein tetap berbeda-beda. Matcha bukan berarti bebas kafein atau otomatis cocok untuk semua orang. Jumlah bubuk yang digunakan, ukuran sajian, serta sensitivitas individu tetap dapat memengaruhi efeknya.
Yang membuat matcha semakin menarik bukan hanya apa yang ada di dalam cangkir, tetapi juga proses sebelum minuman tersebut diminum.
Menyiapkan matcha biasanya membutuhkan beberapa langkah. Mulai dari menakar bubuk, menuangkan air, mengocoknya hingga larut, lalu menambahkan susu atau es jika ingin membuat matcha latte.
Proses sederhana ini membuat seseorang memiliki jeda kecil sebelum benar-benar memulai aktivitas hariannya.
Popularitas matcha juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara orang memandang wellness.
Jika sebelumnya wellness sering dikaitkan dengan rutinitas yang rumit dan daftar kebiasaan panjang, kini muncul ketertarikan pada praktik yang lebih sederhana dan mudah dijalani. Minum matcha di pagi hari menjadi salah satu contoh kecilnya.
Ritual ini dapat terasa seperti momen untuk berhenti sejenak sebelum menghadapi email, meeting, pekerjaan dan berbagai tuntutan lainnya. Dengan kata lain, matcha menawarkan lebih dari sekadar minuman berkafein.
Matcha juga hadir sebagai simbol dari keinginan untuk memulai hari dengan lebih teratur, pelan dan penuh kesadaran.
Pendekatan ini terlihat dalam rutinitas Catalina Meldrum, model, content creator, sekaligus pendiri brand matcha, Match’D.
Dalam wawancaranya bersama Style Magazines, Catalina menceritakan bahwa paginya dimulai dengan meditasi, merapikan tempat tidur, skincare, membuat matcha, journaling dan gratitude practice sebelum memulai pekerjaan.
Baginya, rutinitas pagi tersebut membantu menciptakan rasa teratur dan menentukan suasana hati sepanjang hari.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/magnific)
