Trench Coat Burberry, Ikon yang Tidak Pernah Kehilangan Pesona

Dari medan perang hingga runway, trench coat Burberry terus berevolusi tanpa kehilangan identitasnya sebagai salah satu simbol gaya Inggris.

Ada alasan mengapa trench coat Burberry masih menjadi salah satu outerwear paling mudah dikenali hingga sekarang.

Siluetnya sudah melewati lebih dari satu abad, tetapi tetap terasa relevan di mana pun. Mau dipakai di jalanan kota, kawasan pedesaan, hingga berbagai runway fashion.

Bahkan pada 2026, coat ini kembali menjadi sorotan lewat pameran khusus di Victoria & Albert Museum.

(BACA JUGA: Ralph Lauren Spring 2027: Find Romance in Personal Style)

SEJARAH TRENCH COAT BURBERRY

Cerita trench coat Burberry sebenarnya berawal jauh sebelum ia dikenal sebagai fashion statement.

Pada 1879, Thomas Burberry menciptakan gabardine, sebuah material pakaian yang dirancang untuk memberikan perlindungan dari cuaca tetapi lebih breathable dibandingkan dengan outerwear berbahan oil, rubber, atau wax yang banyak digunakan saat itu.

Hingga kini, material tersebut masih diproduksi di pabrik Burberry di Yorkshire, Inggris.

Kemudian pada 1912, Burberry mematenkan Tielocken, salah satu pendahulu trench coat modern. Desainnya menggunakan gabardine, tanpa deretan kancing di bagian depan, serta memiliki double-buckled belt.

Ketika Perang Dunia I pecah dua tahun kemudian, desain tersebut semakin populer di kalangan militer karena ringan, fleksibel dan mudah dikenakan dengan cepat. Dari sinilah istilah trench coat mulai melekat pada siluet tersebut.

Hubungannya dengan Inggris juga semakin kuat. Burberry menerima Royal Warrant pertamanya dari King George V pada 1919 sebagai tailor. Kemudian Queen Elizabeth II memberikan Royal Warrant pada 1955 sebagai weather-proofer.

Setelah masa perang berlalu, trench coat perlahan meninggalkan fungsi militernya dan memasuki dunia fashion. Pada 1960-an, siluet ini mulai mendapatkan status baru sebagai pakaian yang stylish sekaligus praktis.

Popularitasnya kemudian meluas ke budaya populer. Fred Astaire mengenakan trench coat Burberry dalam film The Gay Divorcee pada 1934, sementara Catherine Deneuve tampil mengenakannya dalam The Umbrellas of Cherbourg pada 1964.

Kehadiran trench coat dalam film, iklan dan berbagai representasi gaya Inggris membuatnya semakin identik dengan estetika klasik yang tetap terasa modern.

Memasuki era fashion kontemporer, Burberry juga tidak berhenti bereksperimen dengan siluet tersebut. Christopher Bailey, Riccardo Tisci, hingga Daniel Lee membawa interpretasi masing-masing terhadap trench coat.

Desain klasiknya kemudian muncul dalam berbagai bentuk baru, mulai dari material lamé hingga versi yang diolah menjadi ball gown, capelet, bahkan dihiasi dengan embellishment.

Di situlah kekuatan trench coat Burberry sebenarnya terlihat. Desainnya cukup khas untuk dikenali, tetapi fleksibel untuk terus diinterpretasikan ulang.

Desainnya bisa tetap terlihat klasik dalam warna dan potongan tradisional, tetapi juga bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih eksperimental tanpa kehilangan DNA aslinya.

(BACA JUGA: Tory Burch Spring 2027: Dress Up Everyday!)

PAMERAN DI VICTORIA & ALBERT MUSEUM

Pada 21 September 2026, Victoria & Albert Museum membuka ‘The Burberry Trench: Crafting an Icon’, sebuah pameran yang secara khusus mengeksplorasi perjalanan trench coat tersebut.

Momentum ini bertepatan dengan ulang tahun ke-170 Burberry, sekaligus menunjukkan bagaimana satu desain dapat berkembang dari pakaian fungsional menjadi bagian dari sejarah budaya dan fashion.

Mungkin itu juga alasan mengapa trench coat Burberry terasa sulit untuk benar-benar ketinggalan zaman.

Tren fashion boleh berubah setiap musim, tetapi sebuah desain yang berhasil menggabungkan fungsi, identitas budaya dan kemampuan untuk terus beradaptasi punya kesempatan untuk hidup jauh lebih lama.

Dan dalam kasus Burberry, perjalanan itu sudah berlangsung selama lebih dari 100 tahun.

(Kirana Putri, foto: burberryplc.com)

Share