Dari healing digital sampai keinginan reconnect dengan alam, camping kini berubah menjadi gaya traveling yang semakin diminati banyak orang.
Dulu, camping adalah sebuah kegiatan menginap di luar ruangan yang identik dengan sesuatu yang ribet. Tidur di tenda, mandi seadanya, makan seadanya, banyak serangga, dan hal-hal lainnya.
Belum lagi kalau cuaca tidak mendukung. Misal tiba-tiba hujan. Kebayang kan betapa ribetnya saat camping?
Tapi belakangan, persepsinya mulai berubah. Camping kini justru menjadi salah satu gaya traveling yang kembali populer bahkan di kalangan orang yang sebelumnya lebih terbiasa dengan hotel atau resort nyaman.
Menurut laporan Kampgrounds of America yang dikutip National Geographic, lebih dari 52 juta rumah tangga di Amerika Utara melakukan camping sepanjang 2025, dengan jutaan orang mencobanya untuk pertama kali. Dan menariknya, tren ini bukan cuma soal alam.
Salah satu alasan camping semakin diterima adalah karena definisinya ikut berubah.
Kalau dulu camping identik dengan survival dan hidup seadanya, sekarang spektrumnya jauh lebih luas. Mulai dari traditional tent camping, camper van, glamping, sampai cabin stay di tengah alam.
Artinya, orang tidak harus menjadi “anak gunung” untuk menikmati pengalaman outdoor. Banyak orang modern justru mulai melihat camping sebagai bentuk escapism yang lebih sederhana dan pelan dibanding liburan biasa.
(BACA JUGA: Ingin Menepi Sebentar dari Hidup yang Ramai? Coba Kunjungi Tempat-tempat Ini)
RECONNECT DENGAN ALAM DI ERA OVERSTIMULATED
Menurut U.S. National Park Service, salah satu alasan utama orang pergi camping adalah keinginan untuk terputus dari teknologi dan terhubung kembali dengan alam maupun orang-orang terdekat.
Dan mungkin itu terasa semakin relevan sekarang. Karena hidup modern semakin penuh notifikasi, layar dan overstimulation. Bahkan traveling pun kadang terasa terlalu padat itinerary dan terlalu fokus pada konten.
Camping menawarkan kebalikannya. Tidak banyak distraksi, ritmenya lebih lambat dan sering kali tidak ada yang benar-benar “harus dilakukan”.
Menariknya, banyak orang yang mulai camping sekarang bukan berasal dari background outdoor.

(Foto: magnific.com/freepik)
Dalam artikel lain, National Geographic menyebut banyak keluarga modern sebenarnya menyukai alam. Namun, mereka hanya tidak pernah benar-benar tahu cara memulai camping. Dan itu relatable.
Karena untuk banyak orang urban, camping terasa intimidating. Seperti harus punya gea, takut tidak nyaman, hingga bingung mulai dari mana. Makanya sekarang muncul banyak bentuk “soft camping” yang lebih accessible.
Mulai dari guided camping trip, rental gear, glamping, sampai curated campsite dengan fasilitas lengkap. Camping tidak lagi dijual sebagai tantangan ekstrem, tapi sebagai pengalaman untuk pelan-pelan kembali dekat dengan alam.
(BACA JUGA: Deretan Museum Unik di Jakarta, Cocok untuk City Tour Saat Long Weekend)
DARI TRAVELING KE HEALING
Salah satu pemicu meningkatnya minat camping adalah banyak orang mulai shifting. Di mana liburan bukan lagi sekadar menikmati tempat-tempat viral. Tapi lebih ke dampak emosional yang hadir pasca liburan. Alias healing.
Sekarang, semakin banyak orang mencari sesuatu yang lebih sederhana. Tenang, sunyi dan tidak terlalu ramai. Dan camping menawarkan itu dengan cara yang cukup unik. Karena pada akhirnya, camping bukan hanya tentang tidur di alam terbuka. Tapi tentang merasakan hidup tanpa terlalu banyak distraksi meski hanya untuk beberapa hari.
Mungkin itu alasan kenapa camping kembali terasa menarik sekarang. Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh layar, tidur di bawah langit malam tiba-tiba terasa seperti kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh itinerary mewah sekalipun.
(Rendy Aditya, foto: magnific.com/jcomp)
