Dokumenter Reuni Oasis ‘Don’t Look Back in Anger’ Bikin Kritikus Menangis

Setelah 15 tahun berseteru, Liam dan Noel Gallagher akhirnya kembali diwawancarai bersama dalam dokumenter ini.

Dokumenter ‘Oasis: Don’t Look Back in Anger’ akhirnya resmi tayang perdana di Venice International Film Festival ke-83 pada 5 September 2026 lalu.

Film garapan sutradara Will Lovelace dan Dylan Southern, dengan naskah yang ditulis oleh Steven Knight, ini mengikuti perjalanan tur reuni Oasis ‘Live ’25’, salah satu comeback rock ‘n’ roll paling dinantikan dalam sejarah musik modern.

Salah satu daya tarik utama dokumenter ini adalah momen bersejarah wawancara pertama bersama Liam dan Noel Gallagher usai lebih dari 15 tahun berseteru dan tidak saling bicara.

Film ini menghadirkan akses tidak terbatas ke balik layar, mulai dari sesi latihan, momen backstage, hingga pertunjukan panggung, lengkap dengan rekaman arsip insiden terkenal di Rock en Seine, saat kedua bersaudara ini bahkan tidak sempat naik panggung bersama akibat pertengkaran hebat.

Film berdurasi dua jam ini dibuka dengan menempatkan perpecahan Gallagher bersaudara sebagai fokus utama, sebelum membawa penonton langsung ke ruang latihan musim panas 2025, saat band yang baru bersatu kembali ini harus berlatih bersama selama enam minggu penuh ketegangan.

Dalam trailer resminya, Liam sempat berujar blak-blakan soal perpecahan mereka.

“The way it finished, unacceptable. It didn’t sit right with me, man.”

Sementara Noel mengaku sempat ragu dengan mengatakan:

“I just don’t see myself on stage with Liam. Will it fall apart again?”

Dokumenter ini mendapat sambutan positif dari kritikus, dengan skor 80 dari 100 di Metacritic berdasarkan 22 ulasan kritikus, dikategorikan sebagai “generally favorable”.

(BACA JUGA: Dokumenter ‘Diddy’ yang Diproduksi 50 Cent Berpeluang Masuk ‘Emmy Awards’)

Kritikus The Hollywood Reporter bahkan mengaku awalnya skeptis dan enggan menonton dua jam rekaman kedua Gallagher bersaudara “bertengkar dan menyombongkan diri”, namun akhirnya menangis sepanjang sisa film usai menyadari betapa besar makna band ini bagi banyak orang di seluruh dunia.

Kritikus Roger Ebert turut menyebutnya sebagai salah satu dokumenter musik terbaik yang pernah dibuat, karena filmnya tidak sekadar bercerita soal band, melainkan soal makna musik bagi kehidupan manusia sehari-hari.

Menariknya, dokumenter ini menjadi kontras dengan dokumenter Oasis sebelumnya, “Supersonic” (2016), yang berfokus pada awal mula dan kesuksesan cepat band ini.

Namun, sama sekali tidak menyinggung fakta bahwa sejak 2009 kedua bersaudara ini sudah tidak saling bicara. Sepuluh tahun berselang, ‘Don’t Look Back in Anger’ justru menempatkan isu perpecahan ini secara terbuka sebagai jantung cerita film.

Setelah tayang perdana di Venice Film Festival, dokumenter ini dijadwalkan tayang di bioskop di seluruh dunia sebelum akhirnya bisa disaksikan lewat Disney+.

Dengan menghadirkan kombinasi antara nostalgia, rekonsiliasi personal kedua Gallagher bersaudara dan perayaan atas salah satu comeback musik terbesar generasi ini.

Dokumenter ini digadang-gadang bakal jadi tontonan wajib, baik bagi penggemar lama Oasis maupun mereka yang baru mengenal band ini.

(Rendy Aditya, foto: rollingstone.com)

Share