Penemuannya Berhasil Mengubah Dunia, Tapi 3 Ilmuwan Perempuan Ini “Disembunyikan”

HEDY LAMARR

(Foto: curlboutiqueme.com)

Kalau ada nama di daftar ini yang paling ironis, itu adalah Hedy Lamarr.

Lahir di Wina, Austria, pada 1914 dengan nama Hedwig Eva Maria Kiesler, Hedy Lamarr dikenal di dunia sebagai salah satu aktris paling cantik di era keemasan Hollywood.

Wajahnya menghiasi sampul majalah, filmnya meledak di box office dan kecantikannya begitu ikonik hingga konon menjadi inspirasi Walt Disney saat mendesain karakter Snow White.

Di mata publik, ia adalah simbol glamor Hollywood dan tidak lebih dari itu.

Yang tidak diketahui siapa pun adalah bahwa setiap malam setelah syuting panjang di MGM Studios, Hedy tidak pergi ke pesta atau bersantai bersama rekan-rekannya. Ia duduk di “meja penemuan”-nya dan tinkering dengan ide-ide baru.

Ia memiliki IQ sekitar 140 dan rasa ingin tahu yang tidak pernah padam sejak kecil. Saat usia lima tahun, ia sudah membongkar dan merakit ulang kotak musiknya hanya untuk memahami cara kerjanya.

Saat Perang Dunia II berkecamuk, Lamarr merasa tidak nyaman hanya duduk di Hollywood sambil menghasilkan uang. Dengan pengetahuannya tentang persenjataan yang ia peroleh dari pernikahan pertamanya dengan seorang produsen amunisi Austria, ia mulai memikirkan cara untuk membantu Sekutu.

Bersama komposer George Antheil, ia mengembangkan sebuah sistem komunikasi rahasia yang mereka sebut “frequency hopping”. Yakni sebuah metode di mana sinyal radio berpindah-pindah frekuensi secara acak dan tersinkronisasi, sehingga tidak bisa dilacak oleh musuh.

Mereka mendaftarkan patennya pada 1942. Tapi Angkatan Laut AS menolak menggunakannya dan malah menyarankan Lamarr untuk menjual war bonds dengan wajah cantiknya.

Paten itu akhirnya masuk ke ranah publik sebelum sempat dimonetisasi. Teknologinya kemudian diadopsi oleh militer AS pada 1960-an dan menjadi fondasi dari hampir semua komunikasi nirkabel modern. Seperti Wi‑Fi, GPS dan Bluetooth. Semuanya berakar dari ide yang lahir di meja penemuan seorang aktris Hollywood.

Lamarr tidak mendapat sepeser pun dari semua itu. Penghargaan pertamanya baru datang saat ia berusia 82 tahun, ketika sekelompok insinyur menyadari bahwa nama “Hedwig Kiesler Markey” yang tertera di paten lama itu adalah Hedy Lamarr.

Ia meninggal pada tahun 2000 dan baru resmi masuk ke National Inventors Hall of Fame pada 2014. 14 tahun setelah kepergiannya.

(BACA JUGA: 1905: The “Miracle Year” of Albert Einstein)

ROSALIND FRANKLIN

(Foto: cinz.n)

Pada 1952, seorang ahli kimia bernama Rosalind Franklin menghabiskan 100 jam memaparkan sampel DNA pada sinar X di laboratoriumnya di King’s College London. Hasilnya adalah sebuah foto yang kemudian dikenal sebagai Photograph 51.

Sebuah gambar difraksi sinar X yang memperlihatkan pola yang selama ini dicari oleh para ilmuwan. Yakni struktur heliks ganda DNA.

Foto itu, menurut arsiparis King’s College Geoff Bowell, adalah “arguably the most important photo ever taken.”

Yang terjadi selanjutnya adalah salah satu kisah paling kontroversial dalam sejarah sains. Tanpa sepengetahuan Franklin, koleganya Maurice Wilkins memperlihatkan foto itu kepada James Watson dari Cambridge.

Watson sendiri mengakui dalam memoarnya, begitu ia melihat foto itu, mulutnya menganga dan jantungnya berdebar kencang karena terkejut. Ia langsung yakin bahwa DNA itu berbentuk heliks ganda.

Beberapa minggu kemudian, Watson dan Francis Crick mempublikasikan model struktur DNA dalam jurnal Nature. Franklin tidak disebut namanya. Tidak di paper utama, tidak di ucapan terima kasih.

Pada 1962, Watson, Crick dan Wilkins menerima Nobel Prize untuk penemuan struktur DNA ini. Franklin tidak bisa diikutsertakan karena dua alasan. Yaitu Nobel tidak diberikan secara anumerta dan Franklin telah meninggal karena kanker ovarium pada 1958 di usia 37 tahun.

Kisah Franklin lebih dari sekadar kredit yang tidak diberikan. Ia bekerja di lingkungan yang secara aktif tidak ramah terhadap perempuan. Rekan-rekannya memanggilnya dengan sebutan “Rosy”, sebuah nama yang ia benci dan tidak pernah mengizinkan siapa pun memanggilnya dengan nama itu.

Watson menggambarkannya dalam memoarnya sebagai sosok yang “sulit diajak bekerja sama”. Sebuah karakterisasi yang bagi banyak orang terasa seperti cara untuk mendiskreditkan perempuan yang terlalu vokal mempertahankan haknya atas penelitiannya sendiri.

Hari ini, konsensus ilmiah semakin kuat bahwa Franklin seharusnya diakui sebagai co-discoverer yang setara dalam penemuan struktur DNA. Fotonya adalah kunci. Tanpa Photograph 51, Watson dan Crick tidak akan sampai pada model mereka secepat itu atau bahkan mungkin tidak akan pernah.

STEPHANIE KWOLEK

(Foto: sciencehistory.org)

Pada suatu hari di tahun 1965, Stephanie Kwolek sedang bekerja di laboratorium DuPont ketika ia menghasilkan sesuatu yang aneh. Sebuah larutan polimer yang encer dan keruh, sangat berbeda dari larutan jernih dan kental yang biasanya dihasilkan dalam riset seperti itu.

Teknisi laboratorium menolak untuk memprosesnya. Menurutnya, larutan itu terlalu cair dan kemungkinan mengandung partikel yang bisa merusak alat pemintal serat. Tapi Kwolek tidak menyerah.

Ia meyakinkan sang teknisi untuk mencobanya dan hasilnya mengejutkan semua orang.

Serat yang dihasilkan dari larutan “gagal” itu ternyata luar biasa. Ringan, tahan panas dan lima kali lebih kuat dari baja dengan berat yang sama. Di hari itu, Kwolek telah menemukan Kevlar.

Lahir pada 1923 dari keluarga imigran Polandia di Pennsylvania, Kwolek awalnya bermimpi menjadi dokter. Tapi ketika ia tidak mampu membiayai sekolah kedokteran setelah lulus dari Carnegie Mellon, ia mengambil pekerjaan sementara sebagai kimiawan di DuPont.

Dan pekerjaan sementara itu berubah menjadi karier selama 40 tahun. Ia adalah salah satu dari sedikit perempuan yang bekerja sebagai kimiawan di DuPont pada era 1960-an, ketika industri pada masa itu masih sangat didominasi laki-laki.

Kevlar hari ini digunakan dalam ratusan produk. Mulai dari rompi antipeluru yang menyelamatkan nyawa aparat keamanan, helm militer, serat optik bawah laut, ban radial, tali mooring untuk kapal, hingga peralatan olahraga seperti raket tenis dan peralatan arung jeram.

Di hari Kwolek meninggal pada 2014 saat usianya 90 tahun, DuPont mengumumkan bahwa rompi antipeluru berbahan Kevlar yang ke-satu juta baru saja terjual.

Tapi ada satu detail yang mungkin membuat kamu mengernyitkan dahi. Meskipun penemuannya menghasilkan miliaran dolar pendapatan untuk DuPont, Kwolek tidak mendapat keuntungan finansial langsung dari itu.

Ia menandatangani paten Kevlar untuk perusahaan. Sebuah praktik yang umum di era itu. Dan karena itu ia tidak pernah menerima royalti atas penemuannya.

Pengakuan atas karyanya baru datang lewat berbagai penghargaan profesional, termasuk National Medal of Technology pada 1996 dan induksi ke National Inventors Hall of Fame pada 1995.

(Kirana Putri, foto: freepik.com/freepik)

Share

Related Post