Ralph Lauren Spring 2027: Find Romance in Personal Style

Koleksi terbaru Ralph Lauren Spring 2027 membuka New York Fashion Week dengan sentuhan romantis, nostalgia dan pesan bahwa gaya terbaik tidak pernah benar-benar punya formula.

Ralph Lauren kembali membuka rangkaian New York Fashion Week dengan koleksi yang terasa sangat personal.

Digelar di Jack Shainman Gallery, Tribeca, pertunjukan ini memperlihatkan bagaimana sang desainer terus mengeksplorasi berbagai sisi American style. Mulai dari Western, streetwear, preppy, hingga refined dan rugged, tanpa kehilangan karakter khas Ralph Lauren.

Untuk koleksi kali ini, pendekatan tersebut hadir dalam versi yang lebih romantis.

Alih-alih menampilkan pakaian yang terlihat terlalu sempurna, Ralph Lauren justru menghadirkan busana dengan kesan antiqued dan weathered, seolah memiliki cerita serta perjalanan masing-masing.

Pertunjukan dibuka dengan tampilan silk brocade berwarna putih optik yang terdiri dari atasan bergaya korset yang membentuk pinggang dan celana senada.

Diiringi lagu “Love in Portofino” dari Andrea Bocelli, look tersebut langsung membawa suasana romantis yang elegan, tetapi tetap terasa santai dan tidak berlebihan.

Nuansa sensual kemudian semakin terlihat melalui kombinasi denim dengan jaket silk brocade berhiaskan fur trim. Ralph Lauren juga menghadirkan wrap dress yang dibuat dengan teknik single seam sehingga kain dapat bergerak mengikuti tubuh ketika dikenakan.

Sementara itu, embroidered velvet robes memberikan kesan mewah dan intim. Potongannya terasa seperti pakaian yang bisa digunakan untuk bersantai di kamar tidur, tetapi tetap memiliki kemewahan khas dunia Ralph Lauren.

(BACA JUGA: Spring is Coming, Welcoming West Village Wardrobe!)

Teknik pengerjaan menjadi salah satu daya tarik utama koleksi ini. Beberapa busana menggunakan teknik crumpling pada rok lebar, sementara detail hand-painted dan burnout memberikan tekstur yang lebih hidup.

Bahkan, sequins sengaja dibuat tidak terlalu berkilau untuk menciptakan tampilan yang lebih lembut dan vintage-inspired.

Dalam catatan pertunjukan, Ralph Lauren menyebut koleksi ini sebagai “an irreverent take on romance that created new elegance”. Sebuah pendekatan terhadap romansa yang tidak terlalu konvensional, tetapi justru melahirkan bentuk keanggunan baru.

Ia juga menekankan pentingnya ingenuity, originality dan character dalam berpakaian. Bagi Ralph Lauren, busana bukan sekadar cara mengikuti tren, melainkan medium untuk menciptakan gaya yang benar-benar personal.

Pesan tersebut terasa relevan di tengah perbincangan tentang personal style yang semakin ramai di internet.

Saat ini, gaya berpakaian sering diperlakukan seperti sesuatu yang bisa dipelajari melalui formula tertentu. Mulai dari menentukan aesthetic, mencari item yang tepat, hingga mengikuti tren yang sedang populer.

Namun, koleksi Ralph Lauren mengingatkan bahwa gaya personal tidak selalu lahir dari tampilan yang seragam atau sempurna. Justru, detail yang sedikit tidak terduga, tekstur yang tidak terlalu rapi dan elemen vintage dapat membuat sebuah pakaian terasa lebih berkarakter.

(Kirana Putri, foto: whowhatwear.com)

Share