Kolagen Vegan Versus Hewani, Mana yang Lebih Efektif?

Baik kolagen hewani atau vegan, keduanya memiliki kelebihan berbeda. Mulai dari efektivitas hingga faktor keberlanjutan.

Kolagen telah menjadi salah satu bahan yang paling populer dalam dunia kecantikan dan kesehatan. Protein yang secara alami terdapat di dalam tubuh ini berperan penting dalam menjaga elastisitas kulit, kesehatan sendi, hingga kekuatan tulang.

Namun, seiring meningkatnya minat terhadap pola hidup berbasis nabati, muncul pertanyaan baru. Apakah kolagen vegan bisa memberikan manfaat yang sama seperti kolagen hewani?

Menurut ahli gizi Melissa Pfeister dan nutrition coach Karla De Epstein yang diwawancarai Byrdie, perbedaan terbesar antara keduanya terletak pada sumber dan cara kerjanya.

Kolagen hewani mengandung kolagen yang sebenarnya, sementara sebagian besar produk kolagen vegan tidak mengandung kolagen sama sekali. Sebaliknya, produk tersebut berisi nutrisi yang membantu tubuh memproduksi kolagennya sendiri.

APA ITU KOLAGEN HEWANI?

Kolagen hewani berasal dari jaringan hewan seperti sapi, babi dan ikan. Bentuk yang paling umum ditemukan dalam suplemen adalah kolagen bovine (sapi) dan marine collagen (ikan). Menurut De Epstein, kolagen ikan bahkan memiliki bioavailabilitas yang tinggi sehingga lebih mudah diserap tubuh dibandingkan dengan beberapa sumber kolagen lainnya.

Karena mengandung kolagen asli, maka kolagen jenis ini memiliki dukungan penelitian yang lebih banyak terkait manfaatnya terhadap elastisitas kulit, hidrasi, serta kesehatan sendi.

Berbagai studi juga menunjukkan bahwa suplementasi kolagen hewani dapat membantu mengurangi tampilan garis halus dan mendukung kesehatan jaringan ikat.

(BACA JUGA: Ingin Kulit Tetap Kenyal? Ini 7 Cara Meningkatkan Produksi Kolagen Menurut Ahli)

APA ITU KOLAGEN VEGAN?

Meski sering disebut “kolagen vegan”, istilah ini sebenarnya bisa sedikit menyesatkan. Kolagen tidak ditemukan secara alami pada tumbuhan. Sebagian besar produk yang dipasarkan sebagai kolagen vegan berisi vitamin, mineral, asam amino dan antioksidan yang mendukung proses produksi kolagen alami di dalam tubuh.

Vitamin C menjadi salah satu bahan yang paling umum digunakan karena berperan penting dalam sintesis kolagen. Selain itu, banyak produk juga mengandung silica, asam amino dan ekstrak tumbuhan yang berfungsi sebagai collagen builders atau pendukung pembentukan kolagen.

MANA YANG LEBIH EFEKTIF?

Jika tujuan utamanya adalah mendapatkan kolagen secara langsung, para ahli menilai kolagen hewani masih memiliki keunggulan.

Hal ini karena tubuh menerima peptida kolagen yang siap digunakan, sementara kolagen vegan bekerja secara tidak langsung dengan menyediakan bahan baku untuk produksi kolagen alami.

Namun, bukan berarti kolagen vegan tidak efektif. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa produk berbasis vitamin C dan nutrisi pendukung lainnya tetap dapat membantu meningkatkan produksi kolagen dalam tubuh.

Hanya saja, hasilnya cenderung bergantung pada kondisi kesehatan, pola makan, dan kemampuan tubuh masing-masing individu dalam menyerap nutrisi tersebut.

“Produk kolagen vegan membantu tubuh mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kolagennya sendiri,” jelas De Epstein.

Dengan kata lain, pendekatannya berbeda dari kolagen hewani yang memberikan kolagen secara langsung.

FAKTOR KEBERLANJUTAN DAN ETIKA

Selain efektivitas, banyak konsumen mempertimbangkan aspek lingkungan dan etika saat memilih suplemen kolagen.

Produksi kolagen hewani bergantung pada industri peternakan dan perikanan, yang sering dikaitkan dengan emisi gas rumah kaca serta isu kesejahteraan hewan. Kondisi inilah yang mendorong meningkatnya minat terhadap alternatif berbasis tumbuhan.

Bagi mereka yang menjalani pola makan vegan atau vegetarian, kolagen vegan tentu menjadi pilihan yang lebih sesuai. Selain bebas bahan hewani, produk ini juga dianggap lebih sejalan dengan gaya hidup berkelanjutan.

(BACA JUGA: Perbedaan AHA, BHA da PHA untuk Pemula)

MASA DEPAN KOLAGEN VEGAN

Menariknya, perkembangan teknologi mulai menghadirkan generasi baru kolagen vegan. Beberapa perusahaan bioteknologi kini mengembangkan kolagen biomimetik yang dibuat melalui proses fermentasi menggunakan mikroorganisme.

Produk ini dirancang untuk meniru struktur dan fungsi kolagen manusia tanpa menggunakan bahan hewani. Penelitian awal menunjukkan hasil yang menjanjikan, meski teknologi tersebut masih relatif baru dibandingkan dengan kolagen konvensional.

JADI, MANA YANG LEBIH BAIK?

Pilihan terbaik pada akhirnya bergantung pada kebutuhan dan preferensi masing-masing. Jika Anda mencari manfaat yang didukung oleh lebih banyak penelitian dan tidak memiliki pantangan terhadap produk hewani, kolagen hewani mungkin menjadi pilihan yang lebih praktis.

Namun, jika Anda mengutamakan faktor etika, keberlanjutan, atau menjalani pola makan berbasis tumbuhan, kolagen vegan tetap dapat menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan.

Yang terpenting, para ahli mengingatkan bahwa suplemen kolagen bukanlah solusi tunggal untuk kesehatan kulit.

Pola makan seimbang, perlindungan dari sinar matahari, tidur yang cukup dan gaya hidup sehat tetap menjadi fondasi utama untuk menjaga produksi kolagen alami tubuh seiring bertambahnya usia.

(Kirana Putri, foto: magnific.com/freepik)

Share