Bukdong, Fenomena “Malas” Kerja di Korea Selatan yang Maknanya Lebih Dalam dari Itu

Bukdong jadi istilah baru untuk menggambarkan tentang kehilangan motivasi kerja dan rasa kosong yang kini banyak dialami generasi muda. 

Di tengah budaya kerja Korea Selatan yang dikenal kompetitif dan serba cepat, semakin banyak generasi muda yang mulai merasa lelah untuk terus mengikuti ritme yang sama. Namun, rasa lelah ini tidak selalu muncul dalam bentuk burnout ekstrem.

Kadang, ia hadir lebih sunyi. Bangun pagi terasa berat, bekerja terasa hambar dan hidup berjalan seperti autopilot. Kondisi emosional inilah yang belakangan mulai dikenal lewat istilah “Bukdong”.

Yakni sebuah kata tidak baku atau slang, yang digunakan untuk menggambarkan hilangnya motivasi dan rasa kosong yang kini banyak dirasakan anak muda Korea Selatan di tengah tekanan hidup modern. Atau, kalau dalam bahasa Inggris bisa diartikan sebagai emotional disengagement. 

(BACA JUGA: Quiet Quitting dan Burnout, Bagaimana Gen Z Mendefinisikan Ulang Makna Bekerja?)

APA ITU BUKDONG?

Seperti yang diceritakan di dalam lagu tersebut, bukdong pada dasarnya merujuk pada kondisi ketika seseorang terlihat tetap berfungsi secara normal, terutama dalam dunia kerja, tetapi kehilangan keterlibatan emosional terhadap hidup maupun pekerjaannya. Secara sederhananya, tubuh mereka ada di kantor, tapi mental atau nyawanya tidak di sana.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan budaya kerja Korea Selatan yang sangat kompetitif dan menuntut produktivitas tinggi. Dalam banyak lingkungan kerja, kehadiran fisik dan image sebagai pekerja keras masih dianggap penting bahkan ketika seseorang sebenarnya sudah kelelahan secara mental.

Akibatnya, banyak orang tetap bekerja bukan karena masih punya semangat, tapi karena merasa harus terus berjalan.

KETIKA KERJA HANYA JADI RUTINITAS HIDUP

Yang membuat bukdong terasa menarik adalah karena ia berbeda dari stereotip “malas”.

Orang yang mengalami kondisi ini sering kali tetap datang ke tempat kerja, tetap menyelesaikan tugas dan tetap terlihat aktif, tapi secara emosional, mereka sudah jauh dari pekerjaan maupun hidup yang dijalani.

Dan jujur saja, fenomena ini terasa semakin familiar karena bukan cuma terjadi di Korea Selatan.

FENOMENA YANG DIAM-DIAM TERJADI DI INDONESIA

Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial di Indonesia juga dipenuhi obrolan serupa. Banyak anak muda mulai mengaku kehilangan motivasi kerja, merasa hidup berjalan monoton, atau tidak lagi merasa excited terhadap masa depan mereka sendiri.

Perasaan ini digambarkan dengan istilah yang berbeda-beda meskipun esensinya sama. Yakni kehilangan spark. Mulai dari burnout, quarter-life crisis, sampai hustle fatigue.

Fenomena ini juga semakin sering dibahas secara global setelah pandemi, ketika banyak pekerja mulai mempertanyakan kembali hubungan mereka dengan dunia kerja, produktivitas dan makna hidup sehari-hari.

(BACA JUGA: Memahami Sinyal Tubuh Lewat Fisik Saat Stres Menyerang)

DUNIA KERJA MASIH MENGHARGAI YANG “TERLIHAT SIBUK”

Salah satu alasan kenapa bukdong terasa relevan adalah karena banyak sistem kerja modern masih mengukur performa dari kehadiran, bukan keterlibatan emosional. Selama seseorang online, membalas email, ikut meeting dan terlihat sibuk, maka semuanya dianggap baik-baik saja.

Padahal, secara mental, belum tentu. Dan mungkin itu sebabnya banyak orang sekarang merasa lelah dengan cara yang sulit dijelaskan. Bukan karena mereka berhenti bekerja, tapi karena terlalu lama menjalani sesuatu tanpa benar-benar merasa terhubung dengannya.

DUNIA KERJA TIDAK LAGI ROMANTIS BAGI ANAK MUDA

Hidup modern semakin sering terasa seperti daftar kewajiban. Kerja, bertahan, mengulang, tanpa benar-benar tahu kapan terakhir kali kita merasa antusias terhadap apa yang sedang dijalani.

Pada akhirnya, bukdong mungkin bukan sekadar istilah Korea tentang rasa malas bekerja. Tetapi lebih dekat dengan perasaan kehilangan koneksi terhadap pekerjaan, rutinitas, bahkan diri sendiri.

Dan mungkin itu yang membuatnya terasa sangat dekat dengan generasi sekarang. Karena banyak orang masih terus berjalan, meski diam-diam sudah kehilangan spark di tengah jalan.

(Rendy Aditya, foto: magnific.com/wayhomestudio)

Share