Digital Nomad Makes Everybody Mad!

Bukan cuma di Indonesia, kehadiran digital nomad ternyata juga membuat banyak warga lokal dari berbagai negara resah.

Publik Tanah Air belakangan dibuat geram oleh kasus komunitas lari Entourage Run di kawasan Canggu, Bali, yang diduga mendiskriminasi warga negara Indonesia.

Kontroversi bermula dari tangkapan layar percakapan yang menunjukkan calon peserta ditolak bergabung hanya karena berstatus WNI, sementara pendaftar dari negara lain justru diterima.

Entourage sendiri mengaku terjadi kekeliruan sistem dan menghentikan sementara seluruh kegiatannya.

Namun, kasus ini berujung serius setelah Direktorat Jenderal Imigrasi menjatuhkan sanksi penangkalan terhadap dua warga negara asing asal Belanda yang teridentifikasi sebagai penyelenggara acara tersebut.

Dirjen Imigrasi Hendarsam Marantoko bahkan menegaskan bahwa tidak boleh ada negara di dalam negara. Sembari menyebut event lari tersebut sebagai bentuk nyata dari fenomena itu.

Meski viral dan memicu amarah publik Indonesia, fenomena ketegangan antara warga lokal dan komunitas digital nomad sebenarnya bukan hal baru dan jelas bukan cuma terjadi di Bali.

Di Mexico City, gelombang digital nomad asal Amerika Serikat yang tertarik pada biaya hidup lebih murah memicu protes besar warga lokal soal gentrifikasi, hingga memunculkan grafiti bertuliskan “Gringo Go Home” di berbagai sudut kota.

Rentetan protes serupa juga terjadi di Lisbon, Barcelona dan Chiang Mai, Thailand, tiga destinasi favorit lain para digital nomad dunia. Di Lisbon, kawasan seperti Alfama yang dulunya jadi tempat warga lokal menikmati kopi dan pastéis de nata kini nyaris didominasi bahasa asing.

Sementara di Chiang Mai, yang dijuluki “ibu kota digital nomad dunia,” riset menunjukkan kehadiran nomad asing memicu kenaikan harga sewa yang membuat warga lokal berpenghasilan normal makin sulit menjangkau hunian di kawasan favorit mereka sendiri.

(BACA JUGA: Menurut Media AFAR, Ini 10 Destinasi Terbaik untuk Solo Traveling)

Menariknya, akar masalah di berbagai negara ini ternyata cenderung serupa. Riset internasional menyebut para digital nomad umumnya berasal dari negara dengan ekonomi jauh lebih kuat.

Sehingga daya beli mereka jauh melampaui warga lokal di destinasi yang mereka tinggali, memicu ketimpangan harga sewa dan gentrifikasi yang meminggirkan penduduk asli.

Seorang mantan digital nomad yang sempat tinggal dua tahun di Chiang Mai bahkan mengaku menyadari dirinya hidup dalam “bubble ekspatriat”. Sebuah lingkaran sosial yang serba nyaman dan terisolasi, sementara teman-teman lokalnya perlahan tergusur dari kawasan yang dulu mereka tinggali.

Pola yang sama juga terlihat di Mexico City dan Lisbon. Di mana destinasi yang awalnya dianggap murah dan otentik perlahan berubah menjadi eksklusif dan mahal begitu menjadi favorit para pekerja jarak jauh asing ini.

Dari Canggu hingga Chiang Mai, dari Roma Norte hingga Alfama, fenomena “digital nomad makes everybody mad” ini menegaskan satu hal.

Konsep bekerja dari mana saja yang terdengar bebas dan romantis di media sosial, nyatanya menyimpan konsekuensi nyata bagi warga lokal yang harus menanggung dampaknya sehari-hari.

Kasus Entourage di Bali hanyalah satu potongan kecil dari masalah yang jauh lebih besar dan sudah lama terjadi di berbagai belahan dunia.

(Rendy Aditya, foto: linkedin.com)

Share