Harga tiket yang ditawarkan oleh T’way Air memang sangat menggoda. Tapi ketahui dulu rekam jejak maskapai ini sebelum checkout tiketnya.
Indonesia dan Korea Selatan sudah bukan sekadar dua negara yang “bersaudara” di Asia. Keduanya sudah terhubung jauh lebih dalam dari itu, lewat budaya.
K-drama yang menemani begadang, K-pop yang merajai playlist, K-beauty yang mengubah rutinitas perawatan kulit, hingga K-food yang kini hadir di mana-mana, dari restoran mewah hingga food court mal.
Berdasarkan 2024 Overseas Hallyu Survey yang dilakukan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan, Indonesia mencatat tingkat favorability tertinggi terhadap konten budaya Korea di antara 26 negara yang disurvei, yakni sebesar 86,3 persen. Angka yang tidak kecil.
Dan minat itu tidak berhenti di layar ponsel. Sebelum pandemi, sebanyak 23,3% wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan mengaku bahwa hallyu adalah alasan utama mereka melakukan perjalanan tersebut.
Pasar ini besar dan Korea tahu itu. Maka ketika sebuah maskapai asal Korea Selatan, T’way Air, resmi membuka rute langsung Jakarta-Seoul mulai 29 April 2026 dengan harga tiket mulai IDR 2 jutaan, respons publik pun langsung ramai. Tapi sebelum kamu terburu-buru klik book, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu dulu.
BACKGROUND T’WAY AIR
Bagi kebanyakan orang Indonesia, nama T’way Air mungkin masih terdengar asing. Tapi maskapai ini sebenarnya sudah punya sejarah yang cukup panjang di industri penerbangan Korea.
T’way Air adalah maskapai low-cost carrier (selanjutnya disingkat LCC) asal Korea Selatan yang berbasis di Seoul. Asal-usulnya bermula dari Hansung Airlines, yang pertama kali mendapatkan sertifikat operator penerbangan pada April 2005 dan menjadi LCC pertama di Korea Selatan.
Namun, akibat kesulitan finansial, Hansung Airlines menghentikan operasinya pada 2009 dan kemudian direstrukturisasi serta berganti nama menjadi T’way Air pada 2010.
Maskapai ini resmi beroperasi pada 8 Agustus 2010 dengan dua pesawat Boeing 737-800, memulai penerbangan domestik antara Bandara Gimpo dan Bandara Internasional Jeju.
Pada 2011, T’way mendapatkan izin operasi internasional dan rute internasional pertamanya diluncurkan ke Bangkok pada Oktober tahun yang sama. Baru pada 2013, maskapai ini untuk pertama kalinya mencatatkan keuntungan.
Ekspansi T’way terus berlanjut. Per November 2025, maskapai ini mengoperasikan armada 45 pesawat yang terdiri dari enam Airbus A330-200, empat Airbus A330-300, 26 Boeing 737-800, lima Boeing 737 MAX 8 dan dua Boeing 777-300ER, melayani sekitar 60 destinasi di seluruh dunia.
Khusus rute Jakarta-Seoul, T’way menggunakan Airbus A330-300 berkapasitas 347 kursi.
(BACA JUGA: United Airlines “Paksa” Penumpang Pakai Headphone Selama Penerbangan)
KENAPA T’WAY AIR BISA KASIH HARGA MURAH?
Pertanyaan yang paling wajar untuk diajukan adalah bagaimana mungkin tiket Jakarta-Seoul dihargai IDR 2 jutaan, sementara maskapai lain mematok harga jauh di atasnya? Jawabannya ada pada model bisnis low-cost carrier atau LCC tadi.
Berbeda dengan maskapai full-service seperti Garuda Indonesia, Korean Air, atau Asiana Airlines yang menyertakan berbagai fasilitas dalam harga tiket, maskapai LCC memangkas hampir semua biaya tambahan tersebut.
Tidak ada makan gratis, bagasi harus dibayar terpisah, kursi tidak bisa dipilih secara gratis, dan layanan di dalam pesawat sangat minim. Dengan menekan biaya operasional serendah mungkin, mereka bisa menawarkan harga dasar yang sangat kompetitif.
Selain itu, sebagai pendatang baru di rute tersebut, mereka perlu menarik perhatian dan membangun basis penumpang. Harga murah di awal adalah strategi klasik untuk masuk ke pasar baru.
Tapi di sinilah pertanyaan sesungguhnya muncul. Apakah maskapai dengan harga semurah ini bisa dipercaya?
PROS AND CONS T’WAY AIR
Ini bagian yang perlu kamu baca dengan saksama.
Pros:
- T’way Air sudah beroperasi lebih dari 15 tahun dan melayani 60 destinasi internasional, bukan maskapai baru tanpa rekam jejak.
- Rute Jakarta-Seoul menggunakan Airbus A330-300, bukan Boeing 737 yang kerap menjadi sorotan dalam berbagai insiden kecelakaan pesawat.
- T’way Air bersertifikat sebagai maskapai low-cost bintang 3 dari Skytrax untuk layanan bandara, kenyamanan kabin, katering, kebersihan kabin dan layanan awak kabin.
- Harga tiket yang sangat kompetitif untuk rute langsung tanpa transit.
Cons:
- T’way Air mendapat penurunan safety rating dari 7 menjadi 4 oleh airlineratings.com, menyusul serangkaian pelanggaran operasional dan keselamatan yang terjadi.
- Pada 2024, T’way Air didenda KRW 2 miliar atau sekitar USD 1,48 juta oleh Kementerian Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi Korea Selatan atas lima pelanggaran terpisah terkait regulasi keselamatan penerbangan yang ditemukan saat inspeksi khusus dan berkaitan dengan prosedur operasional serta perawatan pesawat.
- Poin ini perlu menjadi perhatian khusus. Pada Juli 2024, sebuah Airbus A330-300 milik T’way Air dengan nomor registrasi HL8501 di-grounded atau dibatalkan terbangnya saat sudah siap lepas landas. Alasannya karena pesawat tersebut mengidap cacat pada sistem hidrolik. Hal ini menjadi pertama kalinya sejak 2018 di mana sebuah pesawat diperintahkan keluar dari operasi karena alasan keselamatan. Nahasnya, pesawat ini adalah tipe yang sama persis dengan yang digunakan T’way Air untuk rute Jakarta-Seoul.
- Insiden teknis melonjak drastis dari 33 kasus di 2020, naik menjadi 68 di 2022 dan meledak menjadi 510 kasus di 2023. Hingga Juni 2024, sudah tercatat 315 kasus dalam setengah tahun saja.
- Ulasan penumpang terverifikasi di Skytrax mencatat minimnya respons customer service saat terjadi pembatalan atau keterlambatan, tanpa kompensasi yang memadai.
(BACA JUGA: Bandara Internasional Chicago O’Hare, Disebut Tersibuk di Tahun 2025 Sejak Dibuka)
Jadi, apakah kamu harus menghindari T’way Air sepenuhnya?
Tidak harus. Tapi kamu perlu masuk dengan ekspektasi yang tepat. Ada harga, ada konsekuensi.
Tiket IDR 2 jutaan untuk rute Jakarta-Seoul adalah nyata, tapi ia datang dengan trade-off yang juga nyata. Jangan harapkan pengalaman terbang seperti Korean Air atau Asiana Airlines yang sudah puluhan tahun membangun reputasi penerbangan full-service.
Tidak ada makan malam gratis di atas awan, tidak ada pelayanan flight attendant yang sigap dan jika ada keterlambatan atau pembatalan, jangan berharap mendapat penanganan yang mulus.
Rekam jejak keselamatan mereka juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Pelanggaran prosedur perawatan dan manipulasi catatan teknis adalah hal serius dalam industri penerbangan, terlepas dari apakah insiden fatal pernah terjadi atau tidak.
Kalau kamu adalah traveler yang fleksibel, tidak membawa banyak bagasi, tidak terlalu bergantung pada jadwal yang ketat dan mau menerima kondisi penerbangan yang no-frills, T’way Air bisa menjadi pilihan yang masuk akal untuk menekan biaya perjalanan ke Korea.
Tapi jika kamu punya rencana perjalanan yang padat, konser yang harus dikejar, atau momen penting yang tidak boleh tertunda, mungkin ada baiknya mempertimbangkan kembali.
Seperti kata pepatah lama, ada harga, ada barang. Dan dalam dunia penerbangan, itu berlaku lebih dari sekadar kata-kata.
(Rendy Aditya, foto: ptjas.co.id)
