Salah Kaprah, Kisah ‘Romeo & Juliet’ Bukanlah Kisah Cinta

Ide dasar William Shakespeare menulis kisah ini adalah untuk mengritik masyarakat khususnya anak-anak muda yang impulsif dalam hubungan.

Kalau ada dua nama yang paling sering disebut setiap Valentine’s Day, itu pasti Romeo dan Juliet. Mereka jadi simbol cinta abadi, referensi paling populer soal soulmate, bahkan inspirasi ribuan caption Instagram.

Tapi ada satu hal yang jarang orang sadari. Shakespeare tidak pernah bermaksud menjadikan mereka role model khususnya dalam urusan percintaan. Karena ‘Romeo & Juliet’ ditulis oleh Shakespeare karena sebuah tragedi dan sedikit kritik untuk anak-anak muda kala itu.

SIAPA WILLIAM SHAKESPEARE?

Sebelum masuk ke pembahasan karya sastra ‘Romeo & Juliet’, sebaiknya kita kenalan dulu dengan penulisnya.

William Shakespeare lahir pada 23 April 1564 di Stratford-upon-Avon, Inggris. Hidupnya sendiri penuh plot twist. Ia menikahi Anne Hathaway yang usianya delapan tahun lebih tua darinya, punya anak kembar, lalu “menghilang” dari catatan sejarah selama hampir satu dekade.

Periode yang hingga kini disebut para sejarawan sebagai the lost years.

Shakespeare menulis setidaknya 37 naskah drama dan 154 soneta sepanjang hidupnya. Karya-karyanya mencakup berbagai genre. Mulai dari komedi, sejarah dan tentu saja tragedi. Dan kisah ‘Romeo & Juliet’ yang ditulis sekitar tahun 1594–1596 masuk ke kategori tersebut.

(BACA JUGA: Jane Austen, Penulis Novel Romantis yang Hidupnya Dramatis)

(Foto: biography.com)

BERTEMU BEBERAPA JAM DAN LANGSUNG MENIKAH. FOR REAL?

Mari kita lihat faktanya. Di dalam kisah yang ditulis Shakespeare, Romeo dan Juliet pertama kali bertemu di sebuah pesta. Beberapa jam kemudian, mereka sudah mengucapkan sumpah untuk bersama atas nama cinta.

Esok harinya, mereka menikah diam-diam. Empat hari setelah pertemuan pertama, keduanya meninggal dunia.

Kalau ini kamu ceritakan ke seorang psikolog hubungan, kemungkinan besar reaksinya bukan “so romantic!”, melainkan kekhawatiran soal impulsivitas dan kurangnya kematangan emosional. Dan memang itulah yang sedang dikritik Shakespeare.

Juliet bahkan baru berusia 13 tahun dalam naskah aslinya. Sebuah detail yang sengaja disertakan untuk menekankan betapa mudanya, betapa belum siapnya mereka menghadapi konsekuensi dari keputusan impulsif itu.

INI BUKAN SOAL CINTA, MELAINKAN EGO DUA KELUARGA

Coba baca ulang ceritanya dari sudut pandang yang berbeda.

Romeo dan Juliet tidak mati karena cinta mereka terlalu besar untuk dunia ini. Mereka mati karena dua keluarga, Montague dan Capulet, terlalu keras kepala untuk menghentikan permusuhan yang bahkan mereka sendiri sudah lupa asal-usulnya.

Tragedi ini adalah komentar sosial tentang konsekuensi dari dendam turun-temurun, tentang bagaimana kekerasan dan ego orang dewasa menghancurkan generasi yang lebih muda.

Shakespeare bukan sedang meromantisasi kematian demi cinta. Ia sedang menyentil masyarakat Elizabethan yang saat itu penuh dengan konflik antarklan dan kekerasan jalanan.

LALU KENAPA BANYAK ORANG MENGANGGAP HUBUNGAN KEDUANYA ROMANTIS?

Sebagian besar karena adaptasinya. Dari film Baz Luhrmann tahun 1996 yang ikonik dengan Leonardo DiCaprio dan Claire Danes, hingga ratusan buku, lagu dan pertunjukan teater yang memilih untuk menonjolkan sisi romansanya.

Karena itu, semakin sedikit orang yang membaca naskah aslinya, maka semakin jauh juga persepsi publik dari niat asli penulisnya.

Ada ironi besar di sini. Shakespeare menulis sebuah peringatan, tapi selama berabad-abad, kita justru menjadikannya aspirasi.

(BACA JUGA: Bukan Saint Valentine, Ini Sosok yang Membuat 14 Februari Jadi Momen Romantis)

(Foto: kennedy-center.org)

APA YANG BISA KITA PELAJARI DARI KISAH INI?

Kisah ‘Romeo & Juliet’ kalau dibaca dengan jujur, adalah pengingat bahwa cinta yang terburu-buru tanpa komunikasi, tanpa dukungan lingkungan dan tanpa kedewasaan emosional bisa berakhir tragis.

Bukan sesuatu yang harus ditiru, melainkan sesuatu yang harus dipelajari. Shakespeare sudah lebih dari 400 tahun menulis tentang hal ini. Mungkin sudah waktunya kita benar-benar mendengarkan apa yang ia coba katakan.

(Rendy Aditya, foto: imdb.com)

Share