Putusnya Sooyoung dan Jung Kyung Ho Setelah 14 Tahun Bersama, Apakah Salah Pacaran Lama?

Menurut psikologi hubungan, pacaran lama bukan soal benar atau salah. Tapi tentang kualitas dari hubungan itu sendiri.

Beberapa hari ini, mungkin banyak dari kalian yang masih belum menerima kabar mengejutkan dari pasangan selebriti paling langgeng di Korea Selatan.

Tanggal 9 Juni 2026, nama Sooyoung Girls’ Generation dan aktor Jung Kyungho tiba-tiba jadi trending di seluruh platform. Sayangnya, bukan karena berita bahagia. Tapi karena keduanya resmi mengonfirmasi perpisahan setelah 14 tahun bersama.

Agensi Sooyoung, Saram Entertainment, menyatakan bahwa keduanya telah berpisah dan sepakat untuk tetap menjadi kolega yang baik. Agensi Jung Kyungho, Management Allum, juga membenarkan kabar tersebut.

Keduanya mulai berpacaran sejak 2012, dan secara resmi mengakui hubungan mereka ke publik pada Januari 2014. Selama lebih dari satu dekade, pasangan ini dikenal sebagai salah satu contoh hubungan paling stabil dan tulus di industri hiburan Korea Selatan hingga kabar putus itu datang dan mengejutkan banyak orang.

Wajar kalau banyak yang bertanya-tanya. Kalau mereka yang selama ini jadi couple goals saja akhirnya berpisah, apa yang sebenarnya salah? Apakah pacaran selama 14 tahun itu terlalu lama? Atau justru masalahnya bukan di durasinya, tapi di sesuatu yang lain?

PACARAN LAMA BUKAN BERARTI SEHAT ATAU TIDAK SEHAT

Dari sudut pandang psikologi hubungan, tidak ada angka ajaib yang menentukan bahwa pacaran sekian tahun itu “sehat” atau “tidak sehat”. Yang lebih menentukan adalah kualitasnya, bukan durasinya.

Riset dari American Psychological Association bahkan menemukan bahwa rasa cinta yang romantis bisa bertahan seumur hidup dan justru mendorong hubungan yang lebih bahagia dan sehat. Artinya, durasi panjang bukan musuh cinta itu sendiri.

Sebuah studi longitudinal selama sepuluh tahun yang diterbitkan dalam International Journal of Applied Positive Psychology juga menemukan bahwa pasangan dengan tingkat kepuasan hubungan yang tinggi dan stabil sejak awal, cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang kepuasannya menurun seiring waktu.

Intinya, pacaran lama yang berkualitas dan terus tumbuh bisa jadi kekuatan. Masalah mulai muncul ketika durasi yang panjang tidak disertai perkembangan.

(BACA JUGA: Zendaya Beri Isyarat Manis untuk Tom Holland Saat Kunjungi Toko Buku)

JEBAKAN PSIKOLOGI YANG SERING TIDAK DISADARI DALAM PACARAN LAMA

Relationship Stagnation

Hubungan stagnan bukan hanya karena waktu yang berlalu, tapi karena dua orang merasa terjebak dan tidak bisa berkembang. Baik sebagai individu maupun sebagai pasangan.

Harapan, ketakutan, tujuan dan minat seseorang terus berevolusi. Kalau hubungan tidak ikut berevolusi, kerenggangan hampir tidak bisa dihindari.

Fase Romantis yang Secara Alami Memudar

Riset menunjukkan bahwa fase romantis dalam hubungan hanya bertahan antara enam bulan hingga tiga tahun. Setelah itu, hubungan akan bergeser ke bentuk yang lebih companionate. Lebih tenang dan lebih terbiasa satu sama lain. Ini sebenarnya normal dan sehat, tapi sering disalahartikan sebagai “sudah tidak cinta”.

Pola Curvilinear dalam Hubungan Pacaran

Penelitian yang dipublikasikan di NCBI menemukan bahwa kualitas hubungan pacaran mengikuti pola kurvilinear. Ada fase naik, puncak, kemudian penurunan dalam berbagai aspek seperti kepuasan, komitmen dan kedekatan.

Kecemasan akan komitmen juga terbukti menjadi prediktor kepuasan yang lebih rendah justru di hubungan jangka panjang dibandingkan dengan yang masih baru.

Pacaran Panjang sebagai Substitusi Komitmen

Ini mungkin yang paling relevan dengan kasus Sooyoung dan Jung Kyung Ho. Secara psikologis, hubungan pacaran jangka panjang kadang tanpa sadar menjadi pengganti komitmen yang lebih serius.

Dua orang menikmati manfaat kebersamaan tanpa benar-benar mengikat diri pada arah yang sama untuk jangka panjang. Nyaman, tapi tidak maju.

(Foto: koreaboo.com)

Share