Keputusan menjalani facelift bukan hanya tentang garis wajah yang mulai berubah, tapi juga kondisi kesehatan, ekspektasi, motivasi, hingga kesiapan menghadapi masa pemulihan juga perlu dipertimbangkan.
Ketika prosedur estetika semakin sering dibicarakan di media sosial, facelift mulai terasa seperti pilihan yang semakin umum.
Banyak orang membagikan pengalaman sebelum dan sesudah operasi, sementara sebagian lainnya mulai bertanya-tanya apakah mereka juga sudah membutuhkan prosedur tersebut.
Namun, menurut sejumlah ahli bedah plastik yang diwawancarai Harper’s Bazaar mengatakan, tidak ada usia ideal yang berlaku untuk semua orang.
Kesiapan menjalani facelift lebih ditentukan oleh kondisi anatomi wajah, hal yang ingin diperbaiki, kesehatan, serta ekspektasi pribadi. Bukan sekadar angka usia.
Salah satu tanda seseorang mulai mempertimbangkan facelift adalah ketika perubahan pada wajah sudah tidak cukup ditangani dengan prosedur nonbedah.
Leslie Kim, ahli bedah plastik wajah di Ohio, mengatakan bahwa sebagian pasien mulai merasa wajah mereka terlihat lelah meskipun sebenarnya sedang merasa baik-baik saja. Ada juga yang merasa penampilan mereka di foto tidak lagi sesuai dengan cara mereka melihat diri sendiri.
Sementara itu, Luis Macias, ahli bedah plastik dari Los Angeles, menjelaskan bahwa sebagian besar pasien facelift masih berada di usia 40-an hingga 50-an. Pada fase ini, perubahan anatomi wajah biasanya mulai terlihat lebih jelas, seperti:
- Pipi yang mulai turun.
- Munculnya jowling atau kulit kendur di sepanjang garis rahang.
- Garis rahang yang tidak lagi setegas sebelumnya.
- Kulit leher yang mulai mengendur.
- Perubahan volume wajah yang tidak lagi bisa dikoreksi secara optimal dengan perawatan nonbedah.
Meski begitu, usia yang lebih muda bukan berarti terlalu dini untuk menjalani facelift.
Menurut Lyle Leipziger, kepala bedah plastik di North Shore University Hospital dan LIJ Medical Center, penggunaan obat GLP-1 yang dapat menyebabkan penurunan berat badan signifikan juga membuat sebagian orang mengalami kulit berlebih dan kehilangan volume wajah lebih cepat.
Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat membuat seseorang mempertimbangkan face and neck lift lebih awal dari yang sebelumnya mereka bayangkan.
(BACA JUGA: 9 Kebiasaan Idol K-Pop dalam Menjaga Kulit dari Jerawat)
Selain perubahan anatomi, kualitas kulit turut memengaruhi hasil facelift. Kulit yang masih memiliki kondisi kolagen dan elastin yang lebih baik cenderung dapat pulih dengan lebih cepat dan memberikan hasil yang lebih optimal.
Namun, ini bukan berarti semakin muda seseorang, semakin baik hasil operasinya. Setiap orang memiliki kondisi jaringan, riwayat kesehatan, serta kebutuhan yang berbeda.
“Usia hanyalah angka” mungkin terdengar klise. Tetapi dalam konteks facelift, kalimat tersebut memang cukup relevan. Dokter perlu melihat kondisi wajah secara menyeluruh, bukan hanya menentukan kelayakan berdasarkan tahun kelahiran.
APA ITU FACELIFT?

(Foto: magnific.com/magnific)
Facelift sendiri merupakan proses memperbaiki kulit wajah yang masuk ke dalam kategori operasi besar. Karena masuk kategori operasi besar, maka proses pemulihannya juga tidak sembarangan.
Karena itu, kondisi kesehatan fisik menjadi salah satu faktor utama sebelum seseorang dinyatakan siap menjalani prosedur.
Beberapa kondisi, seperti diabetes yang tidak terkontrol, gangguan pembekuan darah dan tekanan darah tinggi, dapat menjadi penghambat untuk operasi elektif.
Kebiasaan merokok juga menjadi perhatian besar karena nikotin dapat menghambat aliran darah ke jaringan yang sedang dalam proses penyembuhan dan meningkatkan risiko masalah pada kulit.
Dokter juga dapat meminta pasien menghentikan konsumsi obat atau suplemen tertentu yang berpotensi mengencerkan darah, seperti ibuprofen, vitamin E dan minyak ikan.
Kondisi autoimun serta masalah kulit tertentu juga perlu dievaluasi lebih lanjut karena dapat memengaruhi proses penyembuhan dan pembentukan jaringan parut.
Namun, kesiapan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Motivasi dan kondisi psikologis juga sama pentingnya.
Facelift sebaiknya dilakukan karena seseorang ingin penampilannya terasa lebih selaras dengan cara ia melihat dirinya sendiri, bukan karena tekanan pasangan, perubahan hidup besar, krisis pribadi, atau harapan bahwa operasi akan menyelesaikan masalah di luar penampilan.
(BACA JUGA: Skin Barrier Repair Kini Jadi Fokus Banyak Skincare Brand. Apa Penyebabnya?)

(Foto: magnific.com/magnific)
Seperti yang dijelaskan Kim, facelift dapat mengangkat dan memosisikan kembali jaringan wajah yang mengalami penuaan.
Prosedur ini dapat memperbaiki garis rahang dan leher, tetapi tidak dapat menghentikan proses penuaan, menciptakan kesempurnaan, atau menjamin seseorang terlihat 20 tahun lebih muda.
Jika kamu mulai penasaran dengan facelift, langkah pertama yang disarankan adalah membuat janji konsultasi dengan ahli bedah plastik bersertifikasi yang dapat dipercaya.
Konsultasi tidak harus berakhir dengan keputusan untuk menjalani operasi.
Justru, sesi tersebut seharusnya membantu pasien memahami perubahan anatomi yang sedang terjadi, bagian mana yang dapat diperbaiki, bagian mana yang memiliki keterbatasan, serta apakah facelift memang menjadi pilihan yang paling tepat.
Tidak semua masalah wajah membutuhkan facelift. Kehilangan volume mungkin lebih sesuai ditangani dengan filler, sedangkan tekstur kulit, noda dan kerutan superfisial bisa menjadi area yang lebih cocok untuk perawatan laser.
Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat merekomendasikan kombinasi prosedur, seperti facelift dengan CO2 resurfacing, blepharoplasty, brow lift, dermabrasi, pengencangan otot leher, atau fat grafting.
Namun, pilihan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Salah satu hal yang sering diremehkan dari facelift adalah masa pemulihan. Kesiapan menjalani prosedur ini bukan hanya tentang menginginkan hasil akhir, tetapi juga tentang bersedia melewati proses penyembuhan yang tidak selalu nyaman.
Setelah operasi, pasien dapat mengalami:
- Bengkak
- Memar
- Rasa kencang pada wajah
- Mati rasa sementara
- Asimetri sementara
- Perubahan penampilan yang terasa asing sebelum wajah mulai terlihat pulih
Sebagian pasien mungkin sudah cukup siap tampil di depan publik dalam waktu sekitar tiga hingga empat minggu. Namun, proses penyembuhan dapat terus berlangsung selama berbulan-bulan.
(BACA JUGA: Teknik Gua Sha, Benarkah Bisa Bikin Pipi Tirus?)

(Foto: magnific.com/magnific)
Pasien juga membutuhkan waktu, dukungan orang terdekat dan ruang emosional untuk beristirahat tanpa merasa harus segera terlihat “normal”.
Perasaan ragu atau menyesal sesaat setelah operasi juga bukan hal yang selalu berarti hasilnya buruk. Ketika pembengkakan berada di tahap paling tinggi, seseorang yang akhirnya menyukai hasil facelift pun bisa merasa wajahnya belum terlihat seperti dirinya sendiri.
Sebuah studi yang disebutkan dalam artikel Harper’s Bazaar menemukan bahwa sekitar 30 persen pasien mengalami gejala depresi pada fase awal setelah facelift, yang umumnya berlangsung selama dua hingga tiga minggu. Karena itu, kesiapan mental perlu dibicarakan secara terbuka sebelum prosedur dilakukan.
Selain kesiapan fisik dan emosional, biaya juga menjadi pertimbangan besar. Dalam artikel tersebut, biaya facelift disebut dapat berkisar antara USD 20.000 hingga USD 300.000, tergantung pada dokter dan prosedur yang dijalani.
Hasil facelift yang dilakukan dengan baik umumnya dapat bertahan sekitar satu dekade. Namun, prosedur ini tidak menghentikan proses penuaan.
Seiring waktu, perubahan pada wajah tetap akan berlangsung dan sebagian orang mungkin mempertimbangkan prosedur lanjutan di masa mendatang.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro)
