Makan di Michelin Star Restaurant, Is It Worth It?

Dari fine dining ratusan dolar sampai street food legendaris, Michelin Star ternyata lebih soal standar rasa daripada harga.

Ada dua tipe orang setelah makan di tempat berlabel Michelin. Pertama pulang dengan perasaan, “This was an experience”. Kedua pulang sambil mikir, “Ini doang?”. Pertanyaannya jadi sederhana. Sebenarnya, makan di restoran Michelin Star itu worth it atau tidak?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana harga atau rasa.

MICHELIN STAR SEBENARNYA MENILAI APA?

Banyak yang mengira Michelin Star adalah daftar “restoran terenak di dunia.” Padahal, sistem ini bekerja sedikit berbeda. Michelin menilai berdasarkan:

  • kualitas bahan
  • teknik memasak
  • keseimbangan rasa
  • konsistensi
  • karakter chef dalam masakannya

Bahkan definisinya pun cukup spesifik:

  • 1 bintang: layak untuk dicoba
  • 2 bintang: layak untuk didatangi secara khusus
  • 3 bintang: layak untuk perjalanan khusus

Artinya, sejak awal Michelin memang tidak berbicara soal murah atau mahal. Tapi soal seberapa jauh pengalaman makan itu dianggap bernilai.

Selama ini, Michelin Star sering diasosiasikan dengan restoran formal, plating cantik dan suasana yang terasa eksklusif. Padahal, realitanya lebih luas.

Tempat seperti Hawker Chan pernah dikenal sebagai salah satu restoran Michelin Star termurah di dunia, sementara Jay Fai tetap mempertahankan konsep street food dengan dapur terbuka sederhana tanpa mengorbankan kualitas.

Keduanya membuktikan satu hal. Michelin tidak menilai kemewahan. Mereka menilai execution.

(BACA JUGA: Pecahkan Rekor, Indonesia Jadi Negara dengan Kedai Kopi Terbanyak di Dunia)

LALU KENAPA BANYAK YANG MAHAL?

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak restoran Michelin terutama yang berbintang dua atau tiga, datang dengan harga yang tidak masuk akal bagi sebagian orang. Tapi yang dibayar sebenarnya bukan hanya makanan. Ada:

  • riset bahan dan teknik
  • plating yang detail
  • alur makan yang dirancang seperti cerita
  • service yang sangat personal

Di titik ini, makan bukan lagi sekadar makan. Ia berubah jadi pengalaman yang mendekati performance.

TAPI… APAKAH SELALU ENAK?

Di sinilah ekspektasi sering berbenturan dengan realita. Tidak semua orang menikmati Michelin dining. Ada yang merasa:

  • porsinya terlalu kecil
  • rasanya terlalu eksperimental
  • atau suasananya terlalu kaku

Dan itu valid. Karena Michelin sering kali lebih menghargai kreativitas dan teknik dibanding kenyamanan rasa yang familiar.

(BACA JUGA: Dulunya Dianggap Sampah, Menu Ini Sekarang Jadi Makanan Mewah)

JADI, WORTH IT ATAU TIDAK?

Mungkin jawabannya tergantung pada satu hal sederhana. Kamu datang untuk apa? Kalau kamu mencari:

  • kenyang
  • makan santai
  • rasa yang familiar

Michelin mungkin terasa overrated. Tapi kalau kamu mencari:

  • pengalaman yang berbeda
  • storytelling lewat makanan
  • detail yang tidak biasa

Maka Michelin bisa terasa sangat worth it.

Pada akhirnya, Michelin Star bukan tentang menemukan makanan terenak di dunia. Tapi tentang melihat seberapa jauh makanan bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar makan.

Dan di antara semua ekspektasi itu, mungkin yang paling penting bukan apakah ia worth it. Tapi apakah kamu siap menikmatinya dengan cara yang berbeda.

(Kirana Putri, foto: unsplash.com/grigorii shcheglov)

Share