Seorang perempuan dikabarkan mengalami luka bakar dan lepuhan di kedua kakinya setelah tanpa sadar mengusap jus jeruk nipis ke kulit.
Liburan keluarga yang seharusnya menyenangkan justru berubah menjadi pengalaman yang menyakitkan bagi Madison Reeves, perempuan berusia 29 tahun asal Texas, Amerika Serikat.
Saat berlibur di Cancun, Meksiko, Madison mengaku hanya menikmati beberapa gelas bir yang disajikan dengan potongan jeruk nipis. Tanpa berpikir panjang, ia memeras jeruk nipis tersebut lalu mengusap sisa airnya ke kedua kaki yang terkena cipratan.
Keesokan harinya, kulit di kakinya mulai terasa perih, memerah, hingga akhirnya muncul lepuhan besar yang sangat menyakitkan.
Melansir dari poeple.com, awalnya, Madison mengira dirinya mengalami reaksi alergi. Ia bahkan menggambarkan bercak merah di lututnya berbentuk seperti kelopak bunga.
Namun, setelah ibunya mencari informasi di internet, mereka menemukan bahwa kondisi tersebut dikenal sebagai phytophotodermatitis, yang lebih populer dengan sebutan margarita burn.
Nama itu muncul karena kondisi ini sering terjadi setelah seseorang memegang jeruk nipis untuk membuat atau menikmati margarita, kemudian terpapar sinar matahari.
Meski terdengar seperti luka bakar akibat panas, margarita burn sebenarnya merupakan reaksi kimia pada kulit. Menurut Healthline, jeruk nipis mengandung senyawa alami bernama furocoumarin.
Ketika senyawa tersebut menempel di kulit lalu terkena sinar ultraviolet A (UVA), terjadi reaksi yang merusak sel-sel kulit.
Akibatnya, kulit dapat mengalami kemerahan, rasa terbakar, lepuhan, hingga meninggalkan bekas kehitaman yang bisa bertahan selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
(BACA JUGA: Butterfly Syndrome, Penyakit Genetik Langka yang Bikin Kulit Rapuh)
Reaksi serupa juga bisa dipicu oleh beberapa tanaman lain seperti lemon, seledri, buah ara, adas dan peterseli liar.
Dalam kasus Madison, lepuhan di kakinya membuatnya harus menghindari sinar matahari dan kolam renang selama sisa liburannya. Seorang dokter yang ditemuinya menyarankan penggunaan petroleum jelly dan perban untuk melindungi lepuhan hingga sembuh.
Madison mengatakan rasa sakitnya berkurang setelah luka ditutup karena kulitnya tidak lagi bergesekan langsung dengan udara. Meski begitu, ia mengaku liburannya tidak bisa dinikmati sepenuhnya akibat kondisi tersebut.
Para ahli menyebut gejala margarita burn biasanya tidak muncul seketika. Ruam umumnya mulai terlihat dalam waktu 24 jam setelah paparan, lalu berkembang menjadi lepuhan satu hingga dua hari kemudian.
Pada kasus ringan, gejalanya dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, jika lepuhan cukup luas atau terasa sangat nyeri, penderitanya disarankan segera memeriksakan diri ke dokter untuk mencegah infeksi dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Untungnya, kondisi ini sebenarnya dapat dicegah dengan cara yang sederhana. Jika tangan atau kulit terkena air jeruk nipis, lemon, atau tanaman lain yang mengandung furocoumarin, segera cuci area tersebut menggunakan sabun dan air sebelum beraktivitas di bawah sinar matahari.
Menggunakan tabir surya dan pakaian yang menutupi kulit juga dapat membantu mengurangi risiko terjadinya reaksi.
Madison pun berharap pengalamannya bisa menjadi pengingat bagi orang lain agar lebih berhati-hati saat menikmati minuman atau menyiapkan makanan berbahan jeruk di bawah terik matahari.
“Aku pasti akan lebih berhati-hati mulai sekarang,” ujarnya.
(Kirana Putri, foto: parade.com)
