Jack Antonoff Sebut Kreator Musik AI “Godless Whores,” Perdebatan soal AI di Industri Musik Makin Panas

Produser langganan Taylor Swift itu menyebut penggunaan AI dalam musik sebagai bentuk “fake art” yang menghilangkan makna proses kreatif.

Jack Antonoff tidak menahan pendapatnya soal penggunaan AI dalam industri musik.

Produser yang dikenal lewat kolaborasinya bersama Taylor Swift, Lana Del Rey dan Lorde itu baru-baru ini melontarkan kritik keras terhadap kreator musik berbasis AI lewat unggahan panjang di Instagram. Bahkan, ia menyebut mereka sebagai “Godless whores.”

Dalam tulisannya, Antonoff mengatakan bahwa musik seharusnya tetap menjadi proses yang “acak”, emosional dan manusiawi. Bukan sesuatu yang dioptimalkan oleh teknologi agar lebih cepat atau lebih mudah dibuat.

Ia juga menyebut AI-generated music sebagai bentuk “fake making art”. Komentar tersebut langsung memicu perdebatan baru soal posisi AI dalam dunia musik.

Beberapa musisi memang mulai terbuka menggunakan AI untuk membantu proses kreatif, mulai dari generating sound ideas sampai songwriting assistance. Namun, di sisi lain, semakin banyak artis yang merasa AI justru menghilangkan inti dari seni itu sendiri.

Antonoff sendiri dikenal sebagai salah satu produser yang sangat menekankan proses kreatif organik. Dalam unggahannya, ia menyebut menulis, merekam dan memainkan musik sebagai “ancient ritual” yang tidak seharusnya dipersingkat oleh teknologi.

(BACA JUGA: Drake Pecahkan Rekor Spotify 2026 Lewat Album ‘Iceman’)

Dan Antonoff bukan satu-satunya.

Sebelumnya, SZA juga sempat mengkritik AI music karena dianggap mulai merugikan musisi asli, terutama artis Black music yang karyanya sering dijadikan referensi tanpa kontrol atau kompensasi yang jelas.

Meski begitu, tidak semua musisi anti-AI. Beberapa nama seperti Boy George justru melihat AI sebagai tools baru yang bisa membantu eksplorasi kreatif.

Perdebatan ini menunjukkan satu hal: industri musik sedang memasuki fase yang sangat aneh.

Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan akses kreatif yang lebih luas. Tapi di sisi lain, banyak musisi mulai mempertanyakan apakah karya yang dibuat mesin masih bisa dianggap punya “jiwa” yang sama dengan musik yang lahir dari pengalaman manusia.

(Rendy Aditya, foto: billboard.com)

Share