Quiet Quitting dan Burnout, Bagaimana Gen Z Mendefinisikan Ulang Makna Bekerja?

Di tengah tekanan hustle culture yang makin intens, generasi muda memilih untuk melawan dengan cara yang lebih senyap namun bermakna.

Kamu mungkin pernah merasakannya. Duduk di depan laptop, mengerjakan tugas yang sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi ada sesuatu yang berbeda. Semangat yang dulu menggebu sekarang terasa seperti lampu yang perlahan redup.

Kamu tetap hadir, tetap mengerjakan semuanya, tapi tidak lebih dari yang diminta. Tidak ada inisiatif ekstra, tidak ada overtime sukarela, tidak ada antusiasme yang meluap-luap.

Fenomena ini punya nama. Yakni quiet quitting. Dan ini bukan sekadar tren TikTok sesaat.

Laporan Gallup tahun 2023 mencatat bahwa sebanyak 59 persen pekerja di seluruh dunia masuk dalam kategori quiet quitters. Di mana mereka yang secara fisik hadir namun secara psikologis sudah tidak terlibat.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cerminan dari sesuatu yang lebih besar: sebuah generasi yang sedang mempertanyakan ulang hubungannya dengan dunia kerja.

Untuk memahami mengapa quiet quitting meledak, kita perlu memahami apa yang datang sebelumnya: hustle culture.

Selama bertahun-tahun, narasi dominan di dunia kerja adalah grind. Kerja keras, kerja lebih, korbankan waktu tidur, korbankan akhir pekan dan kesuksesan akan datang. Generasi sebelumnya menelannya mentah-mentah.

Para baby boomers dan Gen X menempatkan loyalitas, stabilitas kerja dan pendakian tangga karier sebagai nilai tertinggi. Overworking, mengorbankan waktu pribadi dan terus mendorong diri meski kelelahan dianggap sebagai bagian dari perjuangan.

Tapi Gen Z tidak mau mengikuti pola yang sama. Sebanyak 91 persen Gen Z pernah mengalami setidaknya satu tantangan kesehatan mental atau burnout dalam perjalanan karier mereka.

Mereka melihat generasi sebelumnya bekerja tanpa henti, dan alih-alih terinspirasi, mereka justru menarik kesimpulan berbeda. Yaitu kerja keras tidak selalu menjamin keamanan, apalagi kebahagiaan.

(BACA JUGA: Sering Dianggap Buruk, Sikap-sikap Ini Justru Tanda Mental yang Sehat)

Hasilnya adalah pergeseran nilai yang signifikan. Dalam survei Deloitte terbaru, 25 persen responden Gen Z memilih pekerjaan berdasarkan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi, sementara hanya 19 persen yang memprioritaskan gaji. Bagi mereka, pemenuhan diri kini hampir setara nilainya dengan penghasilan.

Tapi apakah quiet quitting benar-benar sekadar kemalasan, seperti yang sering dituduhkan?

Tidak sesederhana itu. Gen Z tidak menolak kerja keras. Mereka justru sedang mendefinisikannya ulang dengan cara mereka sendiri, menetapkan batasan yang jelas dan memilih pekerjaan yang mendukung kesehatan mereka.

Mereka tidak ingin berhenti bekerja. Mereka ingin berhenti dieksploitasi oleh ekspektasi yang tidak realistis.

Di sinilah quiet quitting bertemu dengan sesuatu yang lebih gelap: resenteeism. Berbeda dengan quiet quitting yang soal bekerja dalam mode autopilot untuk mengurangi stres, resenteeism adalah kondisi di mana karyawan terus bekerja di posisi yang tidak memuaskan karena merasa tidak punya pilihan lain.

Mereka tidak hanya tidak terlibat, tetapi juga memendam kebencian terhadap situasi tersebut.

Data menunjukkan betapa dalamnya masalah ini berakar. Laporan Gallup tahun 2024 tentang kondisi tempat kerja global menemukan bahwa hanya 21 persen karyawan di seluruh dunia yang benar-benar terlibat dalam pekerjaan mereka. Sisanya, 79 persen, tidak terlibat atau bahkan aktif tidak terlibat.

Artinya, untuk setiap satu pekerja yang hadir sepenuhnya, ada hampir empat orang yang hanya menjalani rutinitas atau bahkan bekerja berlawanan dengan kepentingan perusahaan mereka.

Lalu apa artinya semua ini di momen Hari Buruh seperti hari ini?

Mungkin ini. Perjuangan belum selesai. Bentuknya saja yang berubah.

Para buruh di Chicago tahun 1886 berjuang untuk jam kerja yang lebih manusiawi. Mereka menginginkan waktu untuk hidup, bukan hanya untuk bekerja.

(BACA JUGA: Mengenal Soft Living, Gaya Hidup Idaman di Atas Slow Living)

Ironisnya, lebih dari satu abad kemudian, quiet quitting dan ketidakterlibatan karyawan diperkirakan merugikan ekonomi global hingga 8,9 triliun dolar AS per tahun akibat kehilangan produktivitas.

Sebuah angka yang menunjukkan bahwa meskipun jam kerja sudah lebih pendek, pertarungan untuk mendapatkan makna dalam pekerjaan masih sangat nyata.

Gen Z tidak menolak kerja keras. Mereka menolak bekerja dengan cara yang tidak berkelanjutan, dengan memilih performa yang berkualitas dan sustainable yang sesuai dengan kehidupan pribadi mereka, bukan hustle tanpa henti.

Dan mungkin itulah semangat Hari Buruh yang sesungguhnya. Bukan sekadar hak untuk bekerja, tapi hak untuk bekerja dengan bermartabat.

(Rendy Aditya, foto: magnific.com/teksomolika)

Share