Mulai dari gaya folk bohemian hingga sentuhan stainless steel, tren interior tahun ini menunjukkan pergeseran dari rumah minimalis.
Selama beberapa tahun terakhir, gaya quiet luxury dan interior serba netral mendominasi media sosial. Namun, menurut Who What Wear, tren interior 2026 justru bergerak ke arah yang berbeda.
Rumah kini tidak lagi dipandang sebagai ruang yang harus selalu terlihat sempurna, melainkan sebagai tempat untuk mengekspresikan karakter penghuninya.
Warna yang lebih berani, material alami, hingga furnitur dengan bentuk unik menjadi beberapa elemen yang diprediksi akan semakin populer sepanjang tahun ini.
FOLK BOHEMIA
Gaya bohemian kembali hadir, tetapi dengan tampilan yang lebih hangat dan terasa artisan.
Jika boho dulu identik dengan rotan, dinding putih dan dekorasi bergaya tropis, versi terbarunya lebih banyak menghadirkan tekstil buatan tangan, kayu dengan berbagai finishing, serta palet warna bumi yang kaya.
Hasil akhirnya adalah ruangan yang terasa nyaman, penuh karakter, dan tidak terlalu “rapi” secara berlebihan.
EUROPEAN POSTMODERNISM
Setelah bertahun-tahun furnitur bergaya mid-century modern menjadi favorit, kini perhatian mulai bergeser ke desain postmodern Eropa dari era 1970-an hingga awal 1990-an.
Furnitur dengan bentuk melengkung, meja fiberglass bergaya space age, hingga sofa ikonik seperti Togo mulai kembali diminati karena memberi kesan playful sekaligus artistik.
(BACA JUGA: Jangan Lagi Putih, Pilih Warna Ini untuk Fasad Rumah Kamu)
WOOD ACCENTS
Material kayu kembali menjadi salah satu elemen utama dalam desain interior.
Mulai dari panel dinding, rak built-in, meja makan, hingga headboard tempat tidur, kayu dinilai mampu menghadirkan rasa hangat yang sebelumnya sempat tergantikan oleh material seperti beton atau batu.
Menariknya, tren ini tidak terpaku pada satu jenis kayu, tetapi justru menggabungkan berbagai warna dan tekstur agar ruangan terasa lebih hidup.
ANIMAL PRINT
Motif leopard, zebra, hingga cowhide tidak hanya hadir di dunia fashion. Tahun ini, corak animal print mulai banyak digunakan pada karpet, kursi, bantal dekoratif, maupun upholstery.
Kuncinya adalah menjadikannya sebagai aksen, bukan elemen utama, sehingga ruangan tetap terlihat elegan tanpa terasa terlalu ramai.
STAINLESS STEEL
Material stainless steel masih mempertahankan popularitasnya, tetapi kini penggunaannya meluas ke luar area dapur.
Rak, meja samping, lampu, hingga aksesori dekoratif berbahan logam mulai banyak dipilih karena memberikan kesan modern sekaligus sedikit sentuhan retro yang mengingatkan pada desain akhir 1990-an dan awal 2000-an.
CHINTZ CHARMING
Kain bermotif floral klasik atau chintz kembali mendapatkan tempat di dunia interior.
Berbeda dengan tampilannya yang dulu identik dengan rumah bergaya tradisional, kini motif bunga dipadukan dengan furnitur modern sehingga menghasilkan tampilan yang lebih segar.
Kehadirannya juga menjadi bagian dari tren maksimalisme yang lebih personal dan penuh warna.
“GIRL” MESS
Salah satu perubahan terbesar tahun ini justru bukan berasal dari furnitur, melainkan dari cara orang memandang rumah. Who What Wear bahkan menyebut tren ini sebagai “girl” mess. Yaitu rumah yang terlihat benar-benar dihuni.
Meja kerja yang masih dipenuhi catatan, buku di atas sofa, produk skincare yang tetap berada di kamar mandi, hingga dapur yang menunjukkan aktivitas memasak justru dianggap menciptakan kesan yang lebih autentik dibandingkan dengan rumah yang selalu terlihat seperti ruang pamer.
Melihat berbagai tren tersebut, arah desain interior 2026 tampaknya semakin menjauh dari konsep rumah yang serba steril dan minimalis.
Sebaliknya, rumah kini didorong menjadi ruang yang terasa hangat, nyaman dan mampu mencerminkan kepribadian penghuninya.
Jadi, kalau kamu berencana memperbarui tampilan rumah tahun ini, mungkin tidak perlu langsung melakukan renovasi besar.
Menambahkan tekstur kayu, bermain dengan motif, atau membiarkan rumah terlihat lebih lived-in bisa menjadi langkah awal yang membuat suasana terasa berbeda.
(Kirana Putri, foto: unsplash.com/spacejoy)
