Pidato kemenangan dari sutradara Park Shin Woo di ajang Baeksang Art Awards soal drama televisi banjir pujian dari masyarakat.
Malam 8 Mei 2026 di COEX Hall D, Seoul. Di tengah gemerlap 62nd Baeksang Arts Awards 2026, sutradara Park Shin-woo naik ke panggung untuk menerima penghargaan Best Director atas dramanya, Our Unwritten Seoul. Tidak ada yang menyangka bahwa pidatonya akan menjadi momen yang paling lama diingat malam itu.
Di tengah gempuran platform OTT seperti Netflix atau Disney+ yang kian mendominasi lanskap hiburan global, Park Shin Woo justru memilih untuk berbicara tentang mereka yang sering terlupakan dalam percakapan itu.
“Drama TV seharusnya ada untuk mereka yang merasa paling tidak memiliki tempat bersandar, mereka yang kesepian, mereka yang tidak memiliki waktu untuk pergi ke mana pun, dan mereka yang tidak memiliki biaya untuk membayar tontonan berbayar. Saya rasa itulah kegunaan dan nilai utama dari sebuah drama.”
Beberapa patah kata. Tapi bagi jutaan orang yang tidak berlangganan platform manapun, yang menyalakan televisi bukan karena pilihan tapi karena itu satu-satunya yang mereka punya, kalimat itu terasa seperti sebuah pengakuan yang sudah lama ditunggu.
Pertanyaan baru kemudian muncul. Mengapa sebuah drama fiksi bisa terasa seperti pelarian yang lebih nyaman dari kenyataan itu sendiri?
Jawabannya ada di psikologi dasar manusia. Melansir dari Frontiers in Psychology, binge-watching bisa diinterpretasikan sebagai strategi coping bagi para media escapists, yang menikmati serial televisi sebagai ruang istimewa di mana kebutuhan untuk melarikan diri terpenuhi, memungkinkan mereka untuk mengelola kesepian dengan cara mengidentifikasi diri dengan karakter fiksi.
Ini bukan kelemahan. Ini adalah cara otak melindungi dirinya sendiri. Melansir dari Roamers Therapy, comfort media memainkan peran penting dalam mereduksi efek negatif dan mendorong keseimbangan emosional.
Dengan menyediakan narasi emosional yang dapat diprediksi, ia mengurangi kecemasan, suasana hati yang depresif dan perasaan ketidakpastian. Menonton sesuatu yang familiar membuat otak berada dalam lingkungan yang aman dan dapat diprediksi, sekaligus menstimulasi indera.

Dengan kata lain, ketika dunia di luar terasa terlalu bising, terlalu tidak terkendali, dan terlalu melelahkan, layar menjadi satu tempat di mana semuanya tetap pada tempatnya.
Fenomena ini bukan hal baru, tapi pandemi COVID-19 mengungkapnya dengan cara yang lebih jelas dari sebelumnya.
Melansir dari The Mac Weekly, Annie Pezalla, profesor psikologi di Macalester College, menggambarkan comfort show sebagai serial yang memiliki penyelesaian yang rapi, sering kali tentang hubungan yang memelihara, atau yang menyentuh kenyamanan manusia yang paling dasar.
“Ini seperti comfort food. Kita semakin condong ke arahnya di masa-masa stres. Dan kita melihat peningkatan perilaku itu selama pandemi.”
Data membuktikannya. Melansir dari The Mac Weekly, Netflix mendapatkan 16 juta pelanggan baru alih-alih 7 juta yang diproyeksikan, dengan surplus 9 juta pelanggan diperoleh hanya selama Maret 2020 ketika negara-negara di seluruh dunia memberlakukan karantina.
Orang-orang tidak hanya mencari hiburan. Mereka mencari pegangan.
Yang membuat drama, baik Korea maupun Barat, begitu efektif sebagai tempat berlindung adalah kemampuannya untuk menciptakan koneksi emosional yang terasa nyata meski semua karakternya fiktif.
Melansir dari Frontiers in Psychology, penelitian menemukan bahwa daya tarik melarikan diri dari kenyataan melalui serial televisi berkaitan erat dengan kemampuan penonton untuk mengidentifikasi diri dengan karakternya.
Ketika penonton sedang menghadapi emosi yang tidak menyenangkan, mengidentifikasi dengan karakter menjadi pintu keluar yang aman.
Ini menjelaskan mengapa kita menangis untuk karakter yang tidak pernah kita temui, mengapa kita merasa kehilangan ketika sebuah serial berakhir dan mengapa kita kembali menonton episode yang sama berkali-kali di momen tertentu dalam hidup.
Kita bukan sedang menonton sebuah cerita. Kita sedang meminjam kekuatan dari karakter yang berhasil melewati sesuatu yang mungkin sedang kita hadapi.
(BACA JUGA: 1.001 Topeng Shin Hye Sun yang Timbulkan Decak Kagum)

Dan inilah yang membuat kata-kata Park Shin Woo di panggung Baeksang begitu tepat dan begitu berat sekaligus.
Di era di mana menikmati konten berkualitas semakin identik dengan kemampuan finansial untuk berlangganan satu, dua, atau bahkan tiga platform sekaligus, ada kelompok besar yang diam-diam tertinggal. Mereka bukan tidak ingin menikmati hiburan yang baik.
Mereka hanya tidak punya akses yang sama. Dan di sinilah drama televisi, dengan segala keterbatasannya di tengah persaingan dengan OTT, masih memegang peran yang tidak tergantikan.
Melansir dari Roamers Therapy, seiring meningkatnya konsumsi media, semakin populernya tayangan yang mengandung elemen menghibur menggarisbawahi kebutuhan mendasar manusia akan rasa aman dan stabilitas emosional. Kebutuhan itu tidak mengenal batas langganan.
Ia sama besarnya, baik pada mereka yang menonton di layar smartphone dengan koneksi internet cepat, maupun pada mereka yang menonton di televisi tua di sudut ruangan.
Jadi, lain kali kamu menemukan dirimu menonton episode demi episode di tengah malam, atau kembali ke serial lama yang sudah kamu tonton berkali-kali, ingatlah bahwa di tempat lain, seseorang mungkin juga sedang melakukan hal yang sama, dengan layar yang berbeda, dengan cerita yang berbeda, tapi dengan kebutuhan yang persis sama. Mencari tempat untuk bersandar.
(Rendy Aditya, foto: soompi.com)
