Main di Film ‘The Odyssey’, Travis Scott Mengaku Gugup Kala Membacakan Syair Kuno Yunani

Dalam sebuah wawancara, Christopher Nolan mengungkap alasan khusus kenapa ia memilih Travis Scott untuk bergabung di film The Odyssey.

Meskipun sudah tayang selama satu minggu lebih, film The Odyssey belum turun dari pembicaraan publik. Salah satunya adalah soal keterlibatan rapper Travis Scott yang betul-betul mengejutkan publik.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa seorang rapper yang tidak pernah punya pengalaman di dunia peran bisa muncul dalam film epik yang diadaptasi dari karya Homer ini. Jawabannya ternyata bukan sekadar untuk menghadirkan nama besar.

Menurut Christopher Nolan, kehadiran Travis Scott justru menjadi salah satu cara untuk menghormati asal-usul ‘The Odyssey’ sebagai karya sastra yang selama berabad-abad diwariskan melalui tradisi lisan.

Dalam film tersebut, Scott memerankan seorang bard, yaitu penyair sekaligus pencerita yang menyampaikan kisah-kisah kepahlawanan melalui puisi dan nyanyian.

Di awal film, karakter Scott muncul berdiri di atas meja di sebuah aula besar dan melantunkan ‘Song of Odysseus’, syair yang mengisahkan kemenangan Yunani dalam Perang Troya sekaligus menjadi pembuka perjalanan Odysseus.

Adegan itu menjadi salah satu momen pertama yang disaksikan penonton ketika film dimulai. Banyak yang menganggap pemilihan Travis Scott sebagai keputusan yang tidak biasa. Namun, Nolan memiliki alasan yang sangat spesifik.

Dalam wawancaranya dengan TIME yang dikutip Variety, ia menjelaskan bahwa The Odyssey pada awalnya tidak ditulis untuk dibaca seperti novel modern.

Kisah tersebut diwariskan dari generasi ke generasi melalui oral poetry atau puisi lisan yang dibawakan oleh para bard.

“Rap adalah padanan modern dari tradisi puisi lisan itu,” jelas Nolan.

Ia ingin penonton masa kini memahami bahwa sebelum menjadi karya sastra klasik, The Odyssey merupakan cerita yang hidup melalui suara para pencerita.

Menariknya, Scott sendiri mengaku awalnya salah paham ketika menerima telepon dari Christopher Nolan.

Karena sebelumnya ia pernah mengisi lagu penutup untuk film Tenet (2020) yang juga disutradarai Nolan. Oleh sebab itu, saat Nolan kembali menghubunginya, Scott mengira ia akan diminta menggarap soundtrack lagi.

“Ternyata dia menawarkan peran di film,” kata Scott dalam wawancara dengan Variety.

(BACA JUGA: Cuma Sebentar, Kemunculan Agamemnon Jadi Momen Ikonik di Film ‘The Odyssey’)

Tidak hanya itu, Nolan juga langsung memberikan tantangan besar pada hari pertama syuting. Scott mengaku sangat gugup ketika harus mengambil adegan pertamanya.

Ia berdiri di atas sebuah meja besar, dikelilingi ratusan figuran dan aktor-aktor berpengalaman seperti Anne Hathaway, Tom Holland, hingga Robert Pattinson.

“Aku benar-benar gugup,” ujar Scott.

Sementara itu, Nolan mengaku sengaja menjadikan adegan tersebut sebagai ujian.

“Aku memang melemparkannya langsung ke bagian yang paling sulit,” kata sang sutradara sambil tertawa.

Menurut Nolan, ia ingin melihat apakah Scott mampu memegang perhatian seluruh ruangan hanya lewat kekuatan suaranya. Persis seperti seorang bard di Yunani kuno.

Selama proses produksi, Scott mengatakan dirinya lebih sering berada di lokasi syuting daripada di trailer.

Ia memilih mengikuti Nolan dan sinematografer Hoyte van Hoytema untuk mengamati bagaimana mereka membangun setiap adegan. Menurut Scott, pengalaman itu membuatnya semakin tertarik pada dunia perfilman.

“Aku ingin belajar bagaimana sebuah visi diwujudkan sampai selesai,” katanya.

Selain berakting, Scott juga ikut menulis lagu penutup film berjudul “When I’m Home” bersama James Blake dan komposer Ludwig Göransson.

Yang menarik, lagu tersebut juga mencantumkan nama Christopher Nolan sebagai salah satu penulisnya. Karya ini secara otomatis menjadi kredit penulisan lagu pertama dalam karier sang sutradara.

Sekilas, kehadiran Travis Scott di The Odyssey memang terlihat tidak biasa. Namun, jika melihat penjelasan Christopher Nolan, keputusan tersebut justru memiliki dasar yang kuat.

Bagi Nolan, seorang rapper yang mampu memikat perhatian penonton lewat ritme, kata-kata, dan cara bercerita, ada kesamaan dengan para bard yang ribuan tahun lalu menyampaikan kisah Odysseus dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan cara itu, The Odyssey tidak hanya menghidupkan kembali kisah kuno karya Homer, tetapi juga menunjukkan bahwa seni bercerita terus berevolusi.

(Rendy Aditya, foto: hollywoodreporter.com)

Share