WHAT HAPPENED TO #BIEBERCHELLA?
Dari semua gimmick yang jadi bagian dari aksi panggungnya, terselip sebuah pertanyaan besar yang akhirnya, menjadi bahan diskusi di kalangan penonton: kenapa YouTube?
Jawabannya mungkin lebih dari sekadar gimmick artistik. Bieber diketahui telah menjual hak cipta katalog musiknya (sejak awal debut hingga yang dirilis tahun 2021. Artinya, ia sudah dia tidak lagi menerima royalti penampilan untuk lagu-lagu lamanya.
Karena itu, jika ia perform menggunakan rekaman studio originalnya, ada kemungkinan royalti mengalir ke pihak lain.
Memutar lagu-lagu dari YouTube sebagai konten publik yang sudah tersedia, disebut menjadi cara yang setidaknya di permukaan, mengakali situasi itu. Belum ada konfirmasi resmi soal ini, tapi logikanya cukup masuk akal untuk membuat banyak orang di internet mengangkat alis.
Katy Perry bahkan ikut berkomentar soal momen YouTube tersebut, dengan bercanda: “Thank God he has Premium. I don’t wanna see no ads”. Sebuah komentar ringan yang justru menggambarkan betapa absurd sekaligus manusiawi momen tersebut.
SATU PANGGUNG, DUA STANDAR
Kalau soal YouTube, masih bisa diperdebatkan sebagai keputusan artistik atau bisnis. Tetapi pertanyaan berikutnya terasa lebih tajam.
Perbandingan langsung muncul antara set Bieber yang stripped-back dengan penampilan Sabrina Carpenter yang penuh teatrikal di malam sebelumnya. Perbedaan ini memicu perdebatan di media sosial soal apakah artis perempuan bisa lolos dengan pendekatan seminimalis itu?
Jawabannya, bagi banyak orang, sudah jelas. “Male mediocrity privilege is real,” tulis salah satu pengguna X, merespons fakta bahwa Bieber adalah artis dengan bayaran tertinggi di festival itu, namun tampil tanpa produksi berarti, tanpa koreografi dan tanpa persiapan visual yang signifikan.
Seorang pengguna lain membandingkan Bieber yang berusia 32 tahun dengan Lady Gaga yang tampil luar biasa di usia 36. Seolah menegaskan bahwa usia bukan alasan, melainkan soal standar yang berbeda.
Standar ganda ini bukan isu baru di industri musik. Artis perempuan hampir selalu dituntut datang dengan full production. Mulai dari koreografi, kostum, storytelling visual, hanya untuk dianggap kalau penampilannya “worth it”.
Sementara artis laki-laki sering mendapat ruang untuk hadir lebih stripped-down dan tetap dianggap autentik, bahkan berani.
HEALING ERA ATAU BARE MINIMUM?
Narasi ini juga tidak sesederhana itu. Karena di sisi lain, ada kubu yang melihat malam itu dengan cara yang berbeda.
Banyak fans lama justru memuji penampilan itu sebagai comeback yang healing. Karena penuh nostalgia, jujur dan tidak memaksakan diri menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
“Dia tidak memaksakan mesin produksi besar yang bisa membakarnya lagi. Sebaliknya, dia duduk bersama masa lalunya,” tulis salah satu penggemar di X. Dan menurut MOSTEAM, ada benarnya juga.
Bieber bukan artis yang sedang di puncak siklus promosi dengan tim besar di belakangnya. Dia adalah seseorang yang baru saja melalui tahun yang “transformatif” setelah mengakhiri beberapa persahabatan dekat dan sempat membuat posting-an Instagram yang mengkhawatirkan soal perasaan “tidak layak”.
KESIMPULAN #BIEBERCHELLA
Coachella bukan hanya comeback konser bagi Bieber. Ini adalah pernyataan bahwa dia masih ada, masih bernyanyi dan masih mencoba. Tapi apakah itu cukup untuk panggung sebesar itu, dengan bayaran sebesar itu?
Yang paling menarik dari semua kontroversi ini sebetulnya bukan soal Justin Bieber itu sendiri. Tapi soal apa yang kita harapkan dari seorang artis yang kembali setelah bertahun-tahun berjuang?
Apakah kita ingin melihat spektakel? Atau kita ingin melihat manusia? Apakah kita menerapkan standar yang sama pada semua artis, terlepas dari jenis kelaminnya? Atau ada dua buku aturan yang berbeda yang berjalan beriringan di industri yang sama?
#BIEBERCHELLA tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi mungkin, di balik semua perdebatan soal laptop, YouTube dan USD 10 juta, ada momen kecil yang luput dari perhatian banyak orang.
Seorang pria di atas panggung, menyanyikan lagu-lagunya sendiri bersama versi mudanya di layar. Kembali ke platform yang pertama kali memberinya suara. Seolah sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa sebelum semua ini menjadi industri, sebelum kontrak dan hak cipta dan manajer, ada anak kecil yang hanya ingin bernyanyi.
Dan malam itu, mungkin itulah yang sedang dia lakukan.
(Rendy Aditya, foto: rollingstone.com)
