Kenapa film-film Christopher Nolan, Denis Villeneuve, sampai Greta Gerwig selalu terasa dalam? Jawabannya mungkin ada di rak buku mereka.
Para sutradara terbaik di dunia bukan cuma belajar dari film.
Mereka membaca. Banyak. Dan dari bacaan itulah lahir dunia-dunia sinematik yang kita kenal. Berikut buku-buku pilihan lima sutradara ternama yang bisa kamu jadikan daftar bacaan berikutnya.
CHRISTOPHER NOLAN DAN OBSESINYA PADA LABIRIN REALITAS

(Foto: penguin.com.au)
Kalau ada satu nama yang paling sering disebut Christopher Nolan dalam wawancara soal inspirasi, itu adalah Jorge Luis Borges. Seorang sastrawan Argentina yang karya-karyanya bermain habis-habisan dengan waktu, identitas dan realitas.
Dalam wawancara dengan BBC, Nolan bahkan menyebut Borges sebagai pilihan desert island-nya.
“In a way, all stories are contained within his stories.”
Kamu bisa mulai dari ‘Labyrinths’, kumpulan cerita pendek Borges yang paling terkenal.
Selain Borges, jejak bacaan Nolan juga bisa dilacak dari film-filmnya sendiri. Obsesinya dengan waktu jelas berakar dari H.G. Wells lewat The Time Machine, sementara trilogi The Dark Knight tidak bisa dipisahkan dari komik Frank Miller, ‘Batman: The Dark Knight Returns’.
Sebuah karya yang mendefinisikan ulang Batman sebagai figur yang gelap dan kompleks.
5 Buku Pilihan Christopher Nolan:
- ‘Labyrinths’ – Jorge Luis Borges
- ‘The Time Machine’ – H.G. Wells
- ‘Sapiens’ – Yuval Noah Harari
- ‘Hamlet’ – William Shakespeare
- ‘Batman: The Dark Knight Returns’ – Frank Miller
DENIS VILLENEUVE DAN CINTA SEUMUR HIDUP PADA DUNE

(Foto: lonepeakbookclub.substack.com)
Tidak banyak sutradara yang punya hubungan seintim Denis Villeneuve dengan sebuah buku. Frank Herbert dan ‘Dune’ adalah kisah cinta yang dimulai saat Villeneuve berusia 13 tahun di sebuah toko buku kecil di Quebec.
Ia membacanya, lalu merekomendasikannya ke semua temannya. Empat dekade kemudian, ia yang mengadaptasinya ke layar lebar.
“Every time I open the book, it brings that deep, pure joy,” katanya dalam wawancara dengan Slant Magazine.
Bagi Villeneuve, Dune bukan sekadar film dan buku. Itu adalah mimpi yang ia kejar selama hampir seluruh hidupnya.
5 Buku Pilihan Denis Villeneuve:
- ‘Dune’ – Frank Herbert
- ‘1984’ – George Orwell
- ‘Do Androids Dream of Electric Sheep?’ – Philip K. Dick
- ‘The Left Hand of Darkness’ – Ursula K. Le Guin
- ‘The Double’ – José Saramago
(BACA JUGA: Zendaya Beri Isyarat Manis untuk Tom Holland Saat Kunjungi Toko Buku)
GRETA GERWIG DAN RAK BUKU YANG SEMUANYA DITULIS PEREMPUAN

(Foto: amazon.com)
Greta Gerwig adalah satu-satunya sutradara di daftar ini yang punya daftar buku favorit, yang secara resmi ia bagikan ke toko buku One Grand Books di New York, lengkap dengan komentar untuk setiap judulnya.
Dan polanya sangat jelas. Hampir semuanya ditulis oleh perempuan. Semuanya bicara tentang kehidupan dari dalam.
Buku nomor satu di daftarnya adalah ‘Middlemarch’ karya George Eliot. Novel Victoria yang ia deskripsikan sebagai “glorious, sprawling, generous”.
Lalu ada Virginia Woolf dengan ‘To the Lighthouse’, yang katanya “warped my mind into a new shape”. Dan tentu Joan Didion, yang Gerwig sebut sebagai “patron saint”-nya.
Koleksi esai ‘The White Album’ menjadi salah satu buku yang paling memengaruhi cara ia menulis dan melihat dunia. Yang menarik, ‘Americanah’ karya Chimamanda Ngozi Adichie juga masuk daftarnya.
Gerwig menyebutnya seperti “Jane Austen tapi dengan spesifisitas kehidupan modern”. Dan untuk fiksi kontemporer, ia memilih ‘The Idiot’ karya Elif Batuman, yang menurutnya berhasil melakukan apa yang selalu ia coba lakukan dalam film: membuat hal-hal biasa terasa luar biasa.
5 Buku Pilihan Greta Gerwig:
- ‘Middlemarch’ – George Eliot
- ‘To the Lighthouse’ – Virginia Woolf
- ‘The White Album’ – Joan Didion
- ‘Americanah’ – Chimamanda Ngozi Adichie
- ‘The Idiot’ – Elif Batuman
GUILLERMO DEL TORO DAN PERPUSTAKAAN MIMPI BURUK

(Foto: kobo.com)
Guillermo del Toro adalah definisi dari obsessive reader.
Berbeda dengan sutradara lain yang sesekali menyebut buku favorit dalam wawancara, del Toro secara aktif merekomendasikan buku di media sosial, lengkap dengan komentar yang kadang lebih panjang a la pengulas profesional.
Buku favoritnya sepanjang masa? ‘Frankenstein’ karya Mary Shelley. Sebuah novel yang ia cintai begitu dalam sampai akhirnya ia filmkan sendiri. Bagi del Toro, monster bukan sekadar antagonis. Mereka adalah metafora dan Shelley adalah orang pertama yang membuktikannya.
Selain itu, del Toro punya sebuah buku referensi yang ia sebut “vital” dan selalu ada di mejanya. Yakni ‘A Dictionary of Symbols’ karya Juan Eduardo Cirlot.
“It helps me interpret paintings, cipher and decipher art and view the world,” katanya.
5 Buku Pilihan Guillermo del Toro:
- ‘Frankenstein’ – Mary Shelley
- ‘A Dictionary of Symbols’ – Juan Eduardo Cirlot
- ‘The Vampire, His Kith and Kin’ – Montague Summers
- ‘Jane Eyre’ – Charlotte Brontë
- ‘The Gods of Pegāna’ – Lord Dunsany
JAMES CAMERON DAN FIKSI ILMIAH SEBAGAI PETA MASA DEPAN

(Foto: orionbooks.co.uk)
James Cameron bukan cuma pembaca. Ia bahkan menulis bukunya sendiri soal sejarah fiksi ilmiah, yakni ‘James Cameron’s Story of Science Fiction’, yang dirilis pada tahun 2018, dan di situlah ia secara eksplisit menyebut daftar novel favorit yang membentuk cara ia bercerita.
‘Dune’ karya Frank Herbert ada di daftarnya, begitu juga ‘Childhood’s End’ karya Arthur C. Clarke yang memengaruhi pendekatannya pada tema kontak dengan alien dan ‘Neuromancer’ karya William Gibson yang kental dalam estetika Terminator dan dunia teknologi-distopik yang ia bangun.
Di luar fiksi ilmiah, Cameron punya satu rekomendasi mengejutkan. Yaitu ‘Sapiens’ karya Yuval Noah Harari.
“It explains human behavior and why we are the way we are in human civilization from soup to nuts,” katanya.
“I’ve read it a couple of times. It’s a pretty astonishing book.”
5 Buku Pilihan James Cameron:
- ‘Dune’ – Frank Herbert
- ‘Childhood’s End’ – Arthur C. Clarke
- ‘Fahrenheit 451’ – Ray Bradbury
- ‘Neuromancer’ – William Gibson
- ‘Sapiens’ – Yuval Noah Harari
(Kirana Putri, foto: britannica.com, mubi.com, vogue.com)
