Seorang pelanggan menuntut Dior Korea setelah tas edisi terbatas miliknya diperbaiki di workshop lokal tanpa persetujuannya.
Kasus baru kembali menyeret industri luxury fashion. Kali ini melibatkan Dior di Korea Selatan.
Melansir dari koreaherald.com, brand tersebut menghadapi laporan hukum setelah seorang pelanggan menuduh pihak Dior memberikan informasi yang menyesatkan terkait proses perbaikan tas mewah miliknya.
Tas tersebut awalnya dijanjikan akan dikirim ke Paris, namun belakangan diketahui justru ditangani oleh jasa perbaikan lokal tanpa persetujuannya.
KRONOLOGI LENGKAP
Kasus ini bermula dari sebuah tas Dior edisi terbatas yang dibeli oleh pelanggan tersebut pada 2016 seharga sekitar KRW 7 juta atau sekitar IDR 50 jutaan. Menurut kuasa hukum pelanggan dari firma Pyeongjeong, hanya satu tas dengan model tersebut yang masuk ke Korea saat itu.
Setelah digunakan selama delapan tahun, tas tersebut mengalami kerusakan kecil. Seperti beberapa ornamen manik-manik terlepas. Lalu pada Desember 2024, pelanggan tersebut kemudian membawa tas tersebut ke butik Dior di kawasan Gangnam, Seoul.
Di sinilah masalah dimulai.
Pihak butik disebut menyampaikan bahwa tas akan dikirim ke markas besar Dior di Paris untuk diperbaiki. Sebuah detail yang bagi banyak pelanggan luxury bukan sekadar teknis, tapi bagian dari nilai brand itu sendiri.
Namun menurut laporan, tas tersebut ternyata tidak pernah dikirim ke Paris.
Sebaliknya, perbaikan dilakukan oleh perusahaan lokal di Korea tanpa persetujuan pelanggan. Lebih jauh lagi, pihak jasa perbaikan tersebut juga dituduh melakukan perubahan pada tas, termasuk memindahkan dan memasang ulang ornamen tanpa izin.
Yang membuat situasi semakin janggal, pelanggan harus menunggu lebih dari satu tahun tanpa kejelasan sebelum akhirnya tas dikembalikan secara tiba-tiba pada Februari 2026.
(BACA JUGA: Merch Disney Kini Naik Kelas, dari Sekadar Suvenir Jadi Bagian dari Fashion Culture)

(Foto: purseblog.com)
Kecurigaan baru muncul sebulan kemudian, ketika pelanggan menemukan video di media sosial sebuah workshop lokal yang memperlihatkan tas yang diduga miliknya sedang diperbaiki.
Karena itu, sang pelanggan memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.
Firma hukum Pyeongjeong telah mengajukan laporan ke polisi terhadap pimpinan Christian Dior Couture Korea, staf butik Dior, serta pihak perusahaan reparasi lokal atas dugaan penipuan dan perusakan properti.
Selain itu, laporan juga diajukan ke otoritas perdagangan Korea karena Dior dianggap tidak mengikuti prosedur after-sales service yang seharusnya, termasuk transparansi soal lokasi perbaikan, estimasi waktu dan biaya.
Jika terbukti melanggar, Dior berpotensi menghadapi sanksi administratif hingga denda.
LEBIH DARI SEKADAR PERBAIKAN TAS
Di luar kasus hukumnya, cerita ini menyentuh satu hal yang lebih besar dalam dunia luxury fashion. Yaitu kepercayaan.
Untuk banyak pelanggan, membeli produk luxury bukan hanya soal barang, tapi juga pengalaman. Termasuk bagaimana brand tersebut merawat produk mereka setelah dibeli.
Janji seperti “dikirim ke Paris” bukan sekadar logistik. Itu bagian dari storytelling, craftsmanship, dan eksklusivitas yang dijual oleh brand seperti Dior.
Dan ketika janji itu tidak terpenuhi, yang dipertanyakan bukan hanya hasil perbaikannya, tapi juga kredibilitas brand itu sendiri.
Kasus ini masih dalam proses investigasi. Namun, satu hal sudah jelas. Di industri luxury, detail kecil seperti proses repair bisa membawa konsekuensi yang jauh lebih besar dari yang terlihat.
(Kirana Putri, foto: yaro.studio)
