Cranford Theater di New Jersey melewati pandemi, serbuan streaming, hingga plafon runtuh, tetapi tetap menemukan cara untuk membuat penonton kembali ke bioskop.
Ada masa ketika sebuah bioskop cukup membuka pintu, menjual tiket dan popcorn, lalu menunggu penonton datang. Bagi Cranford Theater di New Jersey, model tersebut sudah tidak lagi cukup.
Bioskop independen yang akan berusia 100 tahun ini justru bertahan dengan mengubah pengalaman menonton film menjadi bagian dari kehidupan komunitas.
Cranford Theater pertama kali dibuka pada 29 November 1926 dengan pemutaran film bisu Padlocked dan pertunjukan organ secara langsung.
Kini, bioskop tersebut memiliki lima layar dan menjadi bioskop independen serta bisnis keluarga terakhir di Union County, New Jersey.
Pemiliknya, Doreen Sayegh, berencana merayakan usia satu abad bioskop tersebut dengan kembali memutar Padlocked sebagai bagian dari perayaan ulang tahun.
Sayegh sendiri tumbuh bersama bisnis bioskop keluarganya. Ayahnya, Jesse Y. Sayegh, membeli Cranford Theater pada 1997 ketika tempat tersebut masih memiliki dua layar, lalu membukanya kembali sebagai bioskop lima layar setahun kemudian.
Sayegh sudah menjual popcorn sejak berusia delapan tahun dan tiket film sejak usia 11 tahun, sebelum akhirnya bekerja sebagai usher, kasir box office, hingga manajer bioskop.
Pada 2019, Sayegh mengambil alih operasional Cranford Theater dan melakukan renovasi sebelum membukanya kembali pada November tahun yang sama. Namun beberapa bulan kemudian, pandemi COVID-19 membuat bioskop harus berhenti beroperasi.
Alih-alih menunggu keadaan kembali normal, Sayegh mengubah area parkir menjadi drive-in theater dan bahkan menjual popcorn serta permen kepada keluarga yang datang mengambil makanan untuk dibawa pulang.
Salah satu pemutaran drive-in mereka bahkan langsung sold out dalam 90 detik hingga server penjualan tiket sempat mengalami gangguan.
(BACA JUGA: Carnegie Deli Kembali ke New York Setelah 10 Tahun Tutup)
Setelah pandemi, tantangan baru muncul. Streaming membuat penonton semakin terbiasa menonton film dari rumah, sementara aksi mogok penulis dan aktor Hollywood pada 2023 ikut memengaruhi pasokan film ke bioskop.
Sayegh menyadari bahwa membuat orang meninggalkan sofa dan kembali duduk di kursi bioskop membutuhkan alasan yang lebih besar daripada sekadar film yang sedang tayang.
Karena itu, Cranford Theater mulai memperluas programnya. Selain film baru dan film independen, bioskop ini mengadakan pertunjukan komedi, resital piano, festival film, hingga pemutaran film klasik yang dikemas sebagai acara komunitas.
Strateginya sederhana. Bukan hanya menjual film, tetapi menciptakan alasan bagi orang untuk berkumpul dan mengalami sesuatu bersama.
Namun perjalanan tersebut kembali diuji pada April 2025 ketika sebagian plafon bioskop runtuh. Tidak ada korban dalam kejadian tersebut, tetapi Cranford Theater harus ditutup selama tujuh bulan.
Pada 26 November 2025, bioskop itu akhirnya kembali dibuka dengan lampu marquee dan neon signage yang kembali menyala.
Kini, Sayegh juga memanfaatkan hubungan Cranford dengan industri film lokal New Jersey. Bioskop tersebut telah menayangkan film-film yang diproduksi di kawasan tersebut, termasuk Presence karya Steven Soderbergh yang mengambil lokasi di Cranford, serta menjadi tempat untuk pemutaran film yang melibatkan produksi dan komunitas lokal.
Bagi Sayegh, kehadiran produksi film di kota kecil juga membawa dampak bagi bisnis sekitar karena para pemain dan kru ikut mengunjungi restoran dan kedai kopi setempat.
Menjelang ulang tahunnya yang ke-100, Cranford Theater pada akhirnya bukan hanya mempertahankan sebuah bangunan tua. Bioskop ini mempertahankan gagasan bahwa menonton film masih bisa menjadi pengalaman sosial.
Di tengah pilihan streaming yang semakin banyak, strategi tersebut mungkin justru menjadi salah satu alasan mengapa sebuah bioskop independen masih bisa bertahan hingga generasi berikutnya.
(Rendy Aditya, foto: nj.com)
