Fenomena financial parentification membuat sebagian generasi muda mengambil peran yang seharusnya berada di pundak orangtua.
Ketika membahas burnout pada millennials dan Gen Z, perhatian biasanya tertuju pada pekerjaan.
Budaya hustle, target yang terus meningkat, ketidakpastian karier, hingga tekanan ekonomi sering dianggap sebagai penyebab utama mengapa banyak generasi muda merasa lelah secara mental.
Namun bagi sebagian orang, sumber tekanan sebenarnya sudah ada jauh sebelum mereka memasuki dunia kerja. Tekanan itu berasal dari rumah.
Bagi sebagian millennials dan Gen Z, memasuki usia dewasa tidak hanya berarti mulai membangun karier atau merencanakan masa depan. Pada saat yang sama, mereka juga harus menghadapi tanggung jawab yang perlahan berpindah dari orangtua ke pundak mereka.
Mulai dari membantu kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan saudara, membayar utang keluarga, hingga menjadi sumber penghasilan utama ketika orangtua tidak lagi mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga.
Dalam budaya Asia, termasuk Indonesia, membantu orangtua sering kali dianggap sebagai bentuk bakti. Banyak anak yang dengan sukarela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk keluarga, dan hal tersebut tentu bukan sesuatu yang salah.
Namun, para psikolog membedakan antara membantu dan menanggung. Ada titik ketika seorang anak tidak lagi sekadar memberikan dukungan, tetapi menjadi pihak yang bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup seluruh keluarga.
Di sinilah muncul sebuah konsep yang dikenal dalam psikologi sebagai financial parentification.
(BACA JUGA: Dikejar Target Financial Freedom, Bikin Gen Z & Millennials Cemas)
APA ITU FINANCIAL PARENTIFICATION?
Istilah ini merujuk pada situasi ketika anak mengambil tanggung jawab finansial yang seharusnya berada di tangan orangtua.
Konsep parentification sendiri pertama kali diperkenalkan oleh psikolog keluarga Ivan Boszormenyi-Nagy pada akhir 1960-an untuk menjelaskan kondisi ketika anak mengambil peran orang dewasa di dalam keluarga.
Jika sebelumnya istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan beban emosional, para ahli kini juga banyak membahas bentuk finansialnya.
Financial parentification dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang harus menjadi pencari nafkah utama keluarga di usia muda. Ada yang menanggung biaya hidup orangtua setelah pensiun tanpa persiapan keuangan yang memadai.
Ada pula yang baru mengetahui keberadaan utang keluarga ketika mereka sudah cukup dewasa untuk diminta ikut menyelesaikannya.
Dalam banyak kasus, beban tersebut hadir bukan karena pilihan pribadi, melainkan karena situasi yang membuat mereka merasa tidak memiliki alternatif lain.
Yang membuat kondisi ini begitu berat bukan hanya persoalan uang. Ada beban psikologis yang sering kali berjalan bersamaan.
Ketika seseorang merasa masa depan keluarganya bergantung pada dirinya, keputusan-keputusan yang bagi orang lain mungkin terasa sederhana menjadi jauh lebih rumit.
Keinginan untuk pindah pekerjaan, melanjutkan pendidikan, mengambil risiko dalam karier, atau bahkan beristirahat sejenak sering kali harus dikompromikan dengan kebutuhan keluarga yang lebih mendesak.
Penelitian mengenai parentification menunjukkan bahwa individu yang mengalami kondisi ini cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mengalaminya.
Mereka juga lebih rentan mengalami kecemasan, perasaan bersalah, serta kesulitan menetapkan batasan dalam hubungan dengan keluarga.
Dalam jangka panjang, sebagian orang bahkan membawa pola tersebut ke berbagai aspek kehidupan lainnya, termasuk hubungan romantis dan cara mereka memandang tanggung jawab.
Hal ini mungkin menjelaskan mengapa burnout pada generasi muda tidak selalu bisa dipahami hanya dari konteks pekerjaan.
Ketika seseorang datang ke kantor sambil memikirkan tagihan rumah, biaya pengobatan orangtua, kebutuhan adik, atau utang keluarga yang harus dibayar, kapasitas mentalnya sebenarnya sudah terpakai bahkan sebelum hari kerja dimulai.
Apa yang terlihat sebagai kelelahan akibat pekerjaan sering kali merupakan akumulasi dari berbagai tekanan yang datang dari banyak arah sekaligus.
(BACA JUGA: Bukdong, Fenomena “Malas Kerja” di Korea Selatan yang Maknanya Lebih Dalam dari Itu)
Di sisi lain, fenomena ini juga menantang stereotipe yang selama ini sering dilekatkan pada millennials dan Gen Z.
Dalam beberapa tahun terakhir, generasi muda kerap dianggap lebih mudah burnout, lebih sensitif, atau kurang tangguh dibanding generasi sebelumnya.
Namun, narasi tersebut sering kali mengabaikan konteks yang lebih besar. Banyak generasi muda saat ini memasuki usia dewasa di tengah biaya hidup yang terus meningkat, harga properti yang semakin sulit dijangkau, ketidakpastian ekonomi, serta tanggung jawab keluarga yang muncul jauh lebih awal dari yang mereka perkirakan.
Tentu saja, tidak semua orangtua dengan sengaja mewariskan beban kepada anak-anak mereka. Dalam banyak situasi, mereka juga merupakan korban dari kondisi ekonomi, keputusan hidup, atau keterbatasan yang mereka hadapi pada masanya.
Karena itu, pembahasan mengenai financial parentification bukan tentang mencari siapa yang harus disalahkan. Yang lebih penting adalah memahami bahwa ada sebagian generasi muda yang memulai hidup dewasanya dari titik yang berbeda.
Mereka tidak hanya sedang membangun masa depan untuk diri mereka sendiri, tetapi juga berusaha memperbaiki atau menopang sesuatu yang sudah ada sebelum mereka mengambil peran tersebut.
Mungkin karena itulah banyak millennials dan Gen Z merasa lelah dengan cara yang sulit dijelaskan.
Bukan karena mereka tidak mampu menghadapi tekanan, melainkan karena sebagian dari mereka sedang memikul beban yang tidak pernah benar-benar mereka pilih.
Dan ketika beban itu berlangsung selama bertahun-tahun, kelelahan yang muncul bukan lagi sekadar soal pekerjaan atau manajemen waktu, tetapi tentang bagaimana rasanya terus berjalan sambil membawa tanggung jawab yang seharusnya tidak seluruhnya berada di pundak mereka.
(Rendy Aditya, foto: magnific.com/freepik)
