Di antara semua perempuan luar biasa yang pernah ada, ada satu nama yang memenuhi ketiga dimensi itu dengan cara yang tidak bisa dibantah.
Brain, beauty and behavior. Tiga kata yang mudah diucapkan, tapi sangat sulit ditemukan dalam satu sosok secara bersamaan.
Kita hidup di era di mana ketiga hal ini sering kali dipisahkan. Kecerdasan dianggap bertolak belakang dengan kecantikan. Perilaku yang baik sering dikira kelemahan.
Dan perempuan yang berhasil meraih ketiganya sekaligus sering kali justru menghadapi lebih banyak hambatan daripada yang seharusnya.
Tapi sepanjang sejarah, ada perempuan-perempuan yang membuktikan bahwa ketiga hal itu bisa hidup berdampingan dalam satu diri, dengan cara yang tidak hanya menginspirasi, tapi juga mengubah dunia.
Dan kalau harus memilih satu nama, pilihan itu jatuh pada Marie Curie.
SIAPA MARIE CURIE?
Untuk memahami betapa luar biasanya kecerdasan Marie Curie, kita perlu mengenal dan memahami dulu siapa dia.
Melansir dari Chapman University, Marie Curie lahir sebagai Maria Salomea Skłodowska di Warsawa, Polandia pada 1867. Marie lahir di era ketika pendidikan tinggi bagi perempuan tidak hanya tidak didorong, tetapi juga secara aktif dilarang.
Orangtuanya adalah pengecualian yang justru mendorong Marie untuk belajar. Ia awalnya hanya belajar di rumah. Tapi kemudian saat usia belasan orangtuanya mengirim Marie ke Paris untuk kuliah di Sorbonne.
Di Paris, Marie tidak hanya belajar, tetapi juga dipertemukan dengan cinta. Seorang pria bernama Pierre Curie, yang merupakan seorang peneliti yang juga sedang mengerjakan studi tentang medan magnet dan listrik.
Keduanya menemukan kesamaan tidak hanya dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam cara memandang dunia dan menikah pada musim panas 1895.
(BACA JUGA: 1905, The “Miracle Year” of Albert Einstein)

(Foto: britannica.com)
Brainiacs Part
Pierre bukan hanya suami. Ia adalah mitra intelektual yang memperlakukan Marie sebagai ilmuwan yang setara, sesuatu yang sangat langka di era itu.
Bersama Pierre, Marie mulai menyelami sesuatu yang belum banyak dipahami oleh dunia sains saat itu. Melansir dari OurMentalHealth, Marie Curie memfokuskan penelitiannya pada sinar uranium yang ditemukan oleh Henri Becquerel pada 1896.
Dengan metodologi yang sangat ketat dan inovatif, ia mengembangkan teknik baru untuk mengisolasi material radioaktif dan mengukur sifat-sifatnya, membuktikan bahwa radioaktivitas adalah properti atom, bukan hasil dari interaksi kimia.
Temuan ini mengguncang keyakinan yang sudah lama dipegang oleh dunia sains tentang struktur atom. Dari sana, ia membangun dan menemukan sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.
Pertama adalah polonium, yang ia namai sesuai tanah airnya, Polandia. Kedua adalah radium. Karya mereka menghasilkan teori radioaktivitas yang revolusioner. Dan pencapaiannya tidak berhenti di situ.
Melansir dari UCI, Marie Curie adalah perempuan pertama yang meraih Nobel Prize dan satu-satunya orang dalam sejarah yang meraihnya di dua bidang ilmu yang berbeda. Fisika pada 1903 dan kimia pada 1911.
Pada 1906, ia juga menjadi perempuan pertama yang memegang gelar profesor di Universitas Paris. Tapi yang paling mengagumkan bukan hanya pencapaiannya.
Melansir dari OurMentalHealth, analisis retrospektif terhadap kepribadian Marie Curie menempatkannya sebagai tipe INTP dalam sistem Myers-Briggs, seorang pemikir yang sangat analitis, logis dan inovatif dengan kemandirian intelektual yang sangat kuat.
Sifat-sifat inilah yang memungkinkannya membuat penemuan-penemuan yang belum pernah ada sebelumnya di bidang yang didominasi laki-laki.
Beauteous Part
Berbicara tentang kecantikan Marie Curie bukan soal fitur wajah atau standar estetika yang berlaku di zamannya. Karena kecantikan yang paling abadi selalu datang dari sesuatu yang jauh lebih dalam daripada permukaan.
Ada sebuah kualitas yang terpancar dari setiap foto dan catatan sejarah tentang Marie Curie. Yakni ketenangan. Bukan ketenangan yang pasif atau menyerah, tapi ketenangan yang lahir dari keyakinan yang sangat dalam tentang apa yang ia perjuangkan.
Di ruang-ruang yang dipenuhi laki-laki yang meragukan kemampuannya, ia hadir dengan kepala tegak dan pikiran yang bekerja lebih keras dari siapa pun di ruangan itu.
Melansir dari Goodreads, Albert Einstein pernah berkata bahwa Marie Curie adalah satu-satunya tokoh terkenal yang tidak dirusak oleh ketenarannya. Sebuah kalimat yang mengatakan lebih banyak tentang karakternya daripada deskripsi fisik apapun.
Di era ketika ketenaran bisa dengan mudah mengubah seseorang, Marie Curie tetap menjadi dirinya sendiri sampai akhir. Dan itulah kecantikan yang sesungguhnya.
(BACA JUGA: Agatha Christie, Penulis Fiksi Misteri yang Pernah Menghilang dalam Misteri)

(Foto: nobelprize.org)
Behaviorist Part
Inilah dimensi yang paling membuat Marie Curie berbeda dari sekadar ilmuwan brilian.
Melansir dari Goodreads, Marie Curie meninggalkan warisan yang sangat besar bagi para ilmuwan masa depan melalui penelitiannya, pengajarannya dan kontribusinya terhadap kesejahteraan umat manusia.
Ia tidak pernah mematenkan penemuannya karena percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah milik semua orang, bukan alat untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.
Ketika Perang Dunia I pecah, Marie Curie tidak bersembunyi di laboratoriumnya. Ia mengembangkan unit X-ray mobile yang kemudian dikenal sebagai “petites Curies” atau Curie kecil dan membawanya langsung ke garis depan perang untuk merawat tentara yang terluka.
Ia bahkan mengendarai kendaraan tersebut sendiri ke medan perang. Melansir dari American Scientist, Marie Curie menjalani hidupnya dengan dedikasi total terhadap pekerjaannya.
Sebuah komitmen yang tidak pernah goyah meski ia menghadapi diskriminasi, kehilangan orang-orang yang ia cintai dan tekanan kesehatan akibat paparan radioaktif yang akhirnya merenggut nyawanya.
Ia tahu risiko dari pekerjaannya, tapi ia memilih untuk terus melanjutkannya demi ilmu pengetahuan yang ia yakini bisa membantu umat manusia.
Melansir dari Chapman University, dari masa kecilnya hingga kematiannya pada 1934, hidupnya dibentuk oleh keyakinan bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah hak semua orang, termasuk perempuan dan ia membuktikan keyakinan itu bukan dengan kata-kata melainkan dengan seluruh hidupnya.
Dunia sudah melahirkan banyak perempuan dengan kecerdasan yang luar biasa. Banyak perempuan dengan kecantikan yang memukau. Dan banyak perempuan dengan perilaku yang mulia.
Tapi menemukan ketiganya dalam satu sosok, dalam proporsi yang sama besarnya, adalah sesuatu yang sangat langka. Marie Curie bukan perempuan sempurna. Ia punya luka, punya masa-masa gelap, dan punya harga yang harus ia bayar untuk setiap pencapaiannya.
Tapi justru di situlah letak relevansinya untuk kita hari ini. Ia tidak sempurna, tapi ia tidak pernah berhenti. Dan mungkin itulah definisi brain, beauty and behavior yang paling jujur.
Bukan tentang menjadi sempurna di ketiganya, tapi tentang tidak pernah menyerah untuk menjadi lebih baik di ketiganya, setiap hari, dalam kondisi apa pun.
(Kirana Putri, foto: newscientist.com)
