Ashwagandha: Manfaat, Efek Samping dan Cara Konsumsinya

Ashwagandha adalah jenis adaptogen populer yang diklaim membantu mengelola stres, tetapi tidak cocok untuk semua orang.

Dalam beberapa tahun terakhir, ashwagandha menjadi salah satu suplemen wellness yang paling banyak dibicarakan.

Mulai dari TikTok hingga podcast kesehatan, tanaman herbal yang telah digunakan dalam pengobatan Ayurveda selama ribuan tahun ini sering disebut sebagai solusi untuk mengatasi stres, meningkatkan kualitas tidur, hingga membantu menjaga fokus.

Namun di balik popularitasnya, para ahli mengingatkan bahwa ashwagandha bukanlah suplemen yang cocok untuk semua orang.

Ashwagandha atau Withania somnifera merupakan tanaman yang berasal dari India dan sebagian wilayah Asia Selatan. Dalam praktik Ayurveda, tanaman ini dikenal sebagai adaptogen, yaitu kelompok tanaman yang dipercaya membantu tubuh beradaptasi terhadap stres fisik maupun mental.

APA ITU ADAPTOGEN?

Adaptogen adalah senyawa alami yang diyakini membantu tubuh mempertahankan keseimbangan ketika menghadapi tekanan.

Menurut para praktisi kesehatan yang diwawancarai Byrdie, adaptogen bekerja dengan mendukung respons tubuh terhadap stres sehingga seseorang dapat merasa lebih tenang dan lebih mampu menghadapi tantangan sehari-hari.

Ashwagandha termasuk salah satu adaptogen yang paling banyak diteliti hingga saat ini.

DAPAT MENGELOLA STRES

Manfaat ashwagandha yang paling sering dibahas adalah kemampuannya membantu mengurangi stres. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ashwagandha dapat membantu menurunkan kadar kortisol, yaitu hormon utama yang dilepaskan tubuh saat mengalami stres.

Menurut herbalis dan ahli akupunktur Natazia zu Stolberg, salah satu alasan ashwagandha populer adalah karena potensinya dalam membantu menyeimbangkan kadar kortisol.

Ketika kadar kortisol terlalu tinggi dalam jangka panjang, seseorang dapat mengalami gejala seperti kecemasan, gangguan tidur, hingga kelelahan.

(BACA JUGA: Lymphatic Drainage, Ritual Wellness yang Viral di Media Sosial)

BERPOTENSI MENINGKATKAN FOKUS DAN FUNGSI KOGNITIF

Selain mendukung manajemen stres, beberapa penelitian awal juga menunjukkan bahwa ashwagandha dapat membantu meningkatkan fokus, memori dan kejernihan mental.

Byrdie melaporkan bahwa sejumlah studi menemukan hubungan antara konsumsi ashwagandha dan peningkatan performa kognitif pada kelompok tertentu.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penelitian yang ada masih terbatas dan diperlukan studi yang lebih besar untuk mengonfirmasi manfaat tersebut.

BISA MEMBANTU TIDUR LEBIH NYENYAK

Banyak orang mulai mengonsumsi ashwagandha karena berharap mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.

Dalam salah satu studi yang dikutip Byrdie, kelompok lansia yang mengonsumsi ashwagandha selama 12 minggu menunjukkan peningkatan kualitas tidur dibandingkan dengan kelompok yang menerima plasebo.

Para peneliti juga mencatat adanya peningkatan ketajaman mental pada kelompok tersebut. Karena efek relaksasinya, sebagian orang memilih mengonsumsi ashwagandha pada malam hari.

Namun ada juga yang menggunakannya di pagi hari untuk membantu mengurangi rasa cemas dan meningkatkan ketenangan sepanjang hari.

MANFAAT LAIN YANG MASIH DITELITI

Selain stres dan tidur, penelitian awal menunjukkan bahwa ashwagandha mungkin memiliki manfaat lain.

Seperti membantu mengurangi peradangan, mendukung kesehatan jantung, membantu mengontrol kadar gula darah, meningkatkan kekuatan otot, serta mendukung kesehatan seksual pada pria dan wanita.

Namun sebagian besar temuan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum dapat dianggap sebagai manfaat yang benar-benar terbukti.

APAKAH ADA EFEK SAMPINGNYA?

Meski sering dipromosikan sebagai bahan alami, ashwagandha tetap dapat menimbulkan efek samping.

Menurut para ahli, efek samping yang paling umum meliputi gangguan pencernaan seperti mual, diare, dan rasa tidak nyaman pada perut. Risiko ini biasanya meningkat jika dikonsumsi dalam dosis yang terlalu tinggi.

Selain itu, sebagian orang juga melaporkan sakit kepala dan rasa kantuk setelah mengonsumsi ashwagandha. Karena itu, penting untuk memperhatikan bagaimana tubuh bereaksi, terutama jika baru pertama kali mencobanya.

TIDAK DIBUAT UNTUK SEMUA ORANG

Salah satu hal yang paling sering ditekankan para ahli adalah pentingnya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi ashwagandha.

Ashwagandha dapat berinteraksi dengan sejumlah obat, termasuk obat penenang, obat diabetes, obat tiroid dan obat yang memengaruhi sistem imun.

Orang dengan gangguan autoimun atau masalah tiroid juga perlu berhati-hati karena suplemen ini dapat memengaruhi kondisi mereka.

Para ahli juga tidak merekomendasikan penggunaan ashwagandha selama kehamilan karena terdapat kekhawatiran terkait risiko terhadap janin.

Selain itu, beberapa laporan medis dalam beberapa tahun terakhir mengaitkan penggunaan ashwagandha dosis tinggi atau jangka panjang dengan kasus cedera hati yang jarang terjadi.

Karena itu, penggunaannya sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan atau tanpa pengawasan profesional kesehatan.

(BACA JUGA: Viral di TikTok, Apakah Cortisol Face Itu Real?)

CARA MENGONSUMSI ASHWAGANDHA

Ashwagandha tersedia dalam berbagai bentuk. Mulai dari kapsul, gummy, bubuk, teh, hingga tincture. Tidak ada satu waktu konsumsi yang dianggap paling tepat untuk semua orang.

Menurut Byrdie, mereka yang ingin mendapatkan manfaat relaksasi dan tidur biasanya memilih mengonsumsinya pada malam hari. Sementara itu, sebagian orang menggunakannya di pagi hari untuk membantu mengelola stres dan kecemasan sepanjang aktivitas harian.

PERLUKAH MENGONSUMSI ASHWAGANDHA?

Ashwagandha memang menunjukkan potensi yang menjanjikan, terutama dalam membantu tubuh mengelola stres dan meningkatkan kualitas tidur. Namun, penting untuk diingat bahwa suplemen ini bukan solusi instan untuk semua masalah kesehatan.

Para ahli menekankan bahwa pola makan seimbang, aktivitas fisik yang teratur, tidur yang cukup dan pengelolaan stres yang baik tetap menjadi fondasi utama kesehatan.

Jadi, kalau kamu tertarik mencoba ashwagandha, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa suplemen ini sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan kamu.

(Kirana Putri, foto: clevelandclinic.org)

Share