Fenomena berbicara dengan chatbot AI untuk melewati proses duka, membuat para ahli mengingatkan adanya risiko emosional dan etika yang tidak bisa diabaikan.
Kecerdasan buatan kini tidak hanya digunakan untuk membantu pekerjaan atau menjawab pertanyaan sehari-hari. Dalam beberapa tahun terakhir, AI juga mulai dimanfaatkan untuk menghadapi kehilangan orang terkasih.
Melalui teknologi yang dikenal sebagai griefbot, pengguna dapat berinteraksi dengan chatbot yang meniru gaya berbicara, kepribadian, hingga suara seseorang yang telah meninggal.
Fenomena ini semakin mendapat perhatian setelah Rolling Stone mengulas bagaimana teknologi tersebut mulai mengubah cara sebagian orang memaknai proses berduka.
Griefbot bekerja dengan memanfaatkan jejak digital seseorang, seperti pesan singkat, email, rekaman suara, foto, hingga unggahan media sosial.
Data tersebut kemudian digunakan untuk melatih model AI agar mampu merespons percakapan dengan gaya yang menyerupai orang yang telah meninggal.
Hasilnya bukan sekadar arsip digital, melainkan pengalaman yang terasa seperti sedang berbincang dengan sosok tersebut.
Bagi sebagian orang, teknologi ini memberikan rasa nyaman.
Ada yang menggunakannya untuk mengucapkan hal-hal yang belum sempat disampaikan semasa hidup, sementara yang lain merasa terbantu karena masih bisa “mendengar” kata-kata penyemangat dari sosok yang mereka rindukan.
Di Korea Selatan, misalnya, sejumlah perusahaan bahkan menawarkan layanan video AI yang menampilkan orang yang telah meninggal menyampaikan pesan kepada anggota keluarganya.
Beberapa keluarga mengaku pengalaman tersebut terasa mengharukan dan membantu mereka memproses kehilangan.
Namun, tidak semua pakar melihat perkembangan ini sebagai sesuatu yang positif. Sejumlah psikolog dan peneliti etika mempertanyakan apakah interaksi yang terlalu realistis justru dapat menghambat proses menerima kenyataan bahwa seseorang telah tiada.
Dalam proses berduka, penerimaan terhadap kehilangan merupakan bagian penting. Jika AI membuat seseorang merasa hubungan itu masih berlangsung, ada kekhawatiran proses tersebut justru menjadi lebih panjang atau semakin rumit.
Selain persoalan psikologis, muncul pula pertanyaan tentang etika. Siapa yang berhak membuat versi digital seseorang setelah ia meninggal?
Apakah seseorang dianggap telah memberikan persetujuan hanya karena semasa hidupnya aktif mengirim pesan atau mengunggah foto di media sosial?
Para peneliti menilai regulasi mengenai penggunaan data orang yang telah meninggal masih tertinggal dibandingkan dengan perkembangan teknologi AI yang berlangsung sangat cepat.
Di sisi lain, para ahli juga mengingatkan bahwa chatbot AI bukanlah pengganti dukungan profesional untuk menghadapi kehilangan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa chatbot dapat memberikan respons yang terdengar empatik, tetapi tidak selalu mampu mengenali kondisi psikologis yang kompleks atau memberikan pendampingan yang tepat ketika pengguna mengalami krisis emosional.
Karena itu, AI sebaiknya dipandang sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti keluarga, teman, atau tenaga kesehatan mental.
Perkembangan griefbot menunjukkan bahwa AI kini mulai menyentuh aspek kehidupan yang paling personal: hubungan antarmanusia dan cara kita menghadapi kehilangan.
Teknologi ini mungkin dapat memberi kenyamanan bagi sebagian orang, tetapi juga menghadirkan pertanyaan baru tentang batas antara mengenang dan mempertahankan masa lalu.
Di tengah kemampuan AI yang semakin menyerupai manusia, tantangan terbesarnya bukan lagi soal apakah teknologi ini bisa melakukannya, melainkan apakah kita benar-benar siap hidup berdampingan dengan bentuk kenangan yang baru.
(Kirana Putri, foto: magnific.com/freepik)
