Spotify menemukan lebih dari 500 ribu streaming palsu ditemukan pada satu lagu yang sempat menduduki puncak tangga lagu mereka.
Selama ini, jumlah streaming di platform musik seperti Spotify sering dianggap sebagai cerminan popularitas sebuah lagu. Namun, laporan terbaru dari WIRED menunjukkan bahwa angka tersebut ternyata bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
Spotify mengonfirmasi telah menghapus lebih dari 500 ribu streaming palsu setelah menemukan aktivitas tidak wajar pada lagu “Earrings” milik penyanyi Malcolm Todd.
Lagu tersebut sempat melonjak ke posisi teratas tangga lagu Spotify di Amerika Serikat sebelum akhirnya turun setelah data streaming diperbarui.
Kasus ini pertama kali diungkap oleh Caleb Davies, salah satu trader aktif di platform prediction market Kalshi. Ia curiga setelah melihat lonjakan jumlah streaming lagu “Earrings” yang tidak sejalan dengan pola konsumsi musik biasanya.
Kecurigaannya muncul karena saat itu terdapat kontrak taruhan di Kalshi yang memungkinkan pengguna bertaruh apakah lagu tersebut akan berhasil mencapai posisi tertentu di tangga lagu Spotify sebelum akhir bulan.
Jika seseorang mampu memengaruhi hasil tangga lagu, maka ia berpotensi memperoleh keuntungan dari taruhan tersebut.
Setelah melakukan penyelidikan, Spotify mengonfirmasi bahwa memang terdapat aktivitas artificial streaming atau streaming buatan yang dilakukan menggunakan bot.
Perusahaan kemudian menghapus lebih dari setengah juta pemutaran palsu dari sistemnya, sehingga posisi lagu tersebut ikut berubah di tangga lagu.
Meski demikian, Spotify menegaskan belum menemukan bukti bahwa manipulasi tersebut memang dilakukan untuk memengaruhi pasar taruhan. Perusahaan juga menyatakan tidak membayar royalti atas streaming yang terbukti berasal dari aktivitas tidak sah.
(BACA JUGA: Drake Pecahkan Rekor Spotify 2026 Lewat Album ‘Iceman’)
Sementara itu, Kalshi mengatakan tengah menyelidiki insiden tersebut. Platform tersebut bahkan menghapus logo Spotify dari pasar prediksinya dan menambahkan keterangan bahwa layanan mereka tidak memiliki hubungan resmi dengan Spotify.
Di sisi lain, Polymarket membantah terlibat dalam kasus ini karena lagu “Earrings” tidak termasuk dalam kontrak yang tersedia di platform mereka.
Kasus ini menjadi sorotan karena memperlihatkan tantangan baru di era digital. Selama ini, manipulasi streaming umumnya dilakukan untuk meningkatkan popularitas lagu atau menambah pendapatan dari royalti.
Namun, munculnya prediction market yang memungkinkan orang bertaruh pada performa lagu membuka kemungkinan motif baru.
Jika benar ada pihak yang sengaja meningkatkan jumlah streaming demi memengaruhi hasil taruhan, maka data yang selama ini dianggap sebagai ukuran popularitas musik bisa dimanfaatkan untuk keuntungan finansial di luar industri musik itu sendiri.
Meski motif di balik manipulasi tersebut masih belum dapat dipastikan, kasus ini menjadi pengingat bahwa metrik digital tidak selalu mencerminkan perilaku pengguna yang sebenarnya.
(Rendy Aditya, foto: tomsguide.com)
