Dari kontrak sewa apartemen hingga dugaan penipuan, berikut rangkaian konflik antara Lee Seung Gi dan Chairman One Hundred Label, Cha Ga Won.
Konflik antara penyanyi sekaligus aktor Lee Seung Gi dan Chairman One Hundred Label, Cha Ga Won, kembali menjadi sorotan publik Korea Selatan.
Baru-baru ini, melalui kuasa hukumnya, Cha Ga Won melontarkan kritik terbuka kepada Lee Seung Gi dan meminta sang artis untuk mengembalikan semua yang pernah diterima sang artis darinya.
Pernyataan itu muncul setelah Lee Seung Gi mengunggah foto promosi acara GV (Guest Visit) untuk film About Family di media sosialnya.
Meski demikian, perselisihan antara keduanya sebenarnya sudah berlangsung cukup lama dan melibatkan berbagai tuduhan. Mulai dari sengketa kontrak eksklusif, kontroversi sewa apartemen mewah, hingga dugaan penipuan yang kini tengah diselidiki pihak berwenang.
Lalu, bagaimana awal mula konflik ini terjadi?
AWAL MULA HUBUNGAN LEE SEUNG GI DAN CHA GA WON

(Foto: x.com/K_GEN_france)
Setelah meninggalkan Hook Entertainment, Lee Seung Gi bergabung dengan agensi Human Made yang kemudian diakuisisi, sehingga berada di bawah naungan One Hundred Label yang dipimpin oleh Cha Ga Won.
Pada awalnya, hubungan keduanya terlihat berjalan baik. Cha Ga Won bahkan beberapa kali disebut sebagai sosok yang memberikan dukungan besar terhadap aktivitas karier Lee Seung Gi setelah sang artis mengalami konflik panjang dengan mantan agensinya terkait pendapatan musik yang belum dibayarkan.
Namun, hubungan tersebut mulai berubah ketika muncul persoalan terkait tempat tinggal yang disiapkan untuk Lee Seung Gi dan keluarganya.
BERMULA DARI APARTEMEN MEWAH DI HANNAM-DONG

(Foto: .hankyung.com)
Dalam program investigasi MBC PD Notebook yang tayang pada Juni 2026, Lee Seung Gi mengungkap bahwa dirinya pernah tinggal di sebuah apartemen mewah di kawasan Hannam-dong. Salah satu area hunian paling eksklusif di Seoul.
Menurut Lee Seung Gi, keputusan untuk menempati apartemen tersebut berawal dari saran Cha Ga Won yang menginginkan mereka tinggal berdekatan dan saling membantu satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari.
Seung Gi mengaku saat itu tidak mengetahui secara rinci nilai kontrak sewa properti tersebut. Namun setelah proses berjalan, ia mengetahui bahwa nilai deposit sewa apartemen tersebut mencapai sekitar KRW 10,5 miliar atau sekitar IDR 124 miliar.
Dalam keterangannya di PD Notebook, Seung Gi menduga nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar properti serupa. Ia juga mengklaim bahwa terdapat janji tertentu terkait pembiayaan yang pada akhirnya tidak dipenuhi.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi titik awal konflik terbuka antara kedua belah pihak.
(BACA JUGA: Digibahin Reporter, Timnas Korea Selatan Ogah Diwawancara)
CHA GA WON MENYANGKAL TUDUHAN TERSEBUT

(Foto: sports.khan.co.kr)
Tidak lama setelah pernyataan Lee Seung Gi menjadi sorotan, pihak Cha Ga Won membantah seluruh tuduhan tersebut.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan kuasa hukumnya, Ga Won menyatakan bahwa apartemen tersebut dipilih berdasarkan keinginan Lee Seung Gi sendiri.
Mereka juga menegaskan bahwa harga properti telah melalui proses penilaian profesional, bukan hasil manipulasi.
Pihak Ga Won bahkan mengklaim bahwa skema apartemen tersebut merupakan bagian dari kompensasi yang telah disepakati dalam kontrak eksklusif Lee Seung Gi.
Menurut mereka, narasi mengenai “apartemen dengan harga tidak wajar” tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi.
Perbedaan versi inilah yang kemudian membuat publik sulit mengetahui secara pasti siapa yang benar dalam sengketa tersebut.
KONFLIK BERLANJUT KE PERSOALAN KONTRAK EKSKLUSIF

(Foto: dailysia.com, sports.khan.co.kr)
Seiring berjalannya waktu, isu apartemen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber konflik.
Hubungan antara Lee Seung Gi dan One Hundred Label semakin memburuk setelah muncul pembahasan mengenai kontrak eksklusif dan berbagai kewajiban keuangan yang disebut belum terselesaikan.
Pihak Lee Seung Gi menyatakan bahwa terdapat berbagai persoalan yang membuatnya tidak lagi ingin melanjutkan kerja sama dengan perusahaan tersebut.
Sebaliknya, pihak Cha Ga Won menilai tuduhan yang disampaikan Lee Seung Gi sengaja digunakan sebagai alasan untuk mengakhiri kontrak dan membangun citra bahwa dirinya menjadi korban dalam kasus ini.
Sejak saat itu, konflik yang awalnya bersifat internal ini berubah menjadi perang pernyataan yang berlangsung di ruang publik.
(BACA JUGA: Jadi Brand Ambassador TOD’S, Han Perkuat Stray Kids di Dunia Fashion)
CHA GA WON MENGHADAPI DUGAAN PENIPUAN

(Foto: thanhnien.vn)
Di tengah konflik dengan Lee Seung Gi, masalah lain juga menghampiri Cha Ga Won.
Chairman One Hundred Label tersebut dilaporkan tengah menghadapi penyelidikan terkait dugaan penipuan bisnis.
Ia dituduh menerima uang muka proyek senilai KRW 24,2 miliar dari perusahaan bernama Nomus dalam kerja sama yang berkaitan dengan pemanfaatan hak kekayaan intelektual (IP) artis-artis di bawah One Hundred Label.
Kasus ini masih dalam proses penyelidikan sehingga belum ada putusan hukum yang menyatakan adanya pelanggaran.
Namun, munculnya dugaan tersebut membuat sorotan terhadap One Hundred Label dan Cha Ga Won semakin besar.
Apalagi, pihak Cha Ga Won baru-baru ini mengeluarkan pernyataan terbaru yang secara terbuka mengkritik Lee Seung Gi.
Dalam pernyataan tersebut, mereka meminta sang artis untuk mengembalikan berbagai manfaat yang pernah diterimanya selama mereka bekerja sama.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa waktu setelah Lee Seung Gi mengunggah foto promosi acara GV untuk film About Family, yang kemudian memicu respons dari kubu Cha Ga Won.
Hingga saat ini, kedua pihak masih mempertahankan versi masing-masing terkait berbagai tuduhan yang telah dilontarkan.
KENAPA KASUS INI MENARIK PERHATIAN PUBLIK?
Kasus Lee Seung Gi dan Cha Ga Won bukan sekadar perselisihan antara seorang artis dan pimpinan agensi.
Konflik ini juga membuka diskusi yang lebih luas mengenai transparansi kontrak di industri hiburan Korea Selatan, perlindungan hak artis, hingga pentingnya tata kelola perusahaan yang akuntabel.
Karena melibatkan salah satu selebriti paling terkenal di Korea Selatan dan seorang petinggi industri hiburan, setiap perkembangan baru dalam kasus ini terus menjadi perhatian publik.
Sampai saat ini, belum ada penyelesaian resmi yang mengakhiri konflik antara kedua pihak. Namun satu hal yang pasti, sengketa yang awalnya berawal dari sebuah apartemen mewah kini telah berkembang menjadi salah satu konflik industri hiburan Korea yang paling banyak dibicarakan sepanjang awal tahun 2026.
(Rendy Aditya, foto: wikitree.co.kr)
