Apakah Duchess of Kent Adalah Pelopor Dopamine Dressing?

Jauh sebelum istilah dopamine dressing populer, Katharine, Duchess of Kent, sudah dikenal lewat gaya penuh warna, floral dan pastel yang terasa ceria.

Ketika istilah dopamine dressing semakin populer dalam dunia fashion, tren mengenakan pakaian berwarna cerah untuk meningkatkan mood ternyata bukan sesuatu yang benar-benar baru.

Salah satu sosok yang mungkin sudah melakukannya sejak puluhan tahun lalu adalah Katharine, Duchess of Kent.

Sepanjang hidupnya sebagai anggota keluarga kerajaan Inggris, Katharine dikenal memiliki gaya yang feminin dan penuh warna. Lemarinya dipenuhi pastel pink, kuning, biru, floral dress, twin set, hingga cape coat yang memberikan kesan ceria tanpa kehilangan sisi elegannya.

Pilihan warna tersebut juga kerap berpadu dengan rambut pirangnya, membuat penampilannya terlihat semakin ringan dan playful.

Bahkan ketika menghadiri acara-acara resmi, Katharine tidak selalu memilih warna gelap atau siluet konservatif yang identik dengan gaya royal pada masanya.

Salah satu ciri khasnya adalah kecintaannya terhadap motif bunga. Floral bukan hanya muncul sebagai detail kecil, tetapi sering menjadi bagian utama dari keseluruhan penampilannya.

Tidak mengherankan jika Tatler menggambarkan gaya Katharine sebagai bentuk fashion yang penuh affection dan mampu membawa suasana ceria dalam berbagai kesempatan.

(BACA JUGA: 5 Perhiasan Paling Ikonik yang Pernah Dipakai Keluarga Kerajaan Inggris)

(Foto: tatler.com)

Menariknya, gaya tersebut terasa sangat dekat dengan konsep dopamine dressing yang populer saat ini.

Istilah tersebut biasanya digunakan untuk menggambarkan cara berpakaian yang memanfaatkan warna, motif, atau pakaian yang disukai seseorang untuk menciptakan perasaan positif.

Tentu, Katharine tidak pernah menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan gaya berpakaiannya. Namun, jika melihat kembali arsip penampilannya, ada pola yang cukup jelas. Yakni, warna-warna cerah dan motif feminin menjadi bagian konsisten dari personal style-nya.

Gaya Katharine juga tidak berhenti pada era tertentu. Salah satu penampilannya yang terkenal adalah ketika ia mengenakan gaun floral biru dari Erdem pada pernikahan Duke and Duchess of Sussex pada 2018.

Setahun kemudian, desain yang sama kembali dikenakan oleh Catherine, Princess of Wales, saat menghadiri Chelsea Flower Show.

Pilihan tersebut memperlihatkan bagaimana personal style Katharine tetap terasa relevan bahkan ketika dikenakan oleh generasi royal berikutnya. Bukan karena pakaiannya mengikuti tren tertentu, tetapi justru karena ia memiliki ciri khas yang konsisten.

Di luar fashion, Katharine juga dikenal memiliki sisi yang cukup berbeda dari citra royal yang formal. Ia meninggalkan sebagian besar tugas kerajaan pada 2002 dan kemudian bekerja sebagai guru musik di sebuah sekolah dasar di Hull.

Di sana, ia dikenal sebagai Mrs. Kent dan memilih menjalani kehidupan yang jauh lebih privat.

(BACA JUGA: Formula Pop of Color untuk Tampil Memikat)

(Foto: vanityfair.com)

Katharine sendiri meninggal dunia pada September 2025 pada usia 92 tahun. Namun, arsip gaya yang ditinggalkannya menunjukkan satu hal menarik: personal style tidak selalu harus mengikuti tren untuk terasa relevan.

Kadang, warna-warna yang membuat kita merasa lebih bahagia justru bisa menjadi signature yang bertahan selama puluhan tahun.

Jadi, apakah Duchess of Kent benar-benar original dopamine dresser? Mungkin kita tidak bisa memberinya gelar tersebut secara harfiah.

Tetapi melihat kembali wardrobe penuh pastel, floral, dan warna cerahnya, sulit untuk tidak melihat betapa dekatnya gaya Katharine dengan cara kita memahami dopamine dressing hari ini.

(Kirana Putri, foto: westminstercathedral.org.uk)

Share