Buchinger Wilhelmi di Jerman menawarkan liburan musim dingin yang jauh dari pesta dan keramaian, cocok untuk healing di akhir tahun.
Akhir tahun biasanya identik dengan dua hal. Makan terlalu banyak dan merasa terlalu lelah.
Kalender dipenuhi acara, meja makan tidak pernah benar-benar kosong dan liburan sering berubah menjadi maraton sosial yang justru membuat banyak orang pulang dalam kondisi lebih capek daripada saat berangkat. Namun, bagaimana jika tahun ini berbeda?
Bagaimana jika, untuk sekali seumur hidup, kamu menghabiskan musim liburan bukan dengan pesta, melainkan dengan beristirahat total di sebuah spa mewah di Jerman yang mengajak tamunya untuk memperlambat hidup?
Selamat datang di Buchinger Wilhelmi, salah satu wellness retreat paling terkenal di Eropa.
Terletak di tepi Danau Constance, dekat perbatasan Jerman, Swiss dan Austria, tempat ini telah menjadi tujuan para pencari ketenangan sejak lebih dari satu abad lalu. Dari luar, suasananya menyerupai resor musim dingin yang elegan.
Bangunan berwarna putih, taman yang tertata rapi, udara pegunungan yang segar dan pemandangan danau yang terlihat seperti kartu pos. Namun, alasan orang datang ke sini jauh berbeda dari resor liburan pada umumnya.
Alih-alih menikmati buffet tanpa batas, para tamu justru datang untuk menjalani program puasa medis yang telah menjadi ciri khas Buchinger Wilhelmi selama puluhan tahun.
(BACA JUGA: Rute Kereta 1.300 Kilometer Resmi Meluncur di Eropa)

(Foto: tatler.com)
Terdengar ekstrem? Mungkin.
Namun di tempat ini, puasa bukan dipandang sebagai hukuman, melainkan sebagai kesempatan untuk memberi tubuh dan pikiran waktu beristirahat.
Selama program berlangsung, tamu tetap mendapatkan pengawasan medis, aktivitas ringan, kelas olahraga, sesi mindfulness, konsultasi kesehatan, hingga berbagai perawatan spa yang dirancang untuk membantu tubuh melakukan reset secara menyeluruh.
Yang membuat Buchinger Wilhelmi begitu menarik adalah filosofi di baliknya. Tempat ini tidak menjual transformasi instan atau janji tubuh ideal dalam semalam. Sebaliknya, mereka menawarkan sesuatu yang semakin langka di era modern. Yakni ruang untuk berhenti.
Tidak ada tekanan untuk produktif, tidak ada dorongan untuk selalu online, tidak ada agenda yang mengharuskan kamu berpindah dari satu tempat wisata ke tempat lain.
Yang ada hanyalah waktu.
Waktu untuk berjalan kaki di tengah udara musim dingin Eropa, waktu untuk membaca buku yang selama ini tidak sempat disentuh, waktu untuk tidur lebih awal, waktu untuk mendengarkan tubuh sendiri tanpa gangguan notifikasi yang terus berdatangan.
Menurut Tatler, banyak tamu yang datang bukan semata-mata karena alasan kesehatan. Melainkan karena kebutuhan untuk mengambil jeda dari ritme hidup yang semakin cepat.
Beberapa di antaranya bahkan menjadikan kunjungan ke Buchinger Wilhelmi sebagai ritual tahunan.

(Foto: cntraveller.com)
Tentu saja, liburan seperti ini bukan untuk semua orang.
Sebagian orang mungkin lebih memilih menghabiskan akhir tahun di Tokyo, New York, atau Paris. Sebagian lainnya mungkin lebih bahagia berburu salju di Swiss atau menikmati matahari di Bali.
Namun, ada sesuatu yang menarik dari gagasan mengakhiri tahun dengan cara yang lebih tenang.
Di tengah budaya yang selalu mendorong kita untuk melakukan lebih banyak hal, mungkin kemewahan terbesar saat ini bukanlah tiket kelas bisnis atau suite hotel berbintang lima.
Mungkin kemewahan terbesar adalah memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak.
Jadi, kalau dalam waktu dekat ada rezeki datang lebih banyak dari yang diperkirakan, coba sisihkan untuk menikmati cara berbeda untuk menutup tahun. Dan Buchinger Wilhelmi bisa menjadi salah satu ide yang layak masuk wishlist.
Bukan untuk melarikan diri dari hidup. Hanya untuk mengingat seperti apa rasanya bernapas sedikit lebih pelan yang mungkin baik untuk memulai hidup baru di tahun yang juga baru.
(Kirana Putri, foto: buchinger-wilhelmi.com)
