Gaun hitam ikonik yang dikenakan Putri Diana pada malam pengakuan perselingkuhan Pangeran Charles akan kembali menjadi sorotan melalui lelang Sotheby’s pada Desember 2026.
Gaun yang dikenal sebagai “Revenge Dress” milik Putri Diana akan kembali dilelang oleh Sotheby’s untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade.
Gaun hitam rancangan desainer asal Yunani, Christina Stambolian, tersebut dijadwalkan menjadi bagian dari lelang khusus fashion di New York pada 9 Desember 2026.
Gaun berbahan silk crepe itu diperkirakan terjual dengan harga antara USD 150.000 hingga USD 300.000 atau sekitar IDR 2,6 sampai IDR 5,2 miliar.
Selain nilai historisnya sebagai salah satu busana paling terkenal dalam sejarah kerajaan Inggris, gaun ini juga memiliki makna budaya yang jauh melampaui material dan desainnya.
Sebelum dilelang, gaun tersebut akan dipamerkan dalam tur internasional. Pameran dimulai di London pada 18–24 September, kemudian berlanjut ke Hong Kong dan Jenewa, sebelum akhirnya tiba di New York pada 2 Desember menjelang lelang utama.
Putri Diana mengenakan gaun tersebut pada 29 Juni 1994 ketika menghadiri acara penggalangan dana di Serpentine Gallery, London.
Malam itu bertepatan dengan penayangan wawancara televisi Pangeran Charles yang saat itu secara terbuka mengakui perselingkuhannya.
Alih-alih menghindari sorotan publik, Diana justru hadir dengan gaun hitam berpotongan off-the-shoulder, siluet yang memeluk tubuh, serta detail draping pada bagian rok.
Ia melengkapinya dengan choker mutiara, kuku dan lipstik merah, menciptakan penampilan yang kemudian dianggap sebagai bentuk pernyataan percaya diri dan kemandirian.
Menariknya, Diana telah memiliki gaun tersebut selama tiga tahun sebelum akhirnya mengenakannya di depan publik. Ia sebelumnya menganggap desain tersebut terlalu berani untuk sebuah penampilan resmi.
(BACA JUGA: Gaun Ikonik Putri Diana “Kembali” ke Cannes Setelah Hampir 40 Tahun)
Namun, pada malam itu, ia memilih gaun tersebut dan meninggalkan rencana awal untuk mengenakan busana dari Valentino.
Sejak saat itu, gaun tersebut dikenal sebagai “Revenge Dress”. Sebuah istilah yang kemudian berkembang menjadi fenomena revenge dressing, yaitu pilihan busana yang digunakan seseorang untuk menunjukkan rasa percaya diri setelah mengalami perpisahan, pengkhianatan, atau situasi emosional yang sulit.
Diana tidak pernah kembali mengenakan gaun tersebut di depan publik.
Pada Juni 1997, ia menjual gaun itu bersama 78 gaun lainnya dalam lelang amal untuk menggalang dana bagi organisasi yang bergerak di bidang kanker dan AIDS.
Gaun tersebut kemudian dibeli oleh kolektor pribadi dan nyaris tidak terlihat di publik selama hampir 30 tahun.
Lelang terbaru ini juga akan melanjutkan jejak filantropi Diana. Sebagian hasil penjualan akan disumbangkan kepada NHS Lothian Charity untuk mendukung Royal Edinburgh Hospital.
Dengan demikian, gaun tersebut tidak hanya kembali menjadi artefak fashion, tetapi juga meneruskan hubungan panjangnya dengan kegiatan amal.
Bagi Sotheby’s, daya tarik utama gaun ini bukan semata-mata karena pernah dikenakan oleh seorang putri.
Nilainya juga terletak pada pesan yang berhasil disampaikan Diana melalui pakaian. Bahwa dalam salah satu periode paling sulit dan paling banyak disorot dalam hidupnya, ia tetap mampu menentukan bagaimana dirinya ingin dilihat oleh dunia.
(Kirana Putri, foto: cnn.com)
