Selama berabad-abad, kebakaran, perang dan konflik agama dianggap sebagai penyebab hilangnya perpustakaan paling legendaris di dunia.
Perpustakaan Alexandria kerap dikenang sebagai salah satu kehilangan terbesar dalam sejarah pengetahuan manusia. Bayangan tentang ribuan gulungan papirus yang terbakar dalam satu malam telah menjadi bagian dari cerita populer tentang runtuhnya peradaban kuno.
Namun, menurut laporan terbaru National Geographic, kehancuran Perpustakaan Alexandria kemungkinan tidak disebabkan oleh satu kebakaran besar atau satu tokoh yang sengaja memusnahkan seluruh koleksi.
Sebaliknya, perpustakaan tersebut mungkin menghilang secara perlahan akibat perang, perubahan politik, kurangnya dukungan, kerusakan alam, dan waktu.
Dengan kata lain, musuh terbesar perpustakaan itu mungkin bukan seorang penakluk, melainkan proses panjang yang membuatnya semakin terabaikan.
SEJARAH PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA

(Foto: archdaily.com)
Perpustakaan Alexandria didirikan pada awal abad ke-3 sebelum Masehi oleh dinasti Ptolemaik yang berkuasa di Mesir. Meski berada di wilayah Mesir, institusi ini sangat dipengaruhi oleh budaya Yunani dan dirancang untuk menjadikan Alexandria sebagai pusat intelektual dunia.
Pendirinya kemungkinan adalah Ptolemy I Soter atau putranya, Ptolemy II Philadelphus. Gagasan tersebut juga diyakini berkaitan dengan Demetrius dari Phalerum, seorang murid Aristoteles yang kemudian berada di lingkungan istana Ptolemaik.
Para penguasa Alexandria mengundang sarjana, penyair, ilmuwan, dan filsuf untuk bekerja di kota tersebut.
Mereka juga mengirim juru tulis untuk menyalin teks dari berbagai wilayah. Bahkan, terdapat cerita bahwa kapal-kapal yang tiba di pelabuhan Alexandria diperiksa untuk mencari buku atau manuskrip yang dapat ditambahkan ke koleksi kerajaan.
Perpustakaan ini kemungkinan berada di dalam kompleks Mouseion, sebuah institusi keagamaan dan intelektual yang didedikasikan untuk para Muse, dewi inspirasi dalam mitologi Yunani.
Jumlah koleksinya masih menjadi perdebatan. Perkiraan modern berkisar antara 40.000 hingga 900.000 gulungan papirus. Angka tersebut tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai jumlah buku, karena satu karya seperti Iliad karya Homer dapat terdiri dari beberapa gulungan.
Perpustakaan Alexandria juga memiliki institusi pendamping bernama Serapeum yang disebut menyimpan sekitar 40.000 gulungan tambahan.
Meski begitu, para sejarawan masih mengetahui sangat sedikit tentang bangunan, koleksi, dan kehidupan akademik di dalamnya.
Bahkan, gambaran tentang perpustakaan sebagai tempat yang menyimpan “seluruh pengetahuan dunia” kemungkinan telah diperbesar oleh legenda yang berkembang setelahnya.
(BACA JUGA: Tulang Lengan 167.000 Tahun Ungkap Petunjuk Baru Tentang Denisovan)
JULIUS CAESAR BUKAN SATU-SATUNYA TERSANGKA

(Foto: nationalgeographic.com)
Salah satu cerita paling populer menyebutkan bahwa Perpustakaan Alexandria musnah ketika Julius Caesar membakar kapal-kapal di pelabuhan pada tahun 48 Sebelum Masehi.
Saat itu, Caesar berada di Alexandria untuk mendukung Cleopatra dalam konflik melawan saudaranya, Ptolemy XIV. Untuk mencegah armada lawan meninggalkan pelabuhan, pasukan Romawi membakar kapal dan fasilitas dermaga.
Api kemudian menyebar ke bagian kota, termasuk kawasan istana dan kemungkinan sebagian Mouseion. Namun, sumber-sumber kuno memberikan keterangan yang berbeda-beda mengenai dampaknya.
Plutarch menyebut bahwa seluruh perpustakaan terbakar. Sementara itu, filsuf Seneca mengutip sumber yang kini telah hilang dan menyebut sekitar 40.000 gulungan musnah.
Sejumlah penulis lain bahkan tidak menyebut perpustakaan dalam catatan mereka mengenai kebakaran tersebut.
Ada pula petunjuk bahwa institusi perpustakaan tetap bertahan setelah peristiwa itu. Referensi terhadap Mouseion masih muncul dalam catatan sejarah, dan para sarjana tampaknya masih melanjutkan aktivitas mereka.
Hal ini membuat banyak sejarawan berpendapat bahwa kebakaran pada masa Caesar mungkin hanya menghancurkan sebagian koleksi, bukan menghapus perpustakaan secara keseluruhan.
KEHANCURAN YANG BERLANGSUNG PERLAHAN

(Foto: historyfacts.com)
Setelah Alexandria berada di bawah kekuasaan Romawi, posisi kota tersebut sebagai pusat intelektual mulai menurun. Dukungan politik dan finansial terhadap perpustakaan kemungkinan ikut melemah.
Sejarawan dan pakar perpustakaan menilai bahwa koleksi tersebut mungkin mengalami kemunduran secara perlahan akibat pengabaian. Bangunan dan manuskrip tidak harus dihancurkan dalam satu peristiwa besar untuk akhirnya menghilang.
Tanpa perawatan, pendanaan, dan kegiatan akademik yang berkelanjutan, koleksi papirus dapat rusak, hilang, atau tidak lagi digunakan.
Alexandria juga mengalami berbagai konflik dan bencana. Pada akhir abad ke-3 Masehi, kota tersebut menghadapi serangan dan pengepungan. Kemudian, pada 365 Masehi, gempa bumi dan tsunami menghantam Alexandria serta mengubah garis pantainya.
Perubahan alam tersebut diperkirakan mempercepat kerusakan kawasan kerajaan, termasuk lokasi awal perpustakaan. Bagian kota yang dahulu menjadi pusat kekuasaan dan pengetahuan pada akhirnya bisa saja tenggelam atau tertutup oleh perubahan lanskap pesisir.
Dalam skenario ini, kehancuran perpustakaan bukanlah satu ledakan dramatis, melainkan rangkaian peristiwa yang terjadi selama berabad-abad.
SERAPEUM DAN KONFLIK AGAMA

(Foto: historyfacts.com)
Institusi pendamping Perpustakaan Alexandria, Serapeum, memiliki nasib yang juga berkaitan dengan konflik agama.
Pada 391 Masehi, ketika Kekristenan semakin kuat di Kekaisaran Romawi, Serapeum, yang juga merupakan kuil pagan, menjadi lokasi bentrokan antara kelompok pagan dan Kristen. Theophilus, patriark Alexandria, kemudian memerintahkan penghancuran kuil tersebut.
Sumber-sumber kuno menyebut bahwa konflik tersebut menyebabkan Serapeum hampir seluruhnya dihancurkan. Jika masih ada koleksi manuskrip di dalamnya, sebagian mungkin ikut musnah.
Namun, penting untuk membedakan antara penghancuran Serapeum dan kehancuran Perpustakaan Alexandria utama. Keduanya merupakan institusi berbeda, meski sering digabungkan dalam cerita populer tentang hilangnya pengetahuan kuno.
(BACA JUGA: Mengenal Barry Building, Bangunan Bersejarah yang Ditelantarkan)
BENARKAH PASUKAN MUSLIM MEMBAKAR SEMUA BUKU?

(Foto: lithub.com)
Legenda lain menyebut bahwa setelah pasukan Arab menaklukkan Alexandria pada abad ke-7 Masehi, Khalifah Umar memerintahkan pembakaran seluruh buku yang tersisa.
Dalam cerita tersebut, gulungan papirus digunakan sebagai bahan bakar untuk menghangatkan pemandian selama berbulan-bulan. Namun, kisah ini kini secara luas ditolak oleh para sejarawan modern.
Cerita tersebut baru muncul dalam sumber yang jauh lebih belakangan, sekitar abad ke-13. Selain itu, tidak ada bukti kuat bahwa koleksi besar Perpustakaan Alexandria masih bertahan hingga penaklukan Arab pada 641–642 Masehi.
Legenda tersebut kemungkinan berkembang dalam konteks polemik keagamaan pada Abad Pertengahan.
Sejumlah sejarawan menilai bahwa cerita itu digunakan untuk menggambarkan umat Muslim sebagai pihak yang menolak pengetahuan dari budaya lain, padahal gambaran tersebut tidak sesuai dengan banyak bukti mengenai tradisi intelektual dunia Islam pada masa itu.
JADI, SIAPA YANG MENGHANCURKAN PERPUSTAKAAN ALEXANDRIA?

(Foto: nationalgeographic.com)
Jawaban paling masuk akal adalah: tidak ada satu pelaku tunggal.
Kebakaran pada masa Julius Caesar mungkin menghancurkan sebagian koleksi. Konflik agama mungkin memusnahkan Serapeum. Perubahan politik, menurunnya dukungan kerajaan, bencana alam, dan pengabaian kemungkinan mempercepat hilangnya institusi tersebut.
Bahkan, istilah “kehancuran Perpustakaan Alexandria” sendiri mungkin terlalu menyederhanakan kenyataan.
Perpustakaan tersebut bisa saja mengalami beberapa tahap kemunduran, dengan sebagian koleksi hilang dalam kebakaran, sebagian rusak karena usia dan sebagian lain berpindah atau berhenti digunakan.
(Kirana Putri, foto: nationalgeographic.com)
