Dari Blossom with Love sampai Nineteen to Twenty, ini tontonan yang bikin kamu percaya lagi sama kesederhanaan cinta.
Siapa yang tidak kenal dengan dating show Korea? Dalam beberapa tahun terakhir, format ini menjelma menjadi salah satu konten hiburan paling adiktif di dunia dan Indonesia bukan pengecualian.
Show-show seperti Heart Signal, EXchange, hingga Single’s Inferno telah menjadi fenomena global dengan memadukan romansa, realita, dan storytelling khas Korea. Pesertanya tampan dan cantik, chemistry-nya terasa nyata, editing-nya rapi, semuanya terasa sempurna untuk ditonton.
Tapi kalau kamu sudah cukup lama mengikuti genre ini, ada satu pola yang mungkin mulai kamu sadari: drama. Cemburu yang meledak tanpa alasan jelas, perasaan yang disembunyikan berminggu-minggu, momen toxic yang dibungkus estetika cantik dan konflik yang seolah tak ada habisnya.
Semuanya entertaining tapi kadang juga melelahkan. Dan di tengah semua “kerumitan” itu, ada satu subgenre yang justru menawarkan sesuatu yang berbeda: dating show dengan peserta remaja dan anak muda.
Vibe-nya beda. Caranya beda. Dan entah kenapa, terasa jauh lebih… menyegarkan.
Di balik ramainya dating show Korea untuk orang dewasa, ada beberapa show yang memilih untuk menyorot cinta di usia yang lebih muda dan hasilnya sungguh berbeda. Seperti Blossom with Love, My Flirt Vacation, sampai When Our Kids Fall in Love.
Ketiganya punya satu benang merah yang sama: kesederhanaan yang terasa autentik. Tidak ada villa mewah dengan drama rebutan perhatian, tidak ada konfrontasi tengah malam yang berlarut-larut. Yang ada hanyalah perasaan yang tumbuh pelan-pelan, diungkapkan dengan cara yang paling jujur dan justru di situlah letak daya tariknya.
Inilah yang bikin nonton dating show remaja ini jadi pengalaman tersendiri. Mereka tidak bermain-main dengan perasaan. Kalau suka, bilang suka. Kalau tidak tertarik, mundur dengan sopan tanpa drama berlarut-larut.
Tidak ada strategi rumit untuk “menjaga image“, tidak ada kalkulasi panjang tentang siapa yang sebaiknya didekati demi posisi aman di dalam kelompok. Para penonton bahkan berkomentar bahwa editing show ini terasa adil dan tidak memberi ruang untuk “evil editing”.
Sesuatu yang sering terjadi di dating show dewasa di mana produksi kerap memotong adegan untuk menciptakan narasi dramatis.
(BACA JUGA: Penampilannya di ‘Running Man’ Dikritik, Song Ji Hyo Ungkap Akan Hiatus Sebentar)

Yang paling menarik? Mereka berani untuk frankly speaking. Mengungkapkan perasaan secara langsung, bahkan di tengah ketidakpastian dan rasa gugup yang jelas-jelas terlihat di wajah mereka.
Brutal honest, tapi disampaikan dengan cara yang tidak menyakiti. Dan ketika ada konflik, biasanya selesai dalam satu percakapan. Bukan diseret jadi arc drama tiga episode.
Tapi kenapa bisa begitu? Dari sisi psikologi, ada penjelasan yang cukup menarik di balik perbedaan cara remaja dan orang dewasa menjalani romansa. Orang dewasa datang ke hubungan dengan “koper” yang lebih berat.
Pengalaman masa lalu yang menyakitkan, ketakutan akan penolakan, ego yang perlu dijaga, hingga tekanan sosial soal kapan harus serius dan ke mana arah hubungan ini. Semua pertimbangan itu, yang sebetulnya lahir dari kedewasaan dan pengalaman, justru sering kali menjadi tembok yang mempersulit koneksi yang tulus.
Sementara peserta dating show usia remaja hingga awal 20-an, berada di masa transisi di mana terlalu dewasa untuk merasakan cinta pertama yang polos, tapi belum cukup percaya diri untuk mengekspresikan diri sebebas orang yang lebih matang.
Dengan segala “ketidaktahuannya”, justru bergerak dari tempat yang lebih murni: rasa suka yang genuine, keberanian yang lahir dari belum punya banyak hal yang perlu dilindungi dan komunikasi yang langsung karena mereka belum belajar untuk menyembunyikan perasaan demi strategi tertentu.
Singkatnya, mereka belum punya alasan untuk mempersulit sesuatu yang sebenarnya sederhana.
Nah, kalau kamu penasaran dan ingin merasakan sendiri bedanya, berikut tiga dating show remaja Korea yang wajib masuk watchlist kamu!
