Dari nama yang bukan pemberian Soekarno hingga jadi libur nasional, ini fakta-fakta menarik di balik 1 Juni yang perlu kamu tahu.
Setiap 1 Juni, Indonesia berhenti sejenak untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Sebuah momen yang mengingatkan kita pada sidang bersejarah BPUPKI, pada pidato Soekarno yang mengguncang ruangan dan pada lima sila yang sejak saat itu menjadi fondasi dari seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.
Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila karena pada hari itu, tepatnya tahun 1945, Ir. Soekarno pertama kali mengemukakan konsep dasar negara Indonesia yang kelak dikenal dengan nama Pancasila.
Sebuah momen yang terasa heroik, penuh makna, dan selalu dirayakan dengan khidmat oleh seluruh rakyat Indonesia.
Tapi di balik kemegahan momen itu, ada beberapa fakta yang jarang sekali masuk ke dalam percakapan kita tentang Pancasila. Fakta-fakta yang justru membuat sejarahnya terasa lebih manusiawi, lebih kompleks dan lebih menarik dari yang selama ini kita bayangkan.
(BACA JUGA: Kumpulan Sejarah Unik di Balik Lahirnya Luxury Fashion Brand)
LAHIRNYA PANCASILA
Pancasila bukan lahir dalam satu malam. Ia adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak pikiran, banyak perdebatan, dan tidak sedikit keputusan yang dibuat di bawah tekanan situasi yang sangat tidak biasa. Dan dalam perjalanan panjang itu, ada banyak detail yang luput dari buku pelajaran.
Berikut adalah lima fakta menarik di balik Hari Lahir Pancasila yang mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya. Fakta-fakta menarik ini, dikompilasi oleh MOSTEAM dari beberapa situs media nasional.
FAKTA MENARIK SOAL HARI LAHIR PANCASILA
Nama “Pancasila” Bukan Ide Soekarno
Ini mungkin yang paling mengejutkan. Soekarno memang yang menyampaikan pidato bersejarah itu, tapi nama “Pancasila” sendiri bukan berasal darinya.
Nama Pancasila diberikan oleh seorang ahli bahasa yang hadir di sidang tersebut. “Panca” berarti lima dan “Sila” berarti dasar atau prinsip.
Soekarno sendiri awalnya hendak menamai rumusannya “Panca Dharma”, sebelum akhirnya menerima saran nama yang jauh lebih kuat dan lebih abadi itu. Sebuah pengingat bahwa karya terbesar sekalipun sering kali lahir dari kolaborasi, bukan dari satu orang saja.
Sidang Bersejarah Itu Digelar di Gedung Milik Penjajah
Ada ironi yang cukup dalam di balik tempat lahirnya Pancasila. Melansir dari Liputan6, sidang pertama BPUPKI diadakan di Gedung Chuo Sangi In, yang kini dikenal sebagai Gedung Pancasila di Jalan Pejambon 6, Jakarta.
BPUPKI sendiri dibentuk oleh Jepang menjelang kekalahannya di Perang Pasifik sebagai upaya menarik dukungan rakyat Indonesia.
Gedung yang dibangun oleh penjajah digunakan untuk merumuskan ideologi yang akan memerdekakan bangsa dari penjajahan itu sendiri. Sebuah paradoks sejarah yang tidak banyak orang sadari.
(BACA JUGA: Mengenal Soepomo, Unsung Hero di Balik Lahirnya Pancasila)
Pancasila Sempat Hampir Hilang di Era Orde Baru
Tidak semua rezim memperlakukan 1 Juni dengan cara yang sama. Melansir dari Kompas.com, peringatan Hari Lahir Pancasila sempat hampir hilang di masa Orde Baru.
Selama puluhan tahun, tanggal 1 Juni tidak diakui secara resmi karena ada perdebatan politik yang panjang tentang siapa yang berhak mengklaim sejarah kelahiran Pancasila.
Pancasila tetap menjadi dasar negara, tapi momen kelahirannya dibiarkan redup, hampir terlupakan oleh narasi resmi yang berlaku saat itu.
Status Hari Libur Nasionalnya Baru Berusia Sekitar 10 Tahun
Ini fakta yang mungkin paling mengejutkan dari semuanya. Meski Pancasila lahir pada 1945, status 1 Juni sebagai hari libur nasional ternyata sangat baru.
Usulan agar 1 Juni dijadikan Hari Lahir Pancasila sempat disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, namun baru di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo tanggal tersebut resmi diakui negara melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.
Artinya, hari libur yang kita rayakan hari ini baru resmi ada sejak 2016, hampir 71 tahun setelah Pancasila sendiri lahir.
Pancasila Baru Resmi Disahkan 78 Hari Setelah Pidato Soekarno
Pidato 1 Juni 1945 memang monumental, tapi ia bukan garis finish. Setelah pidato Soekarno, Pancasila secara resmi ditetapkan sebagai dasar negara oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan.
Ada jarak 78 hari antara momen pidato bersejarah itu dengan pengesahan resminya sebagai dasar negara, 78 hari yang diisi dengan perdebatan, negosiasi dan kompromi yang tidak mudah antara berbagai kelompok dengan kepentingan yang berbeda-beda.
Sebuah pengingat bahwa di balik setiap dokumen besar dalam sejarah, selalu ada proses manusiawi yang panjang dan penuh ketegangan.
(Rendy Aditya, foto: dokumentasi globalsouthforum.org)
