Para ahli mengatakan ada beberapa langkah untuk membantu proses penyembuhan yang sehat dan membuat kamu cepat kembali menemukan diri sendiri.
Hampir semua orang pernah mengalami putus cinta. Meski terlihat sederhana dari luar, berakhirnya sebuah hubungan sering kali memicu emosi yang kompleks, mulai dari sedih, marah, kecewa, hingga kehilangan arah.
Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit akibat putus cinta dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan saat seseorang mengalami rasa sakit fisik.
Itulah mengapa berpisah dengan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup bisa terasa begitu menyakitkan. Namun kabar baiknya, perasaan tersebut tidak akan berlangsung selamanya.
Melansir dari situs Women’s Health, para psikolog dan relationship expert mengatakan bahwa meski tidak ada cara instan untuk move on, ada beberapa langkah yang dapat membantu proses penyembuhan berjalan lebih sehat dan efektif.
SINGKIRKAN HAL-HAL YANG JADI PEMICU
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan setelah putus adalah terus mempertahankan berbagai pengingat tentang mantan. Foto lama, hadiah, pakaian, hingga kebiasaan yang selalu dilakukan bersama dapat membuat otak terus kembali pada hubungan yang sudah berakhir.
Menurut psikolog klinis Sanam Hafeez dan sejumlah ahli hubungan yang diwawancarai Women’s Health, mengurangi pemicu semacam ini dapat membantu proses adaptasi emosional.
Tidak harus membuang semuanya secara permanen, tetapi menyimpannya untuk sementara waktu bisa memberikan ruang bagi diri sendiri untuk pulih.
BERANI MEMUTUS OTAK
Di era media sosial, putus cinta tidak selalu berarti kehilangan akses terhadap mantan. Hanya dengan beberapa klik, seseorang bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan mantan, siapa yang mereka temui, bahkan apakah mereka sudah memiliki pasangan baru.
Masalahnya, kebiasaan ini justru sering memperpanjang proses move on. Karena itu, banyak ahli menyarankan untuk menerapkan no contact period setidaknya selama beberapa waktu.
Unfollow, mute, atau bahkan block bukanlah tindakan kekanak-kanakan, melainkan cara untuk menciptakan batas yang sehat selama masa pemulihan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa terus memantau mantan melalui media sosial dapat menghambat proses penyembuhan emosional setelah putus cinta.
(BACA JUGA: Jangan Ge’er, Ini Alasan Pasanganmu Menangis Saat Tahu Kamu Selingkuh)
BERHENTI MENGIDEALKAN HUBUNGAN YANG SUDAH BERAKHIR
Ketika seseorang merindukan mantan, otak sering kali hanya mengingat bagian-bagian terbaik dari hubungan tersebut.
Momen romantis, liburan bersama, atau kenangan manis lainnya terasa jauh lebih dominan dibandingkan berbagai masalah yang sebenarnya pernah terjadi.
Menurut para ahli, salah satu cara yang cukup efektif adalah mengingat kembali alasan hubungan tersebut berakhir. Tuliskan berbagai red flags, konflik, atau hal-hal yang membuat hubungan tersebut tidak berjalan sehat.
Bukan untuk membenci mantan, tetapi untuk membantu diri sendiri melihat hubungan tersebut secara lebih realistis.
IZINKAN DIRI UNTUK BERSEDIH
Banyak orang merasa harus segera bangkit setelah putus cinta. Padahal, kehilangan hubungan yang penting dalam hidup merupakan bentuk kehilangan yang nyata dan wajar untuk diratapi.
Psikolog menyebut bahwa proses move on sering kali melibatkan fase berduka. Karena itu, menangis, merasa sedih, atau kehilangan semangat untuk sementara waktu bukanlah tanda kelemahan.
Justru menerima emosi tersebut dapat membantu seseorang memproses kehilangan dengan lebih sehat dibanding terus-menerus menekannya.
KEMBALI MENGENAL DIRI SENDIRI
Salah satu hal yang sering terjadi setelah hubungan jangka panjang berakhir adalah hilangnya sebagian identitas diri. Aktivitas, rutinitas, hingga rencana masa depan yang sebelumnya melibatkan dua orang tiba-tiba harus dijalani sendiri.
Karena itu, para ahli menyarankan untuk menggunakan periode setelah putus sebagai kesempatan untuk mengenal diri sendiri kembali.
Kembali menekuni hobi lama, mencoba aktivitas baru, atau menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman dan keluarga dapat membantu seseorang membangun identitas yang tidak lagi bergantung pada hubungan yang telah berakhir.
SALURKAN EMOSI MELALUI AKTIVITAS YANG SEHAT
Perasaan marah dan frustrasi setelah putus cinta adalah hal yang normal. Namun, yang penting adalah bagaimana emosi tersebut disalurkan.
Women’s Health menyebut olahraga sebagai salah satu cara yang direkomendasikan para ahli untuk membantu mengelola emosi pasca putus.
Aktivitas fisik tidak hanya membantu mengurangi stres, tetapi juga memberikan rasa pencapaian dan meningkatkan suasana hati melalui pelepasan endorfin.
Menulis jurnal juga dapat menjadi alternatif yang baik untuk memproses berbagai perasaan yang sulit diungkapkan.
(BACA JUGA: Being Single Should Be Fun dan Sains Membuktikannya)
FOKUS PADA MASA DEPAN, BUKAN MASA LALU
Pada akhirnya, move on bukan berarti melupakan semua kenangan atau berpura-pura hubungan tersebut tidak pernah terjadi. Sebaliknya, move on adalah proses menerima bahwa sebuah bab telah berakhir dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk melanjutkan hidup.
Penelitian mengenai pemulihan pasca putus cinta menunjukkan bahwa banyak orang justru mengalami pertumbuhan pribadi setelah melewati masa-masa sulit tersebut.
Mereka menjadi lebih memahami kebutuhan emosionalnya, memiliki batasan yang lebih sehat dalam hubungan, dan lebih mengenal diri mereka sendiri dibandingkan sebelumnya.
Mungkin tidak ada jalan pintas untuk melupakan mantan. Namun, dengan waktu, jarak dan langkah-langkah yang tepat, rasa sakit itu perlahan akan berkurang.
Dan suatu hari nanti, hubungan yang dulu terasa seperti akhir dari segalanya mungkin justru akan terlihat sebagai salah satu pelajaran paling penting dalam perjalanan hidup.
(Annisa Larasati, foto: magnific.com/jcomp)
