Konon, butuh waktu 20 tahun bagi seorang Christopher Nolan untuk mengadaptasi puisi tersebut menjadi sebuah film.
Sebelum menjelma jadi salah satu film paling ditunggu tahun ini, The Odyssey awalnya adalah puisi epik karya Homer yang diperkirakan ditulis antara tahun 725 hingga 675 SM.
Kisah ini mengikuti perjalanan panjang dan penuh bahaya Odysseus, Raja Ithaca, dalam usahanya untuk pulang ke rumah setelah berakhirnya Perang Troya.
Sementara istrinya Penelope dan putranya Telemachus berjuang mempertahankan kerajaan yang mulai runtuh sembari menunggu kepulangannya yang tak kunjung pasti.
Selama hampir 3.000 tahun, kisah ini terus diceritakan ulang dari generasi ke generasi, dengan setiap era memberi sentuhan interpretasinya masing-masing terhadap sosok Odysseus, manusia penuh tipu daya dan kelicikan yang berjuang menemukan jalan pulang.
Salah satu alasan utama kisah ini begitu bertahan lama adalah karena ia lahir dari tradisi lisan, sehingga tidak pernah punya satu versi “asli” yang baku, melainkan terus berkembang dan dibentuk ulang selama berabad-abad.
Kisah ini juga memuat hampir semua elemen cerita klasik sekaligus. Mulai dari monster, dewa-dewi, petualangan laut, hingga drama rumah tangga, yang membuatnya relevan untuk diadaptasi ke berbagai bentuk media dan zaman.
Berbagai elemen legendaris dari puisi ini, seperti pertarungan melawan Cyclops, godaan para Siren, hingga negeri Lotus-eaters, telah menjadi rujukan budaya populer yang dikenal luas, bahkan oleh mereka yang belum pernah membaca teks aslinya.
Bagi Christopher Nolan, ketertarikannya pada ‘The Odyssey’ bukan hal baru. Karena ia mengaku sudah memikirkan untuk mengadaptasi kisah ini sejak lebih dari 20 tahun lalu.
(BACA JUGA: Cuma Sebentar, Kemunculan Agamemnon Jadi Momen Ikonik di Film ‘The Odyssey’)
Jauh sebelum kesuksesan Oppenheimer yang akhirnya membuka jalan baginya untuk mewujudkan proyek ambisius ini.
Nolan mengungkapkan bahwa pengaruh Homer sebenarnya sudah lama muncul dalam karya-karyanya yang lain. Termasuk dalam Interstellar dan trilogi The Dark Knight.
Ia juga menyebut bahwa sebagai sutradara, ia selalu mencari celah dalam budaya sinema melalui hal-hal besar yang belum pernah benar-benar digarap secara maksimal.
Menurutnya, karya-karya sinema mitologi yang ia tonton sejak kecil, seperti film-film garapan Ray Harryhausen, belum pernah dieksekusi dengan bobot dan kredibilitas produksi Hollywood berskala besar dalam format IMAX.
Untuk mewujudkan visinya, Nolan bahkan menghabiskan lebih dari dua juta rol film selama 91 hari masa syuting. Termasuk mengajak para pemeran awak kapal Odysseus benar-benar berlayar di lautan lepas demi menangkap keaslian suasana perjalanan tersebut.
Baginya, The Odyssey bukan sekadar retelling dari kisah lama. Melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa kisah mitologi klasik bisa dihadirkan dengan skala dan kedalaman emosional setara karya-karya besar Hollywood lainnya.
(Rendy Aditya, foto: imdb.com)
